Saya duduk diam dan tenang di dalam sebuah perpustakaan sekolah. Hanya saya dan penjaga perpustakaan. Kami berdua diam saja. Tidak saling berbicara. Saya harus duduk di sini kira-kira 90 menit sebelum akhirnya saya memutuskan ingin keluar.
Saya hanya terduduk di depan sebuah laptop yang sudah terkoneksi dengan internet. Menorehkan banyak kata basa-basi di dalam program yang bernama Microsoft Word. Menyenangkan untuk orang yang senang menulis seperti saya. Ini memberikan saya banyak waktu untuk berpikir.
Kerasnya batu tidak akan lebih keras dari kepalaku yang hanya dilindungi tempurung tengkorak. Orang akan berkata A dan aku akan selalu punya B yang lebih baik. Tidak peduli kalau ternyata yang B itu salah total, yang penting aku bukan seorang yang suka ikut-ikutan. Aku tidak bisa diam.
Diam itu emas, kata-kata yang sudah sangat lama kita dengar. Aku tidak yakin. Ketika kita diam, kita tidak akan mendapatkan apapun. Diam itu perlu, tetapi bukan emas. Seharusnya lebih banyak waktu kita habiskan untuk tidak diam dan berbuat segala sesuatu yang bagus, daripada diam. Emas tidak bisa didapat kalau kita hanya terdiam. Diam itu bukan emas.
I write what i see, i see what you don't see. So, i write what you don't see to make you SEE
February 15, 2012
February 12, 2012
Prinsip dasar: Take and Give
Sudah lama tidak cerita-cerita mengenai cinta-cintaan. Saya sebenarnya jarang bingung karena tidak ada ide untuk menulis, yang terjadi adalah kebanyakan ide. Tiap kali saya sedang menulis sesuatu dari ide A, ditengah-tengah menulis saya tercegat oleh ide-ide lain yang berkecamuk di pikiran saya. Maka itu, agak susah bikin artikel lama-lama.
Langsung saja kita bahas topiknya kali ini. Jadi begini, saya ini orangnya akan langsung bawel ketika saya berbicara dengan seorang perempuan dan akan langsung cerita banyak. Perempuan yang akan saya ceritakan di sini adalah seorang perempuan lucu dan imut yang sangat mengaggumi saya. Dia sangat suka cara pandang saya yang di luar pengamatan kualitatif orang mengenai pacaran dan wanita. Dia bahkan menyebut-nyebut saya sebagai ‘Guru Cinta’ atau semacam itu. Saya sih biasa saja, soalnya saya dulu juga pernah menyebut seseorang dengan panggilan itu, mungkin saya kena karma sekarang.
Saya dan perempuan centil itu sedang ngobrol lewat BBM. Tiba-tiba kami sampai pada pembicaraan mengenai prinsip dasar pacaran. Setelah sekian lama membicarakan mengenai trik-trik ajaib saya untuk mendekati perempuan, kami baru membiacarakan prinsip dasarnya waktu itu. Konyolnya, saya seperti sedang memberikan ceramah singkat melalui BBM. Lebih lucu lagi, dia lebih tua dari saya persis satu tahun, ulang tahun kami jatuh pada bulan yang sama. Si muda sedang mengajari si tua. Dan beginilah isinya..
Prinsip dasar saya waktu pacaran adalah ‘take and give’. Maksudnya adalah saya mengambil hatimu dan setelah itu saya memberikanmu hatiku. Teorinya gampang memang, tetapi kalau kita coba agak susah. Prinsip ini yang akan menentukan apakah pasanganmu itu benar-benar yang selama ini kamu cari-cari. Kalau ‘take and give’ berhasil seimbang berarti suatu hubungan yang benar sudah terjadi, dan ini jarang. Jadi jangan main-main.
Maksud saya dengan seimbang adalah ketika kamu mengambil hatinya, dia memberikannya dengan rela, dan ketika itu juga kamu sudah siap memberikan hatimu untuk dia ambil. Ini baru namanya seimbang. Untuk itu semua ada banyak persiapan. Kamu harus buat dia takjub dulu denganmu supaya dia rela memberikan hatinya untuk kamu ambil. Tidak perlu melakukan hal-hal keren. Ibu kepala sekolah saya selalu berkata ‘mulai dari yang sederhana’. Perempuan itu takjub kalau laki-lakinya rajin, pintar, pengetahuan luas, humoris, rapih, dan juga bersih. Kalau laki-laki akan takjub melihat perempuan yang nyambung diajak bicara, keibuan, tidak cerewet, dan asik. Hal-hal seperti itu seebenarnya tidak bisa dibuat umum, orang punya penilaian masing-masing, namun supaya pembaca ada gambaran saja.
Nah, kalau satu sama lain sudah sama takjubnya, tinggal ditambah kasih sayang yang lebih dan sisanya adalah reaksi kimia.
Ini adalah prinsip dasarnya, tips dan trik lebih advandced untuk berusaha mengambil hatinya dengan lebut dan melepas hatimu dengan rela, akan ada terus menerus di post-post berikutnya. Tunggu saja, cepet kok serial yang ini, ga makan waktu seumur hidup. J
February 10, 2012
Inspirator sejak tahun '45
Semenjak Indonesia merdeka, perjuangan-perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan banyak dilakukan di mana-mana dengan berbagai cara. Ada cara-cara dengan diplomasi dan juga ada cara-cara pemberontakan yang melibatkan angkatan bersenjata. Tetapi tidak semua rakyat Indonesia bisa berpartisipasi dalam kedua cara tersebut. Kedua cara tersebut hanya dilakukan oleh orang-orang terpilih yang juga sudah terlatih. Lalu, rakyat biasa yang lain apakah hanya diam saja dan menunggu hasil? Tentu tidak. Ada hal-hal yang mereka kerjakan di dalam keahliannya masing-masing.
Salah satunya seperti para seniman yang sekarang kita sebut sebagai ‘angkatan 45’. Mereka tidak berdiplomasi ke luar negeri, apalagi berperang. Mereka hanya seorang seniman. Kerja mereka hanyalah membuat karya seni seperti sebuah puisi, novel, lukisan, atau ukiran. Tetapi hebatnya, dengan hal-hal demikian mereka bisa ikut serta dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan juga membantu melegitimasi kekuasan Indonesia atas wilayah nusantara.
Cara mereka adalah dengan membuat sebuah pernyataan kehebatan bangsa Indonesia atau anti-belanda di dalam karya mereka masing-masing. Chairil Anwar dan puisinya, Pramoedya Ananta Toer dengan novelnya, Mochtar Lubis dengan berita-berita yang ditulisnya di media cetak saat itu, para pelukis dengan lukisan atau posternya, dan para pengukir dengan pantung-patungnya yang megah. Dukungan-dukungan semacam inilah yang juga menyemangati para pejuang lainnya yang berjuang lewat cara-cara yang lain.
Karena pada saat itu Indonesia adalah negara yang baru, maka karya-karya seperti ini sangat membantu rakyat Indonesia pada saat itu mengerti arti kemerdekaan dan mengerti identitas diri sebagai seorang Indonesia yang sudah merdeka. Lewat karya-karya mereka, mereka ingin menyadarkan rakyat Indonesia kalau mereka sudah dalam kondisi merdeka dan mengajak rakyat Indonesia keluar dan merayakan serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia bersama-sama.
Semangat seperti itulah yang harusnya dipertahankan sampai pada hari ini. Sebagai seorang siswa jurusan IPS yang suka menulis, saya juga ingin seperti seniman-seniman angkatan ’45. Lewat tulisan saya, saya ingin menyadarkan rakyat Indonesia sekarang kalau kita sudah dalam kondisi merdeka. Kita sudah tidak seharusnya terpuruk dalam kondisi politik dan ekonomi yang kurang tertata rapi. Rakyat Indonesia sepertinya sudah menyepelekan hal mengenai kemerdekaan dan sejarah kemerdekaan Indonesia, sehingga banyak yang tidak menghargai identitasnya sebagai orang Indonesia.
Para seniman angkatan ’45 berhasil menjalankan misinya pada saat itu. Rakyat Indonesia bangun dan saling bahu-membahu dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Kalau mereka bisa, saya juga tentunya harus bisa untuk membangunkan kembali rakyat Indonesia yang sedang dalam kondisi tidak sadar. Walaupun sumbangsihnya terlihat kecil, hanya sebuah buku, tetapi itu setidaknya sudah membuktikan saya peduli terhadap kondisi bangsa Indonesia sekarang.
Semangat orang-orang itulah yang terus menginspirasi saya untuk terus maju dan terus menulis. Akhirnya menulis bukan hanya sebuah hobi. Tetapi itu juga menjadi sebuah cara untuk saya ikut berpartisipasi dalam mengisi kemerdekaan Indonesia, seperti yang sudah sering diucapkan dalam janji siswa setiap kali saya mengikuti upacara bendera.
Subscribe to:
Posts (Atom)