Showing posts with label pacaran. Show all posts
Showing posts with label pacaran. Show all posts

May 9, 2014

Proxemics

            “Udah gue kasih tau ‘kan alasannya. Banyak kuman! Asal lu orang tau aja. Tangan orang tuh udah megang-megang apa tau ga lu? Itu kenapa kita orang ngasih salamnya begini,” anak bocah itu mengepal tangan kirinya dan menempelkan dengan telapak tangan kanannya yang lalu membungkus tangan kirinya, kemudian menundukkan badannya kepada salah seorang laki-laki yang sedang berdiri di sekelilingnya. “Gitu kata kungkung gue!” dia menegaskan sekali lagi.

            Aku berdiri tepat di depan rumahku, kira-kira 5 meter dari depan rumahnya. Anak bocah itu adalah orang Cina atau menurut peraturan presiden yang baru dia orang keturunan darah dari negara Tiongkok, alias orang Tionghoa. Masalah sepele soal penyebutan dan ketersinggungan berlebihan. Sepertinya memang itu sifat dasar mereka, ya seperti si Hua Ting ini.

            Ting dididik keras oleh kedua orang tuanya untuk bersikap selayaknya orang Tionghoa. Dia tidak pernah ingin bersalaman dengan orang lain. Jaga jarak, begitu katanya. Orang barat, si etnis lain itu, yang membuat cara aneh dalam menyambut orang lain. Apalagi kalau ternyata orang asing yang baru saja kenal dijabat tangannya, bagi Ting itu salah parah.

            “Nih ya, asal lu orang tau aja, cara kita sama mereka beda. Kita sama-sama nunduk dan pasti harus ada jarak. Artinya hormat, ya gak? Apaan tuh caranya pegang-pegang tangan gue,” protesnya lebih lanjut.

            Ting bukannya tidak ramah, tetapi memang begitulah cara dia hidup. Senyumnya pun berprinsip keras. Tidak gampang digoyah. Yang pasti ia tahu, jarak harus dijaga dan kepercayaan pada orang lain tidak boleh sembarang diberi. Kepercayaan itu harus diraih.

            Berteman dengan Ting sejak kecil membuatku mengerti akan prinsip itu. Namun, karena aku memang bukan orang Tionghoa, tentu saja aku tetap berjabat tangan. Akan aneh kalau aku tiba-tiba menyambut orang dengan gerakan itu. Kulitku coklat, wajahku sangat Jawa, dan apa kata dunia kalau aku tiba-tiba begitu?

            Sayangnya  tidak ada yang sadar, bahkan diriku sendiri, kalau ternyata prinsip itu mengubahku saat sudah lebih dewasa. Sedikit teman, lebih sedikit lagi teman dekat, dan aku selalu berusaha menjaga jarak pada laki-laki yang sangat aku suka.

***
           
           “Vic, boleh pinjem catetan Fisika kemarin ga? Aku kemarin sakit dan ga masuk,” tanyaku padanya malu-malu. Sebenarnya aku tidak terlalu butuh, namun teman-temanku memaksa. Mereka berdua sekarang sedang duduk di kursi paling belakang dan pura-pura tidak tahu.
            
           “Boleh aja. Sebentar ya,” Vico mengorek-ngorek isi tasnya, sementara aku melihat kebelakang dan memerhatikan kedua temanku yang sedang tertawa-tawa kecil. “Ini. Besok balikin, ya.”

            Tubuhnya tiba-tiba hanya berjarak sekitar 30 sentimeter dariku, aku reflek mundur satu langkah. “Oke. Makasih, Vic.”

            Pelan-pelan langkahku makin ke belakang, lalu langsung berbalik badan dan berjalan ke arah tasku.

          “Jadi gimana, Na?” mereka berdua langsung bertanya sambil berjalan ke arahku tak sabaran. “Lumayan ‘kan?” lanjut mereka.

            “Ah, biasa aja. Gitu doang,” jawabku sedikit melecehkan tantangan mereka. Padahal jantungku berdebar lumayan keras juga.

            Yuni dan Andhina memang selalu mendorong-dorongku untuk lebih dekat lagi dengan Vico. Aku sendiri merasa belum saatnya aku memasukan dia dalam lingkaran intimku, bahkan lingkaran personal. Dia masih jauh di lingkaran publik, harus 45 cetimeter atau lebih.

            Biasanya hanya sebagai objek pemandangan di saat kelas sedang membosankan atau saat dia sedang menjadi pusat perhatian saat tim Voli sekolah kami bermain.

            Aku dan kedua temanku ini juga tidak sedekat itu. Sejarang mungkin aku melakukan kontak fisik kepada mereka, seperti merangkul atau bahkan bertatap mata. Saat berbicara, biasanya mataku terpaku pada batang hidung atau dahi orang lain. Hanya pada Ayah dan Ibu dan kedua adikku saja aku menatap mata.

            Di antara begitu banyak jarak yang bisa kuatur, waktu adalah yang paling kejam. Jaraknya selalu sama, temponya teratur. Terkadang ingin lebih lama di suatu detik yang berharga, namun waktu tetap bergerak dan memakan sebuah peristiwa baru langsung menjadi sejarah. Tidak terasa, waktu membuat jarakku dan Vico menjadi lebih dekat selama dua bulan terakhir.

            Aku bahkan mempercantik diriku sendiri demi mendekatkan jarakku dan Vico. Hari ini ia akan mengajakku untuk nonton berduaan di Mal Pluit. Dia ingin mengajakku masuk ke dalam jarak intimnya, begitu pula dengan aku. Bedanya, ia melakukannya dengan polos dan aku tau apa yang sedang ingin aku lakukan.

            Saat berjalan berdampingan dengannya, jarak kami berdua hampir tidak ada. Terkadang lengan kami berbenturan. Ketika menyebrang jalan, tangannya reflek menggenggam tanganku. Perasaan yang aneh. Begitu baru, begitu kasar telapak tangannya, namun gesturnya lembut sekali. Detik yang ingin sekali kutahan sekuat tenaga, tapi apalah aku ini dihadapan sang waktu yang tak pandang bulu.

            Malam hari itu berjalan dengan luar biasa baik. Mulai dari makan malam, hingga film yang kami tonton, sampai saat ia mengantarku pulang. Perjalanan dari titik nol yang sangat halus menuju klimaks begitu juga saat kembali ke titik semula, seperti parabola yang indah.

            Begitu rasanya punya teman dekat. Jarak yang selama ini kujaga sudah lebur. Masuk ke dalam tahap baru, punya pacar.

            “Ting, gue sekarang punya pacar, lho!” aku dan Hua Ting sedang duduk di teras rumahnya. Hari Minggu yang tenang ini memang sudah biasa kami habiskan bersantai, bersahaja di sini. Jarakku dan Hua Ting tidak pernah berubah sejak dulu, selalu dua badan. Seperti mata yang jaraknya selalu satu mata, begitu kata guru seni di sekolah.

            Tubuh manusia normal itu punya ukuran yang pasti dalam seni lukis klasik. Golden Rule namanya. Tinggi tubuh kita itu sama dengan susunan delapan kepala kita, lalu telinga itu panjangnya dari mata hingga ujung hidung. Kalau semua jarak itu dilanggar, ya sudah pasti manusia itu tubuhnya tidak normal.

            “Hati-hati aja, biasanya orang sakit hati makin gampang kalo udah ga jaga jarak,” balasnya tanpa melihat ke arahku. Di hadapan kami berdua memang ada anak-anak tetangga yang suka sekali bermain sepak bola di jalan depan rumah Ting. Bermodalkan bola plastik dan dua pasang sandal sebagai gawang. Mereka semua selalu menjadi hiburan sore, aku dan Ting seperti sedang nobar (nonton bareng).

            Seperti yang kubilang sebelumnya – dan yang orang lain sudah tau tentang Ting – dia selalu mewanti-wanti dirinya kalau orang lain jangan diberi masuk ke dalam jarak yang terlalu dekat. Aku tidak heran, dulu Ibu juga pernah bilang, lambat laun semua orang akan mengecewakan kamu. Memang sih, Ibu tidak berhenti sampai di situ saja. Ibu juga bilang kalau kecewa itu bagian dari hidup, jadi harus belajar mengampuni orang lain juga.

            Tidak seperti Hua Ting, aku pikir pacaran adalah ide yang bagus. Akhirnya, aku bisa bersama laki-laki yang aku inginkan, yang aku pilih. Beberapa orang berpacaran dengan laki-laki yang memilih mereka, laki-laki yang mendekati dan membuat si perempuan jadi tertarik untuk berpacaran dengan dia. Untungnya, aku tidak.

            Kecewa atau tidak kecewa akan laki-laki ini, kiranya aku bisa memaafkan. Kalau tidak bisa lagi dimaafkan, soreku dengan Ting pasti akan lebih lama, karena aku harus mendengarkan ceramah sambil menarik-narik biji tasbih dan meditasi. Semoga Hua Ting salah.

***

            Cintaku pada Vico teratur. Selalu ada, setiap hari, seperti sinar matahari yang terbit di ufuk timur dan pamer habis-habisan kepada seluruh daratan kota saat siang hari, lalu kembali malu-malu menuju malam di sebelah barat sana.

            Sedang menopang dagu di atas meja kelas, tiba-tiba Vico mencolek dari belakang, “Kirana, nanti malem aku jemput, ya!” bisiknya. “Jangan tanya ke mana,” lanjutnya lagi.

Aku hanya balas mengangguk dan akhirnya memerhatikan Pak Bibit yang sedang menggambar tabel statistik matematika dengan mulut sedikit menganga dan tanganku menggaruk bagian belakang kepalaku. Pikiran ini kutahan-tahan untuk tidak menghayal akan tempat seperti apa yang Vico ingin ajak aku pergi atau apa yang ingin Vico lakukan padaku nanti malam atau makan apa nanti malam.

Satu lagi dari banyak hal yang Ting ajarkan padaku, jangan berekspektasi terlalu tinggi, malah kalau bisa tidak perlu berekspektasi. Biarkan saja semua mengalir sebagaimana realita ingin kejadian itu terjadi. Dalam hal ini, dan kiranya dalam hal ini saja, aku menurut pada sarannya.

Jangan salah, Ting itu tidak asal-asalan. Aku mengerti betul semua maksudnya. Isi pikirannya melebihi usianya yang masih bocah. Hanya saja, cara hidup yang ia pilih sangat dingin. Aku tidak ingin menjadi dirinya. Cinta itu penting dan mendekatkan jarak itu hangat.

Aku jadi ingat akan satu sore ketika kami melakukan hal yang biasa kami lakukan.

“Eh, Na, lu sadar gak kalo di lift, orang semua pada ngeliatin angka lantai doang?”

“Maksud lo?”

“Ya ngeliatin indikator lantai di lift, maksudnya. Trus, gak ngeliat apa-apa lagi selain itu. Gak ngeliat orang lain, biasanya diem. Kecuali kalo kenal, ya.”

“Hmm.. Iya juga ya. Emang kenapa?”

“Soalnya kita orang ada jarak sosial masing-masing. Ya ‘kan gak enak ngelirik-ngelirik. Pilihannya kalo gak ngeliat itu, ya nunduk aja,” Ting tertawa kecil. “Coba aja lu waktu masuk lift ga balik badan, tapi ngarah ke orang-orang. Pasti aneh deh,” lanjutnya sambil tertawa lebih keras.

“Bener juga ya,” sahutku sambil ikut tertawa.

Sampai saat ini, aku masih tidak tahu dari mana ia bisa punya teori-teori seperti ini. Entah buku apa yang ia baca atau dengan teman macam apa ia bergaul, pastinya dengan orang-orang pintar. Aku, si bodoh ini, pengecualian.

Sempat sekali waktu di sebuah mal aku mencoba masuk lift dan tidak membalikkan badanku ke arah pintu lift. Aku dan Vico berhadap-hadapan. Dia menatapku dengan aneh. Kami berdua cekikikan dan aku langsung membalik badanku. Tidak tahan juga, rasanya aneh. Seperti memang seharusnya kita semua balik badan saat masuk lift.

Rasa apapun yang aku miliki terhadap Vico tidak mengubah aturan budaya dan sosial di sekitarku. Jarak kami yang sudah melebur tetap menyisakan ruang untuk kewarasan sosial. Tentu saja aku tidak membiarkan ia menyentuhku di bagian-bagian sensitif, seperti pinggang, paha, dan (apalagi) payudaraku. Sebanyak apapun kami menonton film-film barat, dalam budaya sosial Timur, itu semua masih pantang rasanya.

Ketika satu saat ia mencoba menciumku tepat di bibir, aku langsung memundurkan kepalaku dan mataku melotot. “Eh, eh. Kamu mau ngapain?”

“Em, aku pikir. Em. Eh. Iya. Enggak kok. Enggak jadi,” gumamnya. Vico langsung memundurkan badannya dari sofa. Aku dan dia sedang berada di ruang tamu rumahnya. Siang itu sedang kosong, jadi kami bebas menyalakan TV dengan suara keras dan melakukan hal-hal lain.

Vico salah tingkah bukan main. Ia langsung membicarakan acara TV yang sedang berlangsung, yakni berita siang yang isinya kebakaran gedung di daerah luar Jakarta. Aku sendiri langsung membetulkan dudukku, memakukan pandanganku pada TV. Terberkatilah orang yang menciptakan TV, kiranya dia tahu betapa berfungsinya alat ini dalam suasana-suasana aneh.

Kepalaku langsung berputar-putar, berusaha menguak misteri aneh ini. Kenapa Vico bisa tiba-tiba bergerak ingin menciumku, apa yang barusan aku katakan? Jangan-jangan aku menyentuhnya di tempat-tempat sensitif secara tidak sengaja. Oh, tidak. Salah sinyal, mungkin.

Pikiranku kembali lagi, jauh ke arah utara dari rumah Vico, sekitar tujuh kilometer. Ke rumah besar berisi anak keturunan Tionghoa dengan sensitifitas sosial yang tinggi. Sialan, makiku dalam hati. Teringat jelas dalam otakku. Wajahnya yang belagu itu, bibir kecil dan tipis yang banyak bicara, mata kecil yang memandang orang lain dengan ukuran yang sama, dan rambut jabrik dengan buntut pelitnya.

Pertama kali aku kecewa dengan perlakuan Vico padaku. Namun, kali ini aku maafkan. Sore hari itu aku pulang dalam penyesalan.

***

            Kepercayaan itu harus diraih, bukan diberi. Aku tersenyum sambil telungkup di kasur, masih memikirkan kejadian tadi sore. Kapan ya Vico meraih kepercayaannya?
            
Aku berusaha mencari-cari kejadian saat dia melakukan sesuatu yang membuatku bisa sepenuhnya percaya, namun sia-sia. Apapun yang ia lakukan, ia bisa lakukan karena kepercayaannya sudah kuberi lebih dahulu. Yang duluan naksir, aku. Hm, jelas betul sekarang.

Kubalikan tubuhku telentang. Menimbang-nimbang. Kalau harus menceritakan ini ke Ting, sisi positifnya pasti tidak sebanding dengan sisi negatifnya. Kalau cerita ke Ayah dan Ibu, ah, kalau yang ini tidak perlu timbang-timbang lagi. Sudah pasti jawabannya tidak. Yuni dan Andhina mungkin bisa diajak bicara.

“Trus, trus? Gila lo! Nolak Vico? Buset deh! Gue aja deh yang dia cium,” mulut Yuni langsung bercuap-cuap seperti pantat ayam, tidak berhenti-henti. Membuat pagi hariku tidak tenang.

“Eh, jangan ngawur lo. Bisik-bisik aja, kenapa? Malu kali di denger orang,” sambarku sambil menutup mulutnya dengan tanganku. Lama-lama diperhatikan, bibirnya bikin geli sendiri. Monyong-monyong tak karuan.

“Eh, tapi,” Andhina berbisik pelan. “Si Yuni ada benernya juga. Gila lo nolak Vico! Trus gimana?”

“Ya gak gimana-gimana amat. Abis itu yang ngobrol biasa, nyantai aja kali. Yang pacaran siapa, eh yang panik malah lu berdua.”

“Ya kita berdua khawatir aja, kirain sampe putus,” balas Andhina masih berbisik. Yuni hanya mengangguk pelan sambil melirik ke Andhina, mulutnya masih kutahan dengan tanganku.

“Enggalah. Yang pasti hubungan gue sama Vico batasan jaraknya jelas. Ga boleh bablas, titik.”

***

            Denyutnya sudah berubah, tidak lagi teratur. Seperti orang yang lomba lari di tanjakan. Cepat, namun ingin melambat. Lelah sekali, tapi sayang kalau kalah. Tidak apa kalah, yang penting selesai dengan terhormat. Pastinya tidak boleh menyerah. Sekarang bukan saatnya untuk berkata tamat.

            Kagetnya memang di luar dugaan. Sakitnya tidak lagi bisa ditahan. Setiap hari, pilu hati ini menjadi beban. Dalam kepalaku ada bunyi riuh tepuk tangan. Sebuah salut kepada Ting yang benar. Aku harus kembali berguru padanya dengan tubuh setengah hancur.

Ampun, Hua Ting yang cerdas, ini diriku. Kiranya sudi ditampung. Ajari lagi tentang betapa kerasnya dunia pertemanan yang kau ajarkan dulu. Supaya ilmunya rampung. Kali ini jangan tanggung-tanggung.

Patah hati itu seperti babi, ya, Hua Ting. Hanya mau makan, tidur, dan mengorok sepuasnya. Atau seperti orang tua yang katanya mencari uang pakai tulang yang dibanting-banting. Sakit sekali, ya?

            “Ah, lu. Maklumlah, baru pertama kali. Untung aja Cuma pacaran. Coba kalo lu sama dia bisnis. Ga Cuma sakit hati, Na. Uang lu juga ludes, kira-kira begitulah,” Ting mencoba memberi penjelasan yang sama sekali tidak melegakan hati.

            “Ga tau diri! Udah bagus gue kasih masuk di jarak yang deket banget, eh minta-minta masuk lebih dalem. Giliran gak dikasih, eh, malah pergi keluar petantang-petenteng.”

            “Pengalaman hidup, ya gak?”

            “Ga adil, ah. Pengalaman lo mana, Ting? Sok tau soal hal kayak gini, padahal lo ga pernah ngerasain.”

            “Ya buat apa dirasain kalo udah tau bakal ga enak? Gelo eta mah,” lagaknya meniru-niru orang Sunda, etnis paruhannya.

            Sore hari itu, kami akhiri dengan tidur telentang di atas rerumputan hijau halaman depan rumah Ting. Sedang bulan puasa, tidak ada anak-anak yang bermain bola menjelang adzan Maghrib. Nanti cepet haus, kata salah seorang anak. Langit berwarna biru cerah dan awan membumbung seperti membentuk ombak di lautan. Tandanya ikan sedang banyak di pantai.

           “Na, lu pasti sadar deh kalo kita jaraknya selalu dua badan. Ya, kan? Nah, lu tau ga kenapa?” Ting bertanya tanpa menoleh ke arahku.

            “Karena kita bukan BFF?” candaku. Kami berdua tertawa saat itu juga.

          “Bukan, bukan. Kalo kita bukan BFF ya, lu orang ga akan masuk dan injek rumput di rumah gue. Bener deh,” katanya masih sambil sedikit tertawa. “Jadi, satu badan tuh karena lu cewe. Kalo lu cowo, pasti jarak kita setidaknya satu badan. Terus, satu badannya lagi karena kita ga sedarah. Bukan karena lu Ti Ko, maksud gue. Lu ngerti lah,” jelasnya.


            Setelah selesai bicara, dia menengok ke arahku. Aku langsung mengangguk pelan sambil masih menikmati matahari terbenam dan awan berombak. Berandai apa yang terjadi kalau langit langsung jatuh.

            “Eh, Ting. Jarak kita ke langit kenapa jauh? Ada teorinya ga tuh?” aku bertanya di tengah perenunganku.

            “Soalnya di atas itu surga. Isinya Dewa, Tuhan, Allah. Mereka itu suci, gak kayak kita. Jadi, mereka bikin jarak jauh-jauh. Kita nih kotor,” jelasnya.

            “Coba aja jaraknya langit deket sama kita, asik kali ya. Bisa pegang-pegang awan. Penasaran deh gue.”

            “Ga usah ngebet. Mana mau mereka. Mereka ‘kan gak bego.”
            
Kepalaku langsung menoleh ke kiri dengan cepat. Mataku menatap kosong pada wajah bagian kanannya. Ingin tertawa, namun aku tahu ia benar.

--- 

October 29, 2013

Heart Rock Café

                Untuk anak remaja, kegiatan yang cukup memicu jantung dan otak sekaligus dan berulang-ulang, bukan roller coaster. Mainan itu sih sudah bisa dimainkan oleh anak kecil, yang penting tingginya memenuhi syarat. Bukan juga main bola (futsal, sepak bola, basket, voli, dan olahraga dengan bola lainnya). Memang benar, keduanya memicu jantung dan otak sekaligus. Hanya saja, belum tepat.

                Ini adalah satu-satunya kegiatan yang bisa memicu jantung dan otak sekaligus dengan berulang-ulang dan memiliki efek yang gila-gilaan sampai bisa mengakibatkan kematian secara fisik maupun spiritual. Bisa membuat anak remaja, siapapun korbannya, akan berubah total dari kebiasaan yang sebelumnya ia miliki.

                Kegiatan ini memang secara umum bisa terjadi pada orang di umur berapa saja. Efeknya memang berbeda. Paling menarik dan paling heboh, tentu saja terjadi pada anak remaja. Otaknya sedang penuh terpompa oleh hormon. Kegilaan adalah hal yang anak remaja biasa lakukan. Tidak tidur, tidak makan, tidak minum, tidak belajar, tidak berhenti berlari, adalah hal-hal yang sebenarnya cukup gila, namun dianggap biasa oleh anak remaja pada umumnya.

                Terjatuh akibat aksi kegilaan mereka memang sakit, kebanyakan dari remaja mengakui hal ini, dan beberapa dari mereka tidak tahan akan sakitnya. Ada yang memutuskan untuk mengakhiri hidup, ada juga yang memutuskan untuk balas dendam kepada orang yang telah menjatuhkannya hingga sakit. Beberapa di antara mereka survive. Mereka adalah orang-orang yang tidak membuat hiperbola mengenai kejatuhan dan rasa sakit ini. Anak remaja model begitu adalah yang orang-orang yang punya keberanian untuk jadi gila lebih besar atau rasa penasaran mereka belum terpuaskan, mereka jadi lebih sayang nyawa.

                Cinta itu faktor utama kegilaan. Sumber dari segala macam kegilaan remaja terletak pada satu kata yang tidak mudah diurai seperti atom-atom kimia. Kata ini sering dibahas, sering dibuat puisi, dibuat cerita. Kebanyakan di antaranya, berakhir bahagia. Orang sering bilang, kalau kita mendapatkan yang kita cintai, maka kita bisa bahagia selama-lamanya amin.

                Di antara berbagai kecelakan yang tragis, yang bisa saja mengubah orang dari pandangan hidupnya yang lama menjadi yang lebih baru, hampir semua anak remaja menghadapi yang namanya jatuh cinta. Jatuh cinta terhadap seorang manusia lain (lain jenis atau sesama jenis persoalan yang berbeda), benda, permainan, bahkan hal-hal yang spiritual (Tuhan atau roh dari idola yang sudah mati, semacam Michael Jackson).

                Jatuh itu kata kerja dan cinta itu kata sifat. Jatuh cinta itu frasa yang menunjukkan suatu pekerjaan. Jadi benar saja, ini sebuah kegiatan. Karena cinta adalah sumber dari kegilaan (yang bisa positif atau negatif), begitu anak remaja jatuh ke dalamnya, maka segala hal yang dilakukannya bisa jadi irasional dan ya itu, gila.

                Tetapi, mari kita lihat ke satu sisi menarik yang ada di dalam kegilaan ini, yakni nyantai. Bersantai yang berlebihan dan duduk dengan waktu yang lama, bisa dibilang juga sebagai nongkrong. Kalau jatuh cinta yang di-ekspresikan dengan kegiatan pacaran, maka kebanyakan pasangan di abad 21 ini suka nongkrongin antara HP mereka atau laptop mereka. Menunggu-nunggu balasan. Kalau orang-orang yang suka main game, ya dia akan nongkrongin console antara komputer atau playstation.

                 Nah, yang membuat jantung berdetak kencang dan otak berputar-putar adalah saat-saat nongkrong itu. Kadang, menunggu-nunggu balasan yang lama dari pacar bisa membuat orang menjadi parno dan takut ternyata salah SMS atau ada sesuatu yang terjadi dengan pacarnya, dan berbagai macam alasan parno lainnya.

Orang-orang yang main game dag-dig-dug saat dirinya sudah hampir kalah di satu event yang penting (final, misalnya) dan berusaha memutar otak untuk bagaimana cara counter-attack atau memperpanjang waktu dan menyerang di ronde yang lain dengan kekuatan baru dan menyusun strategi yang lebih fresh.

Lain lagi dengan jatuh cinta sama benda,  jantung mereka mungkin akan berdegup sewaktu baru membeli dan memutar otak untuk mengumpulkan duit membeli benda yang kepadanyalah ia jatuh cinta, sisanya mungkin hanya berdegup jantung sewaktu benda kesayangannya itu hampir jatuh atau lupa diletakkan di mana dan hampir hilang. Lalu orang-orang yang mencintai benda favoritnya ini membuat perlindungan khusus, semacam sarung atau apalah.

Hampir semua orang yang jatuh cinta berdiam diri. Menikmati hal itu. Nongkrong di tengah kegiatannya yang gila itu. Melakukan kegiatan pasif, semacam tidak tidur, tidak makan, tidak minum. Hanya menikmati hal yang ia cintai.


...
Jantung berdegup kencang dan otak berputar keras, berusaha mempertahankan sesuatu yang kepadanyalah ia jatuh cinta.
Gila itu. Jatuh cinta. Gila itu. Gila sekali.



March 18, 2013

Masih Remaja Sudah Pacaran



Orang tua sering bilang, “masih muda jangan pacaran dulu, sekolah dulu yang bener.” Seperti bagaimana telah disampaikan begitu banyak orang lain yang telah hidup jauh lebih dahulu dari kita, sebaiknya kita dengarkan kata orang tua.

                Seorang tokoh serial yang bernama Gregory House M. D. yang adalah seorang tokoh dokter yang brilian dan selalu merasa dirinya tak layak untuk bahagia juga pernah mengatakan sesuatu mengenai cinta dan pacaran. Suatu saat, ia berkata kepada pacarnya, “Being happy and being in love with you makes me a crappy doctor.” Hal ini dikatakannya setelah pasien ketiganya yang mati karena terlambat didiagnosa, dan ia mengatakan ini dalam keadaan mabuk. Kemudian ia melanjutkannya “If I had to choose between saving eveyone or loving you and being happy, I choose you. I choose being happy with you. I always choose you.”

                Memang mungkin seringkali pacaran membuat studi agak kurang baik, karena memang ketika sedang jatuh cinta fokus hidup berubah. Walaupun begitu, pacaran memberikan sebuah energi baru yang mendorong manusia untuk hidup. Lebih baik lagi kalau pacarannya serius, tapi mari kita sama-sama lihat fakta. Berapa persen sih anak remaja pacaran serius? Lagi pula, untuk apa juga serius. Memang belum umurnya.

                Yang penting, kalau sudah pacaran harus tetap jaga keseimbangan dengan hubungan diri dengan yang lain. Dengan Tuhan, dengan keluarga, dengan teman-teman yang lain, dengan sekolah, dengan kerjaan, dan hubungan lainnya.

                Setelah menulis dua paragraf di atas, saya menyadari betapa “timur”nya saya. Karena memang sebenarnya, pacaran itu seringkali hanya untuk bersenang-senang bagi orang barat dan orang manapun setelah era globalisasi ini. Ketika serius, maka semuanya akan menjadi terasa lebih berat. Anak kecil tidak pernah mau tanggung jawab yang berat. Jadi, ya, yang pacaran hanya untuk senang-senang itu anak kecil.

Jangan jadi excuse ya untuk yang ga laku, ga laku ya introspeksi diri ajalah.

November 15, 2012

Apalah Arti Sebuah Nama?


        Hal yang akan saya ceritakan ini, mungkin saja, common untuk remaja Indonesia yang sedang berpacaran. Saya masih ragu apakah ini hal yang biasa untuk dibicarakan di kalangan pasangan remaja di Indonesia atau bahkan seluruh dunia. Maaf ya, belum sempat riset dulu.
Biasanya, hal ini dibicarakan oleh pasangan-pasangan yang merasa hubungannya adalah hubungan yang panjang dan bertahan lama hingga menikah. Saking mereka percaya bahwa mereka akan lama, maka sekali waktu akan terjadi pembicaraan macam ini.
Bicara soal pembicaraan yang akan saya bicarakan, kalau di bayangan pembaca sekalian ada hal yang aneh-aneh, buang saja. Ini hal yang konyol dan sama sekali tidak berbau intim atau seksual dan hal-hal yang memiliki kecenderungan pornografi dalam otak. Hanya saja, hal ini lucu ketika dibicarakan begitu dini.
Apa yang lucu? Selain karena waktu untuk membicarakan hal ini begitu dini, pasangan yang membicarakan hal ini benar-benar bersikap seperti orang yang sudah menikah dan sedang menunggu keajaiban itu datang. Padahal, (nah, ini juga salah satu lucunya) mereka sedang membicarakan ini lewat SMS atau telepon, bukan muka dengan muka di atas satu tempat tidur yang sama.
Pembicaraan ini, ketika sudah menikah, biasanya dibicarakan muka dengan muka dan di atas satu tempat tidur yang sama atau di atas sofa empuk yang sama sambil (mungkin) berpelukan atau saling menatap romantis satu sama lain. Sejujurnya ya, itu juga hanya bayangan saya. Bayangan ideal saya nanti. Saya kan belum menikah. Intinya, harusnya ini adalah pembicaraan nanti saja dibicarakannya sewaktu menikah dan bukan sewaktu pacaran.
Saya bukan ingin mencela pasangan yang membicarakan hal ini, saya sendiri membicarakan hal ini dengan pacar saya. Saya sendiri membicarakan itu karena sedang kehabisan ide untuk menghibur sang kekasih yang sedang terkapar sakit. Jadinya, saya harus membicarakan hal-hal futuristik yang menyenangkan, seperti pembicaraan yang akan saya bicarakan sekarang.
Sudah enam paragraf pembukaan, saya pikir cukup sudah menggesek-gesek rasa ingin tahu pembaca megenai pembicaraan ini. Pembicaraan itu adalah mengenai nama anak bayi nantinya. Pembicaraan yang membawa sepasang kekasih terbang ke dunia khayalan yang agak jauh. Khayalan indah yang melupakan betapa susahnya sebuah perjalanan cinta sampai bisa menikah, melupakan betapa susah mengurus seorang anak bayi sampai besar, melupakan segala macam hal buruk.
Sejujur-jujurnya, sebelum kekasih jiwa saya menanyakan saya “Kalau punya anak perempuan akan diberi nama apa?”, saya sudah sangat tau jawabannya apa. Entah apakah saya ini terlalu gay atau apalah kata orang, tapi memang saya sudah pernah pikirkan entah juga dari sejak kapan. Jadi, ketika ditanya hal itu, saya bisa menjawab dengan lancar beserta arti-artinya dan alasan-alasan saya memilih nama itu.
Begitu ganti giliran bertanya, pacar saya masih pikir-pikir (saya pikir, ini memang yang seharusnya, saya memang agak aneh). Karena sedang sakit dan pusing, maka saya yang memikirkan ide-idenya dan dia hanya “iya” atau “engga”. Beberapa kali, ia bertanya “Memangnya itu artinya apa?”. Ada yang saya bisa jelaskan ada juga yang tidak. Penjelasannya beberapa hasil googling. Ya, ini adalah hal-hal yang harus dilakukan pacar saat pacarnya butuh hiburan dan sedang sakit.
Sebenarnya, bisa saja saya mengatakan apa yang dikatakan sang penulis drama terkenal, Shakespear, “Apalah arti sebuah nama?”. Memang sangat bukan saya, bagi saya hampir semua yang ada di dunia ini harusnya ada artinya. Hal-hal lainnya yang tidak ada artinya, bahkan bukan sesuatu hal.
Kita memang benar-benar harus menanyakan kepada diri kita sendiri, apalah arti nama diri sendiri. Bagi beberapa orang tua, nama berarti harapan orang tua terhadap anak itu, beberapa hanya ingin supaya anak itu memiliki nama yang keren. Setelah tau arti nama diri sendiri, apakah kita benar-benar harus menghidupi arti nama kita?
Pernah dengar cita-cita anak mulia yang berkata “Saya ingin begini karena dengan begitu saya akan membahagiakan orang tua saya” atau kata-kata prioritas mulia dari seorang anak “Yang penting orang tua saya bahagia”. Nah, begitu juga dengan menghidupi arti nama sendiri. Karena yang memberikan nama adalah orang tua dan nama adalah harapan orang tua, maka hidupilah arti nama untuk membahagiakan orang tua.
Bagi anak-anak yang tidak pernah diberitahukan arti namanya atau orang tuanya memang tidak bermaksud memberikan namamu dengan arti dan harapan khusus, maka carilah arti namamu sendiri. Setelah itu, hidupilah sendiri.
Sebenarnya, nama kita itu diberikan Tuhan. Hanya saja, lewat orang tua. Ada maksud Tuhan lewat nama yang diberikan kepada kita. Walaupun kadang, artinya aneh atau tidak berguna. Semacam orang Batak Karo yang namanya bisa merupakan benda pertama yang ayahnya lihat sewaktu mendengar anaknya sudah lahir. Tetap saja, semua hal tidak mungkin di luar kehendak Tuhan.
Karena alasan-alasan semacam ini, saya merasa pembicaraan mengenai nama adalah pembicaraan yang serius sekaligus menyenangkan. Menyenangkan membayangkan bayi lucu dengan nama yang sudah kita tentukan dan pikirkan matang-matang dan tentu saja harus dibesarkan dengan serius agar hidupnya sesuai dengan apa yang diharapkan lewat nama yang diberikan.
Itu alasan dari bayangan ideal saya saat sepasang kekasih yang sudah menikah membicarakan hal ini dan itu juga alasannya mengapa begitu lucu dan polosnya ketika sepasang kekasih remaja yang masih naif membicarakan hal ini.

July 15, 2012

Pacaran dengan Stevani Widjaja 3


                Sudah 3 bulan. Perjalanannya makin dibuat susah dengan liburan panjang sekolah. Awalnya sih menyenangkan. Kami berdua (dan dengan segenap angkatan kami) pergi ke Lombok. Di sana kami lumayan banyak menikmati waktu-waktu berdua.

                Minggu kemudian, datanglah penyiksaan batin kepada si cewe. Saya (dengan senang) pergi meninggalkan dia ke Kupang. Pergi ke Kupang, yang jauh, tentu tidak akan secepat itu. Saya menetap di sana selama 7 hari. Berjalan-jalan ke sana kemari tanpa khawatir akan keberadaan yang di Jakarta, saya tetap yakin Tuhan menyertai dirinya dari godaan. Lebih kacau lagi adalah ketika 3 hari terakhir saya pindah tempat menginap dan sama sekali tidak ada sinyal. HP saya memang butut.


                Maka terdengarlah isak tangis dari Jakarta Raya sampai ke telinga saya. Tapi, namanya juga sudah malam, maka saya meneruskan tidur saya dengan lelap. Maklum, saya tidurnya sama orang yang suka ngorok, jadi suara tangisannya kecil sekali.

                Setelah pulang dari Kupang, saya langsung dipaksa pulang ke Jakarta. Padahal, tadinya saya mau ikut sepupu saya ke Bandung dan menginap selama 2 hari. Tapi, apa daya. Jadilah saya pulang ke rumah dan esok harinya bertemu si cewe.

                Tidak lama setelah hari itu, dibalasnya pula saya. Dia pergi ke puncak selama 5 hari dengan keluarganya. Tinggallah saya di Jakarta bersama dengan isinya. Sekarang saya hampir tidak ingat sama sekali dengan apa yang terjadi selama hari-hari itu.

                Setelah 5 hari dari puncak, kami harus menikmati kebersamaan kami dengan menjadi panitia MOS untuk anak murid baru. Acara pertamanya itu adalah camping di Bogor. Ya, lumayanlah. Di sana kami bekerja sama sebagai teman sekerja yang setara. Selama kami mempersiapkan bermacam-macam hal, tidak jarang kami mendengar beberapa guru (termasuk Ibu Kepala Sekolah) dan teman-teman yang lain menggoda kami dan mengelu-elukan (maaf, ga tau lagi kata yang lebih tepat).

                Persis setelah acara camping, si cewe dengan santainya meninggalkan saya ke Singapore selama 3 hari. Giliran dia yang susah berkomunikasi. Harus pinjam BB tantenya dulu untuk bisa online Twitter sebentar. Selebihnya tidak bisa apa-apa lagi. Kemudian, waktu si cewe ini pulang, saya menuliskan sebuah tulisan selamat datang dan saya kirim ke emailnya. Kata si cewe, dia langsung ga bisa tidur setelah baca.

                Oh iya, ada tambahan wacana. Hari sabtu kemarin (14 Juli 2012), ada dialog kecil antara saya dan papa saya B-)

Papa: Jadi gimana kamu sama Vani rencananya?
Aldo: *Dengan santai dan cool abisss* Ya, jangka panjang pa.
Papa: *Clingak-clinguk cari Mama*
Aldo: Kenapa? Papa baru sadar dia Cina? *masih santai*
Papa: Ya, kalo bisa orang Batak bang...

                Dialognya selesai sampai di situ saja. Mungkin Papa sama sekali tidak ada maksud rasisme. Papa sepertinya sedang sadar kalau saya tinggal anak satu-satunya dan laki-laki pula. Kakak saya yang perempuan sudah diambil orang Inggris, lalu saya? Tidak salah kalau Papa ingin saya sama orang Batak. Tapi, saya lebih tidak salah kalau jatuh cinta sama orang Cina.

June 2, 2012

SMP - SMA


Waktu SMP ga pengen cepet2 lulus. Waktu SMA selalu kira tiap UAS langsung lulus. Begini kalo SMP di P3 dan SMA di Calvin. Begitu tweet saya beberapa jam yang lalu.
Hari ini adalah hari pengumuman UN anak SMP se-Indonesia. Saya jadi mengingat-ingat kembali masa-masa SMP dulu. Ingat pertama kali MOS dan memenangkan juara satu outbond dan saya ketua kelompoknya. Ingat pernah satu kelompok sama Boan. Ingat saya pernah nembak Renny dan Aline dalam satu hari yang sama gara-gara Ocep, dan dua-duanya menolak saya mentah-mentah. Ingat juga saya selalu diolok-olok di kelas seni rupa oleh Pak Setyo karena memang saya tidak bisa menggambar. Banyak deh yang diingat.
                Sepertinya di SMP saya tidak belajar apa-apa. Guru yang paling bisa dikatakan sukses untuk mengajar saya adalah Pak Trilono, harus saya akui. Walaupun dia guru yang paling menjengkelkan bagi banyak sekali murid seangkatan saya, tapi ajaran dia dan hafalan-hafalan yang pernah diajarkan belum saya lupakan. Beliau pernah membuat saya menangis di minggu-minggu pertama sekolah. Pernah juga saya ditendang bola oleh beliau karena kesalahan bodoh saya. Ah, guru itu.
                Sekarang di SMA saya merasa seperti sedang belajar segala sesuatu. Segalanya menjadi penting rasanya. Baru tau kalau tidak belajar itu namanya rugi. Dulu di SMP bilang yang penting dapet ijazah, sekarang di SMA ijazah saja tak cukup untuk masuk universitas dambaan segala provinsi di Indonesia.  
                Tapi, karena kehebatan Ocep dalam mengajari saya urusan pacar-pacaran, belajar sambil pacaran pun bisa jalan. Ajaran Ocep lebih hebat dari Pak Tri, mungkin.
                Di SMP banyak hal yang baru pertama kali saya lakukan. Seperti pacaran, merokok, naik motor, naik mobil, berantem tonjok-tonjokkan, dan banyak lainnya. Di SMA tinggal melanjutkan saja semua yang sudah saya pelajari di SMP, yang baik maupun yang buruk.
                Hidup tidak semenyenangkan yang orang bilang di SMA ini. Di SMA hidup lebih kompleks. Proteksi orangtua masih tidak meregang, terkadang menguat. Di saat kegiatan meluas, kekang orangtua yang masih lumayan kuat ini agaknya mengganggu. Yah, namanya juga anak muda, mau secepat dan seliar kuda. Terlalu berbeda kehidupan di SMP dan SMA. Dulu uang bisa berhamburan untuk apa saja dan kasih pinjam sana-sini, sekarang saya harus jaga-jaga uang dan kadang pinjam sana-sini.  Beda jauhlah.
                Dulu-sekarang, intinya saya masih akan terus jadi pelajar. Tapi, beda tempat, beda derajat, beda status, beda kesulitan. Saya kangen SMP, muak SMA.

February 28, 2012

Take and give: Menunggu

                Selama proses take and give, ada satu proses yang paling tidak mengenakan kita semua, menunggu. Itu sangat sakit, repot, dan sedih ujungnya. Waktunya pun kita tidak tahu berapa lama. Semua itu tergantung bagaimana kita dan bagaimana perjalaan kita. Setiap kali mulai mendekati seseorang, sudah pasti proses ini terjadi. Dan tidak hanya sekali terjadi, bisa beberapa kali dalam kejadian yang berbeda-beda. Saya sendiri selalu tidak sabar dengan ini.
                Ya, satu-satunya kunci untuk melewati proses ini adalah kesabaran. Karena, butuh waktu yang cukup lama untuk meyakinkan orang yang kamu suka, dan sebenarnya kamu sendiri, kalau memang ini benar-benar cinta dan bukan main-main. Yang pasti, jangan coba main-main dengan cinta.
                 Karena harus serius dalam memikirkan ini, jadi kita harus benar-benar meyakinkan diri kita kalau ini sudah benar-benar murni cinta. Menunggu adalah salah satu pembuktian cinta paling kuat. Waktu adalah penguji terkuat dan terkejam di seluruh alam semesta ini. Masalahnya, waktu tetap ada dan terus berjalan, jadi kita tidak habis-habisnya terus diuji setiap harinya.
                Selama masih masa PDKT ini, banyak penelitian-penelitian yang kamu lakukan terhadap yang kamu suka. Kamu jadi ingin tahu banyak hal mengenai dirinya. Kamu akan bertanya-tanya “dia sudah pernah pacaran belum?” atau “dia suka warna apa?” dan hal-hal lainnya yang kelihatannya sepele. Sadar tidak sadar, setiap pembicaraan dengan orang yang kamu suka, kamu sedang mengumpulkan data-data penelitian itu.
                Tentu pengumpulan data-data itu tidak semudah yang dipikirkan. Pada saat inilah, biasanya mulai terguncang. Kamu mulai menemukan keanehan-keanehan dalam dirinya. Masa penungguanmu sudah mulai bergejolak.
                Di saat-saat terakhir ketika kamu akan menyatakan cintamu kepadanya, ternyata kamu baru tau dia tidak diperbolehkan pacaran dulu dengan orang tuanya. Dor! Habislah kamu saat itu juga. Penuh dengan dilema “apa yang harus saya lakukan setelah ini?” Saat itu juga masa penungguanmu sedang teruji.
                Maka itu, tips lain dari proses ini adalah jangan terlalu banyak berharap dan jangan yakin terlalu cepat. Tuhan sudah menyediakan waktu untuk berpikir, pakailah baik-baik. Kalau ternyata memang tidak cinta, ya sudah apa boleh buat?
                Kalau kamu sudah melewati tahap penungguan ini dengan berhasil dan sukses, maka kamu pasti akan bisa masuk ke tahap berikutnya yang lebih sulit lagi. Karena, take and give itu sebenarnya mulai waktu kamu sudah pacaran. Ini hanya bagian menuju ke sana.

February 12, 2012

Prinsip dasar: Take and Give

                Sudah lama tidak cerita-cerita mengenai cinta-cintaan. Saya sebenarnya jarang bingung karena tidak ada ide untuk menulis, yang terjadi adalah kebanyakan ide. Tiap kali saya sedang menulis  sesuatu dari ide A, ditengah-tengah menulis saya tercegat oleh ide-ide lain yang berkecamuk di pikiran saya. Maka itu, agak susah bikin artikel lama-lama.
                Langsung saja kita bahas topiknya kali ini. Jadi begini, saya ini orangnya akan langsung bawel ketika saya berbicara dengan seorang perempuan dan akan langsung cerita banyak. Perempuan yang akan saya ceritakan di sini adalah seorang perempuan lucu dan imut yang sangat mengaggumi saya. Dia sangat suka cara pandang saya yang di luar pengamatan kualitatif orang mengenai pacaran dan wanita. Dia bahkan menyebut-nyebut saya sebagai ‘Guru Cinta’ atau semacam itu. Saya sih biasa saja, soalnya saya dulu juga pernah menyebut seseorang dengan panggilan itu, mungkin saya kena karma sekarang.
                Saya dan perempuan centil itu sedang ngobrol  lewat BBM. Tiba-tiba kami sampai pada pembicaraan mengenai prinsip dasar pacaran. Setelah sekian lama membicarakan mengenai trik-trik ajaib saya untuk mendekati perempuan, kami baru membiacarakan prinsip dasarnya waktu itu. Konyolnya, saya seperti sedang memberikan ceramah singkat melalui BBM. Lebih lucu lagi, dia lebih tua dari saya persis satu tahun, ulang tahun kami jatuh pada bulan yang sama. Si muda sedang mengajari si tua. Dan beginilah isinya..
                Prinsip dasar saya waktu pacaran adalah ‘take and give’.  Maksudnya adalah saya mengambil hatimu dan setelah itu saya memberikanmu hatiku. Teorinya gampang memang, tetapi kalau kita coba agak susah. Prinsip ini yang akan menentukan apakah pasanganmu itu benar-benar yang selama ini kamu cari-cari. Kalau ‘take and give’ berhasil seimbang berarti suatu hubungan yang benar sudah terjadi, dan ini jarang. Jadi jangan main-main.
                Maksud saya dengan seimbang adalah ketika kamu mengambil hatinya, dia memberikannya dengan rela, dan ketika itu juga kamu sudah siap memberikan hatimu untuk dia ambil. Ini baru namanya seimbang. Untuk itu semua ada banyak persiapan. Kamu harus buat dia takjub dulu denganmu supaya dia rela memberikan hatinya untuk kamu ambil. Tidak perlu melakukan hal-hal keren. Ibu kepala sekolah saya selalu berkata ‘mulai dari yang sederhana’. Perempuan itu takjub kalau laki-lakinya rajin, pintar, pengetahuan luas, humoris, rapih, dan juga bersih. Kalau laki-laki akan takjub melihat perempuan yang nyambung diajak bicara, keibuan, tidak cerewet, dan asik. Hal-hal seperti itu seebenarnya tidak bisa dibuat umum, orang punya penilaian masing-masing, namun supaya pembaca ada gambaran saja.
                Nah, kalau satu sama lain sudah sama takjubnya, tinggal ditambah kasih sayang yang lebih dan sisanya adalah reaksi kimia.
                Ini adalah prinsip dasarnya, tips dan trik lebih advandced untuk berusaha mengambil hatinya dengan lebut dan melepas hatimu dengan rela, akan ada terus menerus di post-post berikutnya. Tunggu saja, cepet kok serial yang ini, ga makan waktu seumur hidup. J

August 21, 2011

Mengerti sebelum mencinta

                Senang, bahagia, seolah seperti mendapatkan segala sesuatu yang kita butuhkan di dunia yang susah ini. Kita merasa sudah ada di awang-awang. Semangat hidup meningkat drastis dan makin rajin mengerjakan segala sesuatu. Makin rapih dalam berpakaian dan juga menata barang-barang milik pribadi. Suasan hati berubah menjadi makin baik terus-menerus secara bertahap. Dan lama-lama seperti orang gila yang bisa senyum dan tertawa sendiri kalau imajinasi sudah tidak bisa dikontrol. Sedang jatuh cinta, katanya.
                Selalu indah rasanya. Manis. Tidak pernah sekalipun pahit. Menyenangkan. Bagaimana tidak? Kita baru saja bertemu dengan seorang yang sangat perhatian kepada kita, sangat baik, dan penuh cinta kasih. ‘Dia mengerti saya dan saya mengerti dia, itu yang paling membuat saya makin cinta dia’ itu kata teman yang menempuh jenjang SMP bersama-sama dengan saya selama 3 tahun. Saya tentu saja setuju dengan pernyataan teman saya tersebut. Tidak banyak orang yang benar-benar bisa mengerti perasaan kita, bahkan terkadang orangtua kita pun bisa salah, bahkan lebih parahnya lagi kita sendiri terkadang tidak mengerti apa maunya kita sendiri. Dan alangkah senangnya ketika kita bertemu dengan seseorang yang bisa mengerti perasaan kita yang seringkali aneh. Lebih senang lagi kalau kita juga bisa mengerti perasaan orang itu. Jadi, ini bukan hanya kita yang menuntut untuk bisa dimengerti, tetapi kita juga menuntut diri kita sendiri untuk bisa mengerti orang yang kita sedang jatuh cinta kepadanya. Pertemuan seperti inilah yang akan membuat kedua orang yang bersangkutan bisa saling jatuh cinta. Proses timbal balik itulah yang akan menjaga keterikatan mereka. Keterbukaan diri dari masing-masing pihak memungkinkan ini semua untuk terjadi.
                Masalahnya, pertemuan seperti ini jarang-jarang terjadi. Karena, banyak orang jatuh cinta dengan alasan yang salah. Banyak dari mereka yang jatuh cinta karena uang, mereka bukan jatuh cinta kepada orang yang mempunyai uang itu, tetapi mereka jatuh cinta kepada uang yang dimiliki orang itu. Ada juga yang jatuh cinta karena popularitas, mereka jatuh cinta terhadap orang yang beken disekolah itu atau orang yang paling dikenal di suatu wilayah tertentu, kalau kita bisa pacaran dengan orang itu kita juga bisa ikut terkenal.  Sepertinya kasus-kasus yang tadi adalah kasus yang terlalu parah. Bagaimana dengan kasus yang ringan-ringan? Kenapa bisa ada kata ‘putus’ dalam berpacaran, padahal sewaktu bertemu pertama kali rasanya seperti bertemu surga, tetapi kenapa diakhiri dengan neraka yang begitu panas?
                Pertanyaan itu saya jawab begini, itu karena kamu menuntut tetapi kamu tidak mau dituntut balik. Kamu seringkali menuntut pacarmu untuk mengerti dirimu, tetapi kamu tidak pernah mau mengerti apa yang terjadi dengan perasaan pacarmu. Atau, kamu sudah berusaha untuk mengerti pasanganmu tetapi dia tidak mau membuka diri dan merahasiakan apa yang terjadi dengan dirinya, kalau sudah begini pasti kacau kebelakangnya.
                Saya tidak akan bercerita panjang-panjang layaknya seorang ahli percintaan. Tetapi, saya hanya ingin memberitahukan saja, kalau jatuh cinta itu butuh satu sikap saling mengerti. Sikap ini baru satu dari banyak hal lainnya. Tidak gampang untuk mengerti seseorang. Kamu harus punya segudang pengetahuan mengenai orang itu terlebih dahulu untuk mengerti dirinya. Dan pesan saya sekali lagi akan saya kumandangkan, pacaran itu tidak mudah, maka hati-hati pilih pacar, hati-hati berpacaran. Karena kalau cintanya terlalu tinggi, nanti jatuhnya sakit. Namanya juga jatuh cinta.

August 19, 2011

Hati-hati sakit hati..!!

                Sakit hati itu sangat sakit. Kita hampir tidak bisa mengerjakan apapun karenanya. Lebih sakit dari pada sakit gigi, lebih mematikan dari pada sakit kanker, lebih menusuk dari pada panah. Sakit hati bisa membawamu ke pengealaman yang lebih mengerikan dari pada vonis HIV, rasanya seperti mencicipi setengah rasanya neraka. Seolah-olah tidak ada lagi orang yang bisa kamu peluk saat itu. Kehadiran seorang teman tetap tidak akan membuatmu bahagia saat itu, kecuali si ‘dia’ kembali kepada hangat pelukmu. Napasmu akan terasa memberat, jantung berdegup kencang, dan kepala pusing. Matamu akan sembab karena tangisan. Suaramu akan serak. Badanmu akan kaku seluruhnya. Tidak bisa berpikir menggunakan akal sehat.
                Dugaan-dugaan tidak masuk akal mulai muncul. Pikiran-pikiran jahat mengalir didalam otakmu. Keinginan dan hasrat untuk mencabut nyawa membesar. Atau bahkan lebih kacau lagi, kamu ingin mencabut nyawa orang yang menyakiti hatimu. Kamu akan memporak-porandakan sekitarmu untuk menutupi kenyataan bahwa kamu sedang sakit hati. Melampiaskan semua kemarahan pada teman-temanmu atau seisi rumahmu. Sedih sendiri.
                Inilah sakit hati. Ini akibat dari berpacaran. Akibat mempercayai orang yang ternyata tidak bisa dipercaya. Saya tidak bilang jangan berpacaran, saya tidak menakut-nakuti kalian mengenai mempercayai orang. Saya hanya mempersiapkan kalian, supaya nanti ketika kalian sakit hati, kalian siap menghadapinya dan tidak melakukan hal-hal bodoh. Agar kalian sadar, bahwa masih banyak hal yang masih bisa dilakukan setelah itu. Masih banyak orang yang mau menjadi pacarmu. Pendeta saya sekali waktu berkata ‘Kalau patah hati jangan gila.. tetapi lagi’.
                Siapkah kamu menghadapi hal ini? Punya nyalikah kamu? Inilah dunia yang pahit. Dunia menawarkan cinta dan kepercayaan, tetapi seiring berjalannya waktu kamu akan bisa membedakan mana yang bisa dipercaya mana yang tidak, walaupun harus dengan cara sakit hati.
                Saran saya, sakit hati jangan disimpan. Teman baik saya pernah berkata ‘Mendingan lu tonjok muka itu orang trus lu minta maaf, daripada kesel disimpen di hati’. Tetapi, menurut saya lebih baik, hatik-hati percaya orang, hati-hati pilih pacar, jadi lebih tenang. Mencegah itu lebih baik dari pada mengobati, apalagi urusan sakit hati. Pahit! 

August 18, 2011

Berelasi Itu Sulit..!!


                     Pacaran itu susah lho! Asli, sumpah, beneran! Kalo kamu adalah orang yang belum pernah pacaran kamu harus tau dulu, pacaran itu susah. Memang sih, tidak bisa disangkal kalau pacaran memang indah, menyenangkan, dan manis. Tetapi, dibalik semua itu ada tuntutan dari kedua pihak untuk saling menuruti keinginan satu sama lain. Sebenarnya, bagi yang laki-laki berubah dari yang tadinya jorok, pakai baju berantakan, dan kliatan jelek pokoknya menjadi rapi-rapi, wangi parfum yang semerbak, rambut jadi dibuat seperti model yang sedang trend adalah respon dari tuntutan sang pacar agar tidak malu-maluin dan ada yang bisa dibanggakan. Setelah tiga bulan berpacaran, mulailah tuntutan-tuntutan itu dienyahkan dan yang laki-laki bisa sedikit kembali kepada habit-nya semula. Tetapi, begitu tuntutan itu tidak dipenuhi, tentu sang pacar akan marah. Lama kemudian setelah marah-marah yang besar, putuslah hubungan itu. Dan putus itu bisa menumpahkan air mata yang mungkin lebih banyak dibandingkan kalau melayat keluarga meninggal. Sakit hati, pikiran penuh, dada terasa sangat sesak karena diputusin pacar. Jadi, bersiaplah untuk menghadapi hal-hal seperti diatas sebelum nekat bermimpi pacaran yang indah, karena sakit hati itu sakit.
                Sebenarnya, bagi saya yang sudah mencicipi manis-pait dunia percintaan, lebih baik ditolak daripada dibuang (red=diputusin). Karena, begitu kamu dibuang kamu biasanya kamu menyesal dan mengatakan ‘lebih baik ditolak aja waktu itu kalau tau begini’. Kalau kamu pernah mengalaminya pasti kamu lebih mengerti perasaan ini.
                Yang saya mau katakan kali ini adalah jangan sembarangan mau pacaran. Jangan sampai kamu pacaran karena liat orang lain atau lihat di film-film kalau mereka pacaran itu terlihat sangat menyenangkan trus kamu mau ikut-ikutan. Atau lebih parahnya lagi kalau kamu pacaran hanya karena teman kamu yang menjodoh-jodohkan kamu. Jangan sampai seperti itu, kamu belum siap nangis nantinya. Bukannya saya mendoakan agar teman-teman sekalian putus dengan pacarnya masing-masing dan membuktikan apa yang saya katakan, tetapi jarang sekali percobaan pertama pacaran berhasil sampai menikah nanti, apalagi kalau kita masih SMP/SMA. Yang paling penting adalah kamu siapkan mental kamu dulu, baru bisa pacaran serius. Dan lagi, kita pacaran harus pacaran yang bener, kalau tidak serius dan model pacaran yang ngumpet-ngumpet dan enggak bener, biasanya nantinya kacau.
                Intinya dari yang kalian sudah baca, pacaran adalah hal yang serius dan berat!-padahal pacaran itu ngapain aja kita belum tau.... :p