Showing posts with label Personal life. Show all posts
Showing posts with label Personal life. Show all posts

January 4, 2014

As For Today In A Slow Mood

                It has been a while since I wrote my first short story, my first word. I remember the time I say, dad I made a story you should read this. I also regret that time when I start to write poem. I feel so dumb, so low. I broke my heart, I broke others, I play nice and then I dump things I shouldn’t have. That is what I did with being a young small self poet. The time when I write my first novel, it was not finished. So did the next two novels I tried to write. Three times, not finished. I start blogging, when I thought it was so easy and no one is reading my blog. I never really want to publish anything from here. I just have so many thoughts that I thought it was brilliant. Well, the truth is, nothing brilliant ever came from me. Then I was amazed by this UWRF event. It took a major hit at me. I’m still so young and greatly have an amazing opportunity that not every young man in my city go to an event like this. Now, I’m an intern with a chance of a real job in a few weeks. Not even graduated from any university. I should’ve been proud. I’m not. I think I’m not ready. I can’t deal with this now. All I know, I’m really in a slow mood and I hope a new intern would come by and help me. I’m afraid of being alone the most. That is a real thing.  

December 17, 2013

About "The Dream" of My Fantasy World

                Everyone have their own fantasy world. Like when they become the superhero or where there’s a perfect world without crime and Borneo is green still. Something that they can hope for, something people dream about.
                I, too, have my own fantasy world. A world where everything is normal. Beckham still the football king of England along with Cantona, Jakarta’s street still filled with commuters coming from all over small town nearby, and Joan Rivers still have an agenda for lips pumping appointment.
No need for a fucking unicorn or spaghetti everywhere or naked chicks always there on my bed whenever I want to. That’s not “the dream”. Those things are overrated and it will be a chaotic-ending kind of fantasy.

The only thing that could ever be a fantasy is when my plan works well.  
                It will not ever be “just” that. I always have a plan. It’s just a daily routine. I keep things simple, I know what I wanna do at which hour and I will do it. If even I didn’t do it, I can always handle with a backup plan.

                Me and my plan always works well. Things are getting worse when people came in or  I invited them (on purpose or not it doesn’t matter, being social is irresistable). Some people just can’t cooperate. The most annoying people is the one who wasn’t invited by me with purpose and however think they have the rights to know.

                Well.. Just a simple fantasy world where my plan works well, daily ones not like a future what not, without any obstruction. I just want time and people that is inside my plan (somehow) to be good to me. Now, that’s “the dream”. 

December 8, 2013

16 Tahun Hitamnya Mr. Black

Mr. Black,


                Kalau aku buka surat ini dengan menuliskan apa yang seharusnya aku ucapkan setiap tanggal 8 Desember kepadamu, mungkin terasa mainstream. Mari kita hindari bersama. Jangan berharap aku akan menulisnya di awal.

                Kamu tahu banyak hal yang aku tidak tahu, tentunya dalam batasan kita masing-masing. Aku tidak tahu bagaimana kamu bisa mencapai 80% headshots atau menghasilkan uang dari akun game. Aku juga tidak mengerti apa rasanya selama  15 tahun (mungkin) jadi orang terhitam di lingkunganmu. Hmm, ini menarik.

Satu-satunya alasan kamu dipanggil dengan nama panggilanmu hari ini hanya karena kulitmu. Tidak ada alasan lain. Bukan karena latar belakang yang gelap atau membawa ke-gelap-an setiap kali kamu berjalan. Hanya kulit.

Aku tidak pernah merasa jadi rasis kalau memanggil kamu, sepupuku sendiri, dengan nama panggilan itu. Keren, tidak masalah. Namun, aku tidak tahu isi dirimu sepenuhnya, perasaan mendalam apapun dari dirimu. Aku tahu kamu pasti merasa nama panggilan ini keren. Ah, pasti. Tapi kamu tidak pernah bilang. Hanya bersikap seperti nama itu keren.

Sudah lebih 5 tahun sepertinya kita memakai nama panggilan yang kita buat waktu ingin membuat podcast “Snapshot”. Kamu tentunya masih ingat dengan jelas adegan saat aku memanggil nama panggilanmu sampai menjulurkan lidah, masih lucu.

Selamat ulang tahun. Tentu aku tidak akan menuliskannya di akhir, karena kamu pasti sudah menduga seperti itu saat aku dengan jelas-jelas memberitahu kalau aku tidak ingin menuliskannya di awal. Ini masih di tengah-tengah.

Kalau di kenang-kenang, terakhir kali kita bicara dengan memanggil nama panggilan masing-masing kapan ya? Lama tidak bermain game bersama, tapi aku culun punya. Tidak bisa main. Lama juga sejak Snapshot terakhir kita.

Tahunmu terulang rutin setiap tanggal 8 Desember. Aku hanya bisa bersyukur kalau kamu masih hidup setiap tahunnya dan di tanggal 8 Desember. Satu-satunya sepupuku yang jago main game dan jenius dalam tahun yang sama.

Selamat ulang tahun. Aku menuliskannya dua kali. Aku tahu kamu sama sekali tidak menebak aku akan menuliskannya dua kali. Berharap setelah menulis ini, di tanggal 8 Desember aku bisa mengucapkannya. Di depan wajahmu, kepada si kulit hitam, dan hati yang putih.


Sepupu tak berkado,


DeadMaster

September 29, 2013

Dua Bulan

                Sudah dua bulan. Mendengar “Susah banget sih contact lu? Gimana caranya?”; “Trus gue nanti contact lu gimana?”; “Ha? Hilang lagi? Wah, kacau banget lu.”. Sudah dua bulan. Menghilang dari dunia sosial yang begitu mudah. Sudah dua bulan. Jadi hantu dan bayang-bayang keramaian dunia maya.
                “Engga sih, ga nyesel sama sekali.” “Yakin? Bukannya pasti akan banyak momen menulis yang gemilang di tengah jalan, begitu?” “Engga juga, jarang. Dalam waktu dua bulan yang sudah lewat, paling cuma ada berapa ide. Itu juga ga yakin jadi semua.”

                Tidak hanya jadi bayangan dunia maya saja, bayangan dari hobi dan kebutuhan sendiri itu lebih parah lagi. Tidak terlalu sulit melewati ini semua. Laptop HP mini, yang sudah melayani kebutuhan gue lebih lama, dengan setia mendukung dalam segala hal. Hanya saja, tidak dalam segi portable.

                Sudah dua bulan. Kalau kamu tau game “Plants vs Zombies” ada satu level di bagian puzzles yang namanya “Invisighost”. Rasanya seperti itu kira-kira. Selama dua bulan.

                Selama dua bulan. Paling sering bilang “Abang pinjem HPnya ya” ke sepupu gue yang masih 9 tahun dan udah punya Blackberry Onyx. Beberapa kali kasih nomor HP itu ke orang, padahal bukan milik sendiri. Padahal, apalah pula salahnya memberi alamat e-mail? Udah zaman modern ‘kan ini? Itu yang terpikir dalam benak.

                Akhirnya, memang karena tuntutan zaman, gue berencana beli HP baru. Membuat janji pada diri sendiri, pokoknya harus ada HP sebelum bulan Oktober. Bukan karena rasa malu, tapi karena kebutuhan. Bukan karena anak zaman dan mengikuti kebutuhan zaman, karena di dalam diri ada ego dan ego mengatakan, “Saya butuh HP!”.

                Dua hari sebelum Oktober. Gue membuat keputusan. Ini HP baru. Setelah dua bulan. Sekarang itu dua hari sebelum Oktober, hari setelah dua bulan. Menyenangkan sekali rasanya. Kembali berhubungan dengan alam maya.



 *Ditulis masih sambil dulanan HP baru.

July 20, 2013

Bersama Dua Sepupu

                Seminggu sudah tinggal di Bekasi, sebuah tempat sub-urban  yang banyak pabriknya. Tidak beda jauh dengan lingkungan rumah, hanya lubang-lubang di jalannya aja yang lebih banyak. Di sini tinggal bersama dua anak kecil, ibu mereka, dan bibi yang sudah tua dan buta huruf. Lumayan, tidak buruk sama sekali. Makan, main playstation, tidur, dan mengurus dua anak kecil itu adalah kegiatan yang terjadi selama satu minggu ini. Rasanya seperti terisolasi dari luar.

                Kehidupan yang benar-benar berbeda selama satu minggu ini, kehidupan seorang baby sitter. Kalau ada yang suka nonton serial Amerika dan kebetulan mengetahui serial Melissa and Joey, pasti mengerti kalau saya kira-kira ada di posisi Joey. Hanya saja, anak-anak yang diurus Joey lebih besar.

                 Liburan yang cukup menyenangkan. Anehnya, makan-tidur seperti ini pun tidak membuat saya makin gemuk. Selama dua minggu sama sekali tidak berolahraga. Mungkin esok hari akan bermain tenis. Impian gue untuk jadi gemuk dan kekar tertunda jadwalnya selama dua minggu. Tidak berasa, kehilangan HP saja membuat rencana hidup bergeser begitu besar. Ditambah lagi dengan tidak bersekolah.

                Untuk sementara saya pikir hidup akan agak kacau. Meninggalkan banyak kegiatan, komunitas dan hal-hal penting seperti keinginan untuk potong rambut selama dua minggu sudah terlalu lama dan terlalu banyak yang terlewatkan untuk anak jalanan macam gue. Walaupun, sekali lagi, harus tetap berterima kasih pada teknologi sosial media yang membantu memonitor dari jauh.

                Ya hidup ini akan kacau terus kalau selalu mengeluh. Gue seneng bisa berada di antara dua sepupu yang banyak makan dan sering bertengkar. Mereka memberi kebahagiaan dengan cara yang berlainan, setidaknya berlainan dengan kombinasi yang bagus. Yang lebih tua itu anak yang kurus, lebih coklat dari yang muda dan agak seperti perempuan, misalnya bawel dan suka marah sambil teriak-teriak. Dia memberikan peran besar dalam menemani gue nonton TV. Dia bisa mengikuti serial-serial yang saya tonton dan tidak disangka-sangka dia juga mengikuti E!, khususnya sejauh hari ini saya tau dia mengikuti Giuliana and Bill. Saat gue sedang tidak menonton, yang lebih muda, dan lebih gendut, serta lebih putih dan jauh lebih pecicilan, menemani gue main bola di playstation.

                Saat makan adalah saat yang paling tidak menyenangkan bagi yang tidak makan, namun berada di sekitar mereka saat mereka makan. Waktu gue makan dan posisi duduknya berada di antara mereka berdua, mereka akan makan dengan tenang seperti biasanya. Di waktu yang lain, ketika saya sudah makan atau belum ingin makan, mereka akan makan dengan sangat lama. Yang mereka lakukan adalah antara ngobrol mengenai game dan film, atau bertengkar. Si adik yang biasanya menggoda kakaknya sehingga si kakak marah.

                Kegiatan seperti ini yang gue hadapi selama satu minggu. Merepotkan? Hm, tidak juga. Menyenangkan? Bisa dikatakan demikian. Andai saja ada satu lagi sepupu gue yang selalu bersama dari kecil, maka kami berempat akan meledakan rumah ini hanya dalam satu hari saja, maksudnya membuat porak poranda yang seru.

                Hidup bersama keluarga itu berkah. Kalau ngomongin berkah di bulan Ramadhan begini, mungkin bisa dikatakan ini berkah yang besar.

July 19, 2013

SD Pengecualian

                Setelah bertambah besar dan bertumbuh lebih dewasa, tanggung jawab lebih besar, dan lulus dari jenjang pendidikan menengah atas, Sekolah Dasar sepertinya tidak lagi signifikan. Setidaknya, begitu bagi kebanyakan orang. Menurut beberapa orang, teman-teman di SD tidak terlalu signifikan karena waktu SD masih polos, masih belum banyak yang bisa di­ceritakan bersama, belum terbentuk ikatan-ikatan yang kuat seperti ketika punya teman di SMA atau di kampus nanti. Pertemanan enam tahun di SD sama sekali tidak sebanding dengan tiga tahun di SMA.

                Tidak bisa dipungkiri, dalam kondisi apapun di seluruh dunia ini selalu ada pengecualian. Di jenjang yang seharusnya masih begitu polos, jenjang yang masih membingungkan soal perkalian pecahan dan cerita Si Pitung, ada anak-anak yang sudah tidak memikirkan itu lagi. Mereka sudah memikirkan kata-kata yang lebih sulit dan belum pernah diajarkan oleh guru mereka, seperti cinta atau pacar atau bahkan kata-kata yang lebih vulgar. Hal-hal seperti ini lazimnya dibicarakan saat anak-anak sudah menjadi remaja sekitar umur 14-17 tahun, bukan anak bocah 10-13 tahun.

                Selain masalah topik pembicaraan, memori persahabatan juga berkait soal permainan. Anak SD main tembak-tembakan dan kelereng, anak SMA main motor dan mobil. Waktu SD mainan, waktu SMA beneran. Walaupun begitu, sebenarnya dua-duanya sama-sama mainan. Yang lebih dari itu biasanya jadi anak nongkrong, seperti kata MTV. Tempat nongkrong bisa jadi satu tempat yang menjadi patokan ingatan-ingatan lainnya, karena pasti akan ada banyak cerita. Anak SD, biasanya belum nongkrong karena belum punya uang, belum boleh pergi-pergi ke tempat jauh. Namun, sekali lagi harus diingat, ada pengecualian.

                Pengecualian-pengecualian ini sebenarnya sedang tertuju pada SD gue sendiri dan pada angkatan gue juga. Perlu diketahui, cerita ini bukanlah hal yang dibanggakan, namun ini juga yang membuat kami (walau berpencar) tetap masih bisa berhubungan dengan (sangat, bagi beberapa) baik. Jadi, beberapa dari anak-anak ini sempat saling suka dan pernah sekian kali menyatakan cinta. Kita juga sering sekali pergi ke mall Arion. Biasanya di sana beli atau sekedar baca komik di toko gunung agung, makan di KFC, lalu yang paling aneh dari kegiatan anak SD adalah Photo Box.

                Mengenai Photo Box, tahun 2000-an awal Photo Box sedang booming. Hampir tiap kali waktu kita-kita ke mall, kita masuk ke Photo Box. Narsisnya kita waktu SD dulu mungkin akan dibilang alay hari ini, tapi sebagian besar normal. Biasanya hanya senyum lebar-lebar, melet ke samping, pura-pura musuhan, atau tangan metal/peace. Pernah sekali waktu, gue, Joshua, Joel sedang di Photo Box, lalu kami membuat pose-pose yang buruk dan tidak layak cetak. Untungnya, ada kesempatan kedua dengan memencet tombol yang sebelah kiri. Waktu itu, gue juga lupa ada apa, kita sepertinya sedang terburu-buru. Sulit untuk menentukan sebaiknya cetak atau meluangkan waktu lebih lama untuk foto ulang. Karena waktu untuk menentukan dihitung mundur, maka Joshua sebagai yang ingin memencet tombol panik. Akhirnya, ia memencet tombol untuk dicetak. Maka jadilah foto itu. Gue sendiri udah ga punya lagi fotonya. Setelah SMP, gue dan Joel juga pernah sekali Photo Box. Lupa di mana, tapi gue foto pake baju pramuka. Jadi itu pasti udah SMP.

                Jadi ini adalah cerita keanehan singkat yang terjadi waktu gue SD. Angkatan yang dibawah kita aja sepertinya ga melakukan hal-hal macam itu. Ini juga yang membuat teman SD masih signifikan. Jangan cap gue karena gue anak sosial dan akhirnya jatuh pada ekstrim SKSD, tapi sepertinya memang masih deket. Besides, sosial media membantu cukup banyak. Tetep aja, signifikan atau engga kan berdasarkan memori sama hati. Kalau sudah di umur yang sekarang, ngomongin soal hati jauh lebih pas.         
               

                                

November 15, 2012

Apalah Arti Sebuah Nama?


        Hal yang akan saya ceritakan ini, mungkin saja, common untuk remaja Indonesia yang sedang berpacaran. Saya masih ragu apakah ini hal yang biasa untuk dibicarakan di kalangan pasangan remaja di Indonesia atau bahkan seluruh dunia. Maaf ya, belum sempat riset dulu.
Biasanya, hal ini dibicarakan oleh pasangan-pasangan yang merasa hubungannya adalah hubungan yang panjang dan bertahan lama hingga menikah. Saking mereka percaya bahwa mereka akan lama, maka sekali waktu akan terjadi pembicaraan macam ini.
Bicara soal pembicaraan yang akan saya bicarakan, kalau di bayangan pembaca sekalian ada hal yang aneh-aneh, buang saja. Ini hal yang konyol dan sama sekali tidak berbau intim atau seksual dan hal-hal yang memiliki kecenderungan pornografi dalam otak. Hanya saja, hal ini lucu ketika dibicarakan begitu dini.
Apa yang lucu? Selain karena waktu untuk membicarakan hal ini begitu dini, pasangan yang membicarakan hal ini benar-benar bersikap seperti orang yang sudah menikah dan sedang menunggu keajaiban itu datang. Padahal, (nah, ini juga salah satu lucunya) mereka sedang membicarakan ini lewat SMS atau telepon, bukan muka dengan muka di atas satu tempat tidur yang sama.
Pembicaraan ini, ketika sudah menikah, biasanya dibicarakan muka dengan muka dan di atas satu tempat tidur yang sama atau di atas sofa empuk yang sama sambil (mungkin) berpelukan atau saling menatap romantis satu sama lain. Sejujurnya ya, itu juga hanya bayangan saya. Bayangan ideal saya nanti. Saya kan belum menikah. Intinya, harusnya ini adalah pembicaraan nanti saja dibicarakannya sewaktu menikah dan bukan sewaktu pacaran.
Saya bukan ingin mencela pasangan yang membicarakan hal ini, saya sendiri membicarakan hal ini dengan pacar saya. Saya sendiri membicarakan itu karena sedang kehabisan ide untuk menghibur sang kekasih yang sedang terkapar sakit. Jadinya, saya harus membicarakan hal-hal futuristik yang menyenangkan, seperti pembicaraan yang akan saya bicarakan sekarang.
Sudah enam paragraf pembukaan, saya pikir cukup sudah menggesek-gesek rasa ingin tahu pembaca megenai pembicaraan ini. Pembicaraan itu adalah mengenai nama anak bayi nantinya. Pembicaraan yang membawa sepasang kekasih terbang ke dunia khayalan yang agak jauh. Khayalan indah yang melupakan betapa susahnya sebuah perjalanan cinta sampai bisa menikah, melupakan betapa susah mengurus seorang anak bayi sampai besar, melupakan segala macam hal buruk.
Sejujur-jujurnya, sebelum kekasih jiwa saya menanyakan saya “Kalau punya anak perempuan akan diberi nama apa?”, saya sudah sangat tau jawabannya apa. Entah apakah saya ini terlalu gay atau apalah kata orang, tapi memang saya sudah pernah pikirkan entah juga dari sejak kapan. Jadi, ketika ditanya hal itu, saya bisa menjawab dengan lancar beserta arti-artinya dan alasan-alasan saya memilih nama itu.
Begitu ganti giliran bertanya, pacar saya masih pikir-pikir (saya pikir, ini memang yang seharusnya, saya memang agak aneh). Karena sedang sakit dan pusing, maka saya yang memikirkan ide-idenya dan dia hanya “iya” atau “engga”. Beberapa kali, ia bertanya “Memangnya itu artinya apa?”. Ada yang saya bisa jelaskan ada juga yang tidak. Penjelasannya beberapa hasil googling. Ya, ini adalah hal-hal yang harus dilakukan pacar saat pacarnya butuh hiburan dan sedang sakit.
Sebenarnya, bisa saja saya mengatakan apa yang dikatakan sang penulis drama terkenal, Shakespear, “Apalah arti sebuah nama?”. Memang sangat bukan saya, bagi saya hampir semua yang ada di dunia ini harusnya ada artinya. Hal-hal lainnya yang tidak ada artinya, bahkan bukan sesuatu hal.
Kita memang benar-benar harus menanyakan kepada diri kita sendiri, apalah arti nama diri sendiri. Bagi beberapa orang tua, nama berarti harapan orang tua terhadap anak itu, beberapa hanya ingin supaya anak itu memiliki nama yang keren. Setelah tau arti nama diri sendiri, apakah kita benar-benar harus menghidupi arti nama kita?
Pernah dengar cita-cita anak mulia yang berkata “Saya ingin begini karena dengan begitu saya akan membahagiakan orang tua saya” atau kata-kata prioritas mulia dari seorang anak “Yang penting orang tua saya bahagia”. Nah, begitu juga dengan menghidupi arti nama sendiri. Karena yang memberikan nama adalah orang tua dan nama adalah harapan orang tua, maka hidupilah arti nama untuk membahagiakan orang tua.
Bagi anak-anak yang tidak pernah diberitahukan arti namanya atau orang tuanya memang tidak bermaksud memberikan namamu dengan arti dan harapan khusus, maka carilah arti namamu sendiri. Setelah itu, hidupilah sendiri.
Sebenarnya, nama kita itu diberikan Tuhan. Hanya saja, lewat orang tua. Ada maksud Tuhan lewat nama yang diberikan kepada kita. Walaupun kadang, artinya aneh atau tidak berguna. Semacam orang Batak Karo yang namanya bisa merupakan benda pertama yang ayahnya lihat sewaktu mendengar anaknya sudah lahir. Tetap saja, semua hal tidak mungkin di luar kehendak Tuhan.
Karena alasan-alasan semacam ini, saya merasa pembicaraan mengenai nama adalah pembicaraan yang serius sekaligus menyenangkan. Menyenangkan membayangkan bayi lucu dengan nama yang sudah kita tentukan dan pikirkan matang-matang dan tentu saja harus dibesarkan dengan serius agar hidupnya sesuai dengan apa yang diharapkan lewat nama yang diberikan.
Itu alasan dari bayangan ideal saya saat sepasang kekasih yang sudah menikah membicarakan hal ini dan itu juga alasannya mengapa begitu lucu dan polosnya ketika sepasang kekasih remaja yang masih naif membicarakan hal ini.

November 7, 2012

Semangat Menulis dari Hati ke Hati


                Belakangan ini, jarang sekali saya punya kesempatan untuk menulis. Setiap hari, saya selalu disibukkan oleh pekerjaan sekolah, ada pacar yang serius, ada tim futsal yang latihan terus, ada juga murid yang sangat-sangat butuh dibantu, lalu ada rumah yang harus dirapikan. Wah, repot! Saya setiap hari sampai di rumah, minimal jam setengah tujuh. Tentu saya sangat bersyukur kalau bisa pulang lebih awal.
                Rasanya, seperti sudah kerja kantoran saja, bahkan mungkin lebih parah. Saya masuk sekolah jam tujuh pagi dan selesai sekolah jam setengah tiga. Setelah itu, ada tambahan pelajaran, tentu saja karena saya sudah kelas 12. Hari Selasa, latihan futsal. Hari Rabu, saya mengajar ekskul. Di kondisi yang seperti ini, saya baru menyadari betapa waktu itu uang. Lebih lama pulang, lebih mahal ongkos hidupnya.
                Selama beberapa minggu yang sibuk ini, saya juga belajar satu hal sebagai seorang penulis muda. Rasa rindu akan berkata-kata lewat tulisan. Saya ini bawel, seringkali kepuasan berkata-kata oral terpuaskan dengan baik, tetapi saya juga suka menulis. Kerinduan saya selalu terbendung oleh banyaknya hal yang harus dikerjakan dan juga kondisi hati yang makin jarang bahagia. Walaupun begitu, saya juga masih suka menulis puisi di kertas coretan sewaktu ujian matematika, atau menulis artikel protes kepada sekolah di selembar kertas (dan parahnya, saya suka sengaja berusaha terlihat sedang menulis dan tidak memperhatikan, supaya guru saya baca keresahan hati saya, dan mungkin, teman-teman juga), dan beberapa kali saya juga menulis cerita-cerita pendek.
                Menulis esai untuk tugas masih hal yang menyenangkan bagi saya, tidak terasa seperti tuntutan, kecuali pelajaran sejarah. Saya masih menikmati proses itu. Penjabaran sebuah masalah, lalu memecahkannya seperti sebuah ahli yang datang dan sedang menyelamatkan dunia intelektual.
                Dalam masa-masa kerinduan yang amat sangat, pikiran jernih saya lahir kembali dengan sebuah prinsip baru. Sebuah sentuhan penuh arti dalam jiwa dan sebuah ketukan ilahi dalam pikiran. Saya terselimuti oleh kata-kata ini sepanjang beberapa minggu, sampai saya menjadi panas, ingin cepat-cepat keluar lagi.
                Jadi begini, ini adalah mengenai jawaban dari pertanyaan “Mengapa manusia harus menulis?” Manusia tercipta dari kata-kata. Manusia hidup dengan nama, sebuah bagian dari kata. Manusia bersosialisasi dengan manusia lain, dengan binatang, dengan tumbuhan lewat kata-kata. Simbol dan sandi pun melambangkan sebuah kata. Manusia tak dapat terpisah dengan kata. Bahkan, penyebutan “manusia” membutuhkan sebuah kata.
                Selama di kendaraan umum, di kelas selama belajar, di kelas selama mengajar, terkadang di gereja sewaktu mencatat khotbah, selama termenung menatapi hujan, dalam berbagai macam kondisi, selama itulah saya memikirkan kata-kata saya yang itu. Ketika terungkap, bahwa manusia tak terpisahkan dari kata, di situlah semangat membara keluar dari hati.
                Hati itu memang kompleks. Butuh lebih dari jutaan hadiah materi untuk memuaskannya, tetapi hanya dengan satu janji manis, maka sang pemilik hati akan tersenyum. Ini mengapa cinta itu topik yang laku, karena cinta menawarkan janji termanis yang pernah ada. Dan cinta, tak dapat lagi diungkapkan dengan kata.
                Karena itulah. Karena itulah saya masih terus. Terus menulis. Terus memiliki hati yang berkobar. Karena, saya cinta menulis.  Menulis itu refleksi hati, refleksi hidup, refleksi cinta dengan manusia. Saya cinta merefleksikan cinta saya.
                Ah, kata-kata itu mudah dipermainkan, tetapi susah dipegang. Kalau tidak dipaksa berhenti menulis, saya tidak bisa berhenti, maka tulisan manusia berhenti.  Biar iluminasi dan afeksi yang diberikan mengalir sendirinya dalam pikiranmu, ya.

Rokok+Polusi

                Sekarang, saya bukannya sedang ingin bicara bahwa rokok menyebabkan polusi udara, lalu maka itu saya menentang orang untuk merokok agar udara bersih. Bukan itu poinnya.

Memang, rokok itu menyebabkan polusi udara, tetapi tidak secara makro. Polusi udara yang disebabkan asap rokok tidak lebih besar dampaknya dari asap kendaraan atau asap pabrik. Kita yang tinggal di Jakarta, pasti mengerti.

Kita, yang adalah orang-orang aktif, orang-orang yang selalu bepergian dan melewati jalanan Jakarta Raya yang dipenuhi kendaraan bermotor hingga macet tak karuan, setidak-tidaknya memiliki paru-paru yang sudah tidak lagi sehat. Kandungan zat-zat beracun di paru-paru kita, setidaknya sudah cukup untuk merusak banyak bagian lainnya di tubuh kita, seperti aliran darah, jantung atau apalah yang berhubungan dengan paru-paru. Saya sih percaya seluruh organ di tubuh kita berhubungan. Maaf ya kalau saya kurang mengerti peta biologis, saya anak sosial.

Hanya dengan hidup seperti biasa di kota ini, sudah bisa menyebabkan penyakit. Apalagi, ditambah dengan merokok. Mungkin suatu saat nanti atau mungkin sudah ada orang yang tidak merokok, tetapi terkena kanker paru-paru.

Ini yang ada dipikiran saya ketika saya menyadari hal yang saya tulis di atas: Ekstrimnya, semua orang di kota ini pasti akan mati karena polusi udara. Secara rata, mati karena kanker paru-paru. Lalu, apa yang sebenarnya perokok lakukan? Hanya mempercepat kematian itu. Penyebabnya akan sama, kanker paru-paru juga.

Seorang teman baik saya pernah berkata, orang yang merokok itu, dalam setiap rokok yang dia hisap, menghabiskan 2 menit waktunya untuk menghisap rokok dan 2 menit waktu hidupnya di masa depan. Saya pikir, iya memang. Walaupun tidak setepat itu, tapi iya benar. Merokok itu mempersingkat hidup.

Tahu tidak, betapa hidup itu indah? Betapa kesusahan membawa kita untuk bertumbuh menjadi orang yang lebih kuat dan kegirangan meringankan segala pekerjaan. Jangan merokok untuk kedua alasan itu. Susah, tidak perlu dibius dengan merokok. Senang, juga tidak perlu dirayakan dengan merokok. 

September 1, 2012

Jadi Guru Ekskul


                Jadi guru itu enak juga, ya. Agak merasa lumayan berkuasa. Apalagi kalo jadi guru ekskul. Jadi guru ekskul lebih enak daripada jadi guru pelajaran, karena murid-murid yang masuk ekskul adalah murid-murid yang benar-benar minat. Kalau kondisi sudah begini, setiap kali bicara tentu didengarkan.
                Konyolnya, atau juga bisa dibilang uniknya, saya jadi murid dan jadi guru di satu sekolah yang sama. Kalau kamu hebat, kamu pasti bisa tebak saya jadi guru ekskul apa. Ya, itu. Ekskul yang ada hubungannya sama tulis-menulis. Ekskul Penulisan Kreatif, lebih tepatnya. Bukan hanya mengenai menulis cerita dan artikel, tapi saya juga ajarkan mereka tulis puisi, naskah, dsb.
                Kemarin ini, baru minggu kedua saya mengajar. Satu minggu satu kali, namanya juga ekskul. Seru memang, walaupun hanya baru dua kali. Saya tidak sabar menunggu minggu-minggu berikutnya.
                Ngomong-ngomong, saya sudah bisa susun silabus kecil-kecilan, lho. Asik, ya! Pengalaman baru. Nanti, seiring berjalannya waktu, pengalaman saya mengajar bisa jadi pengalaman yang berpengaruh dalam hidup saya ke depan. Semoga begitu.
                Sebenarnya, ada cerita dibalik saya bisa jadi guru ekskul. Jadi, guru ekskul sebenarnya, yang adalah juga guru besar sastra sekolah saya dan juga wakil kepala sekolah, tidak bisa mengajar karena jadwalnya sudah padat. Karena di sekolah saya, saya terkenal akan kemahiran menulis, jadilah saya yang dipilih untuk menjadi guru.
Dan jangan salah sangka, saya tidak jadi guru bayaran. Kadang, ingin juga minta gaji, tapi saya juga belum yakin saya sudah sehebat itu untuk dapat gaji. Lama-kelamaan, saya jadi ingin jadi guru ketika nanti besar. Kata orang, guru adalah pekerjaan yang mulia, itu kenapa Yesus memilih menjadi guru.
Ah, dunia ini tidak bisa diprediksi. Tuhan membentuk saya dan kamu secara perlahan dan misterius. Ketika kita setia, kita akan tahu dan melihat sendiri nanti. Cita-cita itu seperti ilusi jadinya.

July 15, 2012

Pacaran dengan Stevani Widjaja 3


                Sudah 3 bulan. Perjalanannya makin dibuat susah dengan liburan panjang sekolah. Awalnya sih menyenangkan. Kami berdua (dan dengan segenap angkatan kami) pergi ke Lombok. Di sana kami lumayan banyak menikmati waktu-waktu berdua.

                Minggu kemudian, datanglah penyiksaan batin kepada si cewe. Saya (dengan senang) pergi meninggalkan dia ke Kupang. Pergi ke Kupang, yang jauh, tentu tidak akan secepat itu. Saya menetap di sana selama 7 hari. Berjalan-jalan ke sana kemari tanpa khawatir akan keberadaan yang di Jakarta, saya tetap yakin Tuhan menyertai dirinya dari godaan. Lebih kacau lagi adalah ketika 3 hari terakhir saya pindah tempat menginap dan sama sekali tidak ada sinyal. HP saya memang butut.


                Maka terdengarlah isak tangis dari Jakarta Raya sampai ke telinga saya. Tapi, namanya juga sudah malam, maka saya meneruskan tidur saya dengan lelap. Maklum, saya tidurnya sama orang yang suka ngorok, jadi suara tangisannya kecil sekali.

                Setelah pulang dari Kupang, saya langsung dipaksa pulang ke Jakarta. Padahal, tadinya saya mau ikut sepupu saya ke Bandung dan menginap selama 2 hari. Tapi, apa daya. Jadilah saya pulang ke rumah dan esok harinya bertemu si cewe.

                Tidak lama setelah hari itu, dibalasnya pula saya. Dia pergi ke puncak selama 5 hari dengan keluarganya. Tinggallah saya di Jakarta bersama dengan isinya. Sekarang saya hampir tidak ingat sama sekali dengan apa yang terjadi selama hari-hari itu.

                Setelah 5 hari dari puncak, kami harus menikmati kebersamaan kami dengan menjadi panitia MOS untuk anak murid baru. Acara pertamanya itu adalah camping di Bogor. Ya, lumayanlah. Di sana kami bekerja sama sebagai teman sekerja yang setara. Selama kami mempersiapkan bermacam-macam hal, tidak jarang kami mendengar beberapa guru (termasuk Ibu Kepala Sekolah) dan teman-teman yang lain menggoda kami dan mengelu-elukan (maaf, ga tau lagi kata yang lebih tepat).

                Persis setelah acara camping, si cewe dengan santainya meninggalkan saya ke Singapore selama 3 hari. Giliran dia yang susah berkomunikasi. Harus pinjam BB tantenya dulu untuk bisa online Twitter sebentar. Selebihnya tidak bisa apa-apa lagi. Kemudian, waktu si cewe ini pulang, saya menuliskan sebuah tulisan selamat datang dan saya kirim ke emailnya. Kata si cewe, dia langsung ga bisa tidur setelah baca.

                Oh iya, ada tambahan wacana. Hari sabtu kemarin (14 Juli 2012), ada dialog kecil antara saya dan papa saya B-)

Papa: Jadi gimana kamu sama Vani rencananya?
Aldo: *Dengan santai dan cool abisss* Ya, jangka panjang pa.
Papa: *Clingak-clinguk cari Mama*
Aldo: Kenapa? Papa baru sadar dia Cina? *masih santai*
Papa: Ya, kalo bisa orang Batak bang...

                Dialognya selesai sampai di situ saja. Mungkin Papa sama sekali tidak ada maksud rasisme. Papa sepertinya sedang sadar kalau saya tinggal anak satu-satunya dan laki-laki pula. Kakak saya yang perempuan sudah diambil orang Inggris, lalu saya? Tidak salah kalau Papa ingin saya sama orang Batak. Tapi, saya lebih tidak salah kalau jatuh cinta sama orang Cina.

July 7, 2012

Soal Feminitas dan Jiwa Saya


                Semua orang di dunia ini, baik laki-laki maupun perempuan, punya sisi maskulin dan feminin masing-masing. Kadar kedua sisi itu berbeda-beda tiap orang. Ada perempuan yang maskulinitasnya lebih besar daripada perempuan-perempuan lainnya, begitu juga sebaliknya dengan laki-laki.
                Saya, yang sepertinya memiliki takdir hidup untuk selalu berada di sekeliling perempuan banyak (dan bukan mainan perempuan maksudnya), agaknya menjadikan saya jadi banyak tau soal perempuan, tapi itu tidak membuat saya jadi seperti perempuan. Hal ini saya tidak hiperbola sama sekali. Saya berkali-kali berada di acara yang isinya banyak perempuan semua. Dulu waktu kakak saya kuliah dan saya masih kecil (masih SD), saya sering diajak berkumpul bersama teman-teman kakak saya yang perempuan semua. Jadi, ya kira-kira bergitulah gambarannya.
                Karena sejak kecil saja sudah begitu, akhirnya saya menemukan ketertarikan-ketertarikan di dunia perempuan-perempuan itu. Karena kebetulan waktu itu kakak saya dan teman-temannya anak FISIP, jadilah saya hari ini ingin masuk di jurusan yang sama dengan mereka. Ada banyak hal lagi yang menjelaskan kenapa saya begini hari ini, macam kebawelan saya, ketertarikan saya dengan dunia tulis menulis, kehebatan saya dalam merangkul wanita dengan muka unik begini, dan berbagai macam hal lainnya.
                Sisi feminin yang berkembang bersamaan dengan sisi maskulin saya membuat saya bisa mengerti perempuan lebih dari laki-laki biasanya tanpa kehilangan kelaki-lakian saya. Saya masih bisa pakai celana jeans yang untuk perempuan, lalu membawa tas yang ada warna pink di pinggirnya tanpa terlihat sebagai perempuan. This is what’s great from me!
                Saya mungkin pernah manicure, tetapi saya juga pernah berkelahi sampai berdarah-darah. Gaya bicara saya terkadang bisa dibilang seperti perempuan, tetapi isi bicaraan saya laki-laki banget. Ya, pokoknya hal-hal macam itu deh yang membuktikan keseimbangan kedua sisi, feminitas dan maskulinitas, di dalam jiwa saya. Kamu gimana? Sudah seimbang?  

July 1, 2012

As Tall As My Shadow

                Kamu pernah lihat bayangan akan dirimu sendiri? Tentu saja, ini pertanyaan yang agak bodoh. Lalu, apakah kamu pernah menyadari kalau bayanganmu lebih tinggi dari dirimu? Saya sering.
                Saya ini selalu punya masalah dengan tinggi badan. Saya ini laki-laki, dan katanya laki-laki harus lebih tinggi daripada perempuan, sedangkan saya lebih pendek dari pacar saya sendiri (dan saya tidak malu, hanya saja ingin lebih tinggi).
                Ingin sekali rasanya saya setinggi bayangan saya. Terlihat lebih macho untuk seorang laki-laki. Tapi, ketika saya setinggi bayangan saya ketika saya pendek, bayangan saya juga akan ikut makin tinggi. Dan terus saya akan ingin setinggi bayangan saya itu. Sampai nanti tidak ada ruang lagi untuk bayangan saya bisa bertumbuh.
                Ah, saya ini. Cuman mimpi yang ditinggin. Bukan badan!

June 14, 2012

Hilang Laptop Satu Hari


                Satu malam saja bisa tak tenang kalau tak bersama. Barang inilah belahan jiwaku yang satu lagi (setelah Stevani Widjaja, tentu saja). Laptop ini bukan hanya alat untuk nonton film, atau denger musik, atau kerja, atau internetan, tapi laptop ini juga satu-satunya alat yang nyaman digunakan untuk berkomunikasi dengan segenap makhluk di jagat raya (dan sekali lagi, terutama pacar).
                Selalu saja karena ulah saya yang bodoh, laptop saya bisa tertinggal di dalam mobil teman saya. Jadi intinya, kejadian-kejadian itu di luar perencanaan saya untuk hari itu. Akhirnya mau tidak mau saya harus merelaka sisa hari saya tanpa sang laptop.
                Ini mungkin cerita yang tidak penting, tetapi saya belajar satu hal dari kejadian ini. Saya belajar bagaimana saya tidak boleh terikat kepada satu hal, apalagi sebuah barang. Tadinya, saya hampir tidak mood lagi untuk ngobrol sama pacar saya. Tapi, saya pikir bodoh juga meresikokan relasi hanya karena sedih tak ada laptop.
                Mungkin yang kalian bayangkan akan saya kehilangan laptop sehari biasa saja, tapi seperti yang saya katakan, saya agak lebay untuk satu hal ini. Bisa kehilangan semangat. Setengah dari hidup ada di sini, rasanya.
                Sekali lagi, atas kejadian ini saya belajar untuk tidak menjadikan laptop sebagai berhala saya. Berhala yang mengganggu relasi dengan Tuhan, orangtua, teman, pacar, dan makhluk lainnya yang sering menghinggapi saya. Cheers! 

Lombok, we're in love


                Ini bukan sebuah cerita yang isinya cinta lokasi atau cinta-cintaan anak remaja. Ini soal kami, manusia ciptaan Tuhan yang direncanakan satu angkatan bersama dan bersama-sama juga jalan-jalan ke Lombok. Bukan di pulau Lombok kami baru menemukan kasih akan satu sama lain. Hanya saja, di pulau ini kami lebih menemukan kebersamaan dan kasih lebih dari biasanya di kota Jakarta.
                Mungkin candaan kami tidak berbeda dari yang biasa, mungkin kebiasaan kami semua masih sama seperti waktu di Jakarta, tetapi yang kami bawa pulang banyak sekali. Ini juga bukan soal oleh-oleh barang, tapi bekal baru dipikiran kami semua. Kedekatan kami semakin dekat, candaan kami berubah dan makin lucu, serta banyak hal lainnya yang mungkin kecil tapi sudah berubah.
                Ini hanya beda lokasi. Dengan orang yang sama, dengan perilaku yang sama. Ah, saya sendiri tidak pernah pikir kenapa pulau Lombok yang akhirnya terpilih untuk jalan-jalan kali ini. Tapi, anugerah Tuhan tak usah lagi ditanya. Kita tugasnya hanya menikmati.

June 9, 2012

Pacaran dengan Stevani Widjaja 2




Lombok, we're in love
                Hidup ini lebih enak dijalani kalau terbagi-bagi per tri-semester, bukan semester. Hell, kalau pemerintah sekarang mengganti sistem sekolah dengan semester, padahal selalu ada mid-semester juga ditengah-tengahnya. Apa pula bedanya?
                Sekarang saya sama Vani sudah di tengah-tengah tri-semester pertama. Yah, baru sebentar saja kami melihat satu sama lain. Kesebentaran yang kami jalani ini rasa-rasanya akan menjadi lama nantinya. Peduli amat kalau orang bilang kami masih SMA dan masih kecil, yang penting kami sekarang sedang berjuang.
                Terlalu cepat memang, harus saya akui, untuk berkomitmen dengan satu orang. Tapi mau bagaimana lagi, ini sudah pilihan hidup yang saya jalani. Kalau saya ingkari, mungkin saya akan terkutuk.
                Dalam dua bulan ini kami sudah saling memberitahu begitu banyak hal. Kebanyakan adalah hal-hal yang sepele. Kata kepala sekolah saya, hal-hal sepele itu bukan hal-hal yang tidak perlu. Itu justru adalah hal-hal kecil yang perlu diperhatikan, karena hal-hal kecil itu nantinya akan membangun satu hal besar. Kesepelean yang seringkali kami bicarakan sedang membangun sebuah hal yang besar bernama relasi.
                Selama ini kami sudah mulai sedikit-sedikit bertengkar kecil soal hal yang sepele. Biasanya saya yang mulai. Saya bukannya perfeksionis juga, hanya saja agak banyak maunya. Sebenarnya beberapa kali bisa dikatakan terlalu banyak.
                Harus saya akui juga, dalam waktu dua bulan lebih ini sudah banyak sekali kemajuan yang kami alami. Dulu pertama sekali kami tidak bisa duduk diam bicara dan bertatap wajah, sekarang lama-lama bisa. Ada beberapa hal lagi yang saya simpan sendiri dan bukan untuk konsumsi publik.
                Kira-kira beginilah setelah dua bulan. Belum terlalu banyak cerita. Kami akan membuatnya terus tiap hari, saya yang akan menulisnya. :) 

June 2, 2012

SMP - SMA


Waktu SMP ga pengen cepet2 lulus. Waktu SMA selalu kira tiap UAS langsung lulus. Begini kalo SMP di P3 dan SMA di Calvin. Begitu tweet saya beberapa jam yang lalu.
Hari ini adalah hari pengumuman UN anak SMP se-Indonesia. Saya jadi mengingat-ingat kembali masa-masa SMP dulu. Ingat pertama kali MOS dan memenangkan juara satu outbond dan saya ketua kelompoknya. Ingat pernah satu kelompok sama Boan. Ingat saya pernah nembak Renny dan Aline dalam satu hari yang sama gara-gara Ocep, dan dua-duanya menolak saya mentah-mentah. Ingat juga saya selalu diolok-olok di kelas seni rupa oleh Pak Setyo karena memang saya tidak bisa menggambar. Banyak deh yang diingat.
                Sepertinya di SMP saya tidak belajar apa-apa. Guru yang paling bisa dikatakan sukses untuk mengajar saya adalah Pak Trilono, harus saya akui. Walaupun dia guru yang paling menjengkelkan bagi banyak sekali murid seangkatan saya, tapi ajaran dia dan hafalan-hafalan yang pernah diajarkan belum saya lupakan. Beliau pernah membuat saya menangis di minggu-minggu pertama sekolah. Pernah juga saya ditendang bola oleh beliau karena kesalahan bodoh saya. Ah, guru itu.
                Sekarang di SMA saya merasa seperti sedang belajar segala sesuatu. Segalanya menjadi penting rasanya. Baru tau kalau tidak belajar itu namanya rugi. Dulu di SMP bilang yang penting dapet ijazah, sekarang di SMA ijazah saja tak cukup untuk masuk universitas dambaan segala provinsi di Indonesia.  
                Tapi, karena kehebatan Ocep dalam mengajari saya urusan pacar-pacaran, belajar sambil pacaran pun bisa jalan. Ajaran Ocep lebih hebat dari Pak Tri, mungkin.
                Di SMP banyak hal yang baru pertama kali saya lakukan. Seperti pacaran, merokok, naik motor, naik mobil, berantem tonjok-tonjokkan, dan banyak lainnya. Di SMA tinggal melanjutkan saja semua yang sudah saya pelajari di SMP, yang baik maupun yang buruk.
                Hidup tidak semenyenangkan yang orang bilang di SMA ini. Di SMA hidup lebih kompleks. Proteksi orangtua masih tidak meregang, terkadang menguat. Di saat kegiatan meluas, kekang orangtua yang masih lumayan kuat ini agaknya mengganggu. Yah, namanya juga anak muda, mau secepat dan seliar kuda. Terlalu berbeda kehidupan di SMP dan SMA. Dulu uang bisa berhamburan untuk apa saja dan kasih pinjam sana-sini, sekarang saya harus jaga-jaga uang dan kadang pinjam sana-sini.  Beda jauhlah.
                Dulu-sekarang, intinya saya masih akan terus jadi pelajar. Tapi, beda tempat, beda derajat, beda status, beda kesulitan. Saya kangen SMP, muak SMA.

April 11, 2012

Rumahku dan kondisinya

                Rumah ini emang ga bisa diajak mikir. Ini satu-satunya tempat dimana saya hanya bisa asal-asalan untuk mengerjakan segala sesuatunya dimuka bumi ini. Satu-satunya tempat dimana kalau ada orang, saya tidak bisa mengerjakan hal yang berguna.
                Tulisan saya jadi ngarang-ngarang. Pikiran ga konsentrasi. Ide ga pernah muncul. Bahkan sebenarnya bukannya ga pernah muncul, tapi ide yang udah disusun rapi diatas motor atau di dalam angkutan umum bisa hilang begitu saja di rumah ini. Rumah setan!
                Mungkin saya juga sudah pernah cerita di cerita saya yang sebelumnya mengenai betapa saya bete sekali dengan rumah ini. Asli deh.
                Liat aja sekarang saya ga tau mau tulis apa. Tulisan ini jadi kacau bahasanya. Udah kayak anak kampung baru belajar nulis.
Biar ngerti betapa bencinya saya sama rumah ini, mari saya ajak kalian semua berkeliling. Jadi, rumah saya itu kecil, ga gede. Begitu masuk, mata kalian akan tersaji dengan 1 meja tamu beserta set sofanya, 1 meja di depan TV 21 inch dan juga sofanya yang warna kuning-kuning emas gitu, 1 pintu kamar mandi, dan 2 pintu kamar yang adalah kamar saya dan kamar bapak-emak saya.
Di depan pintu kamar emak-bapak ada satu meja kerja dan 2 rak buku yang setinggi perut. Di situ banyak kabel-kabel charger bertebaran sana-sini, kadang rapi kadang kacau balau. Di situ adalah tempat saya mengerjakan PR mandarin dan baca buku Sejarah Indonesia Modern, karena kalau engga kerjain di meja bisa-bisa saya ketiduran. Cuman 2 kerjaan itu yang saya kerjakan di meja kerja, sisanya bisa kerjain di kasur sambil chatting dan pacaran.
Di depan meja kerja itu ada satu papan tulis yang tergambar sebuah kotak-kotak untuk kalender yang terisikan jadwal selama sebulan. Keluarga saya cukup ketat urusan waktu dan jadwal kepergian atau kepulangan. Saya tidak boleh pergi ke suatu tempat kalau tidak pernah ditulis di kalender itu. Keluarga yang sungguh terencana. Jadi, tidak heran kalau hidup saya sudah sangat sering saya rancang dan rancang ulang, namanya juga budaya keluarga.
Kalau masuk ke dalam kamar saya, yang kira-kira luasnya 4x4 meter ini, kalian akan langsung melihat lemari excel di depan kalian, sebuah kasur besar, kemudian sebuah rak yang sama dengan yang disamping meja kerja di samping kanan kalian dan sebuah gitar dan tas sekolah saya tepat disamping kanan kaki kalian. Di balik pintu ada gantungan untuk bathrobe, ikat pinggang, jeans dan juga topi atau celana yang masih akan saya pake besoknya. Di atas kasur ada 2 guling, 2 bantal, dan 2 selimut. Padahal yang tidur cuman 1 orang. Begitulah saya, maruk. Di samping lemari excel yang tadi itu, ada rak lagi tapi ada pintunya. Isinya barang-barang penting. Sampingnya lagi ada lemari baju yang (beneran deh) teratur sangat rapih berdasarkan fungsinya. Kasur saya mepet dengan tembok, dan di sebelah kanan atas kasur, ada jendela yang langsung ngadep ke taman yang ada pohon pisang gede. Satu kelebihan dari kamar ini adalah sinyal operator apapun akan selalu penuh, ga pandang iklan deh pokoknya.
Ya, kira-kira itulah lingkungan saya bekerja dan memproduksi tulisan-tulisan yang bermutu maupun yang engga(seperti yang ini, misalnya). Rumah yang sebenarnya ga terlalu sumpek, tapi ya begitulah. Entah kenapa saya tidak bisa mengerjakan hal hebat di rumah ini. Itu sebabnya sering saya nginep di rumah temen saya untuk ngerjain tugas. Karena, di rumah pasti ga kerjain apa-apa. Heh, saya bete dengan rumah ini. Tapi mau gimana, saya belum bisa beli sendiri.

April 6, 2012

Pacaran dengan Stevani Widjaja

                Baiklah, aku mengaku salah.
 Kalau ada yang ingat dan ada yang pernah membaca post saya mengenai ulang tahun Stevani Widjaja yang ke-17, ada pernyataan yang saya akui saya salah. Di paragraf ketiga, saya tulis begini:  Nah, Vani ini cukup cantik. Karena kalau cantik sekali, pasti cerita di sini akan jauh berbeda. Ternyata ceritanya tidak beda-beda amat.
                Akhirnya di bulan Maret kami memutuskan untuk saling mendampingi. Maksudnya belum menikah, kalian juga pasti tahu maksudnya apa. Walaupun memang pacaran, harusnya, ujung-ujungnya menikah. Tapi, mari tidak bicarakan itu, masih lama juga kok.
                Waktu hal ini terjadi, saya, teman sebangku saya, teman sekelas, teman-teman dekat saya, semuanya heran. Saya ini bisa dibilang cukup kacau dulu hidupnya waktu SMP, saya sudah berpacaran kira-kira 4 kali. Dan yang membuat mereka heran adalah betapa bertolak belakangnya sifat pacar saya dibandingkan dengan yang dulu-dulu. “Bertolak belakangnya itu ekstrem”, kata salah satu teman saya yang perempuan. Semenjak pacaran saya sering bilang begini ke Vani, kamu itu kucing, pacar-pacarku yang dulu itu singa semua. Setelah mengatakan itu biasanya saya tertawa dan dia hanya bilang apa sih?!
                Perubahan yang ekstrem ini diterima secara wajar oleh teman-teman saya. Mungkin justru karena yang satu ini berbeda. Dia lembut, lambat, tapi tetap bertenaga. Ya kira-kira memang seperti kucing. Bukan yang liar, tetapi kucing rumahan macam kucing anggora dan yang mirip-mirip itu juga. Lebih kerennya lagi adalah kucing yang ini tidak mempunyai cakar. Kalau ada yang pernah nonton film Puss In Boots, dia adalah tokoh kucing perempuan yang tidak punya cakar melainkan tangan dengan jari-jari yang amat lembut. Saya mengatakan Vani mirip seperti itu karena katanya Vani, dia tidak bisa marah dan lagi dengan amat lembut dia mencuri hati saya sampai saya sendiri tidak sadar sudah tercuri (Ya, saya tahu ini gombal, but this is my universe and my rules applies here).
Nah, mari saya ajak lari ke tempat lain yang jauh hubungannya dengan kucing-kucingan. Ada satu hal yang membuat saya merasa, atau memang, sangat spesial. Saya, yang sudah pernah pacaran 4 kali, adalah pacar pertama dari perempuan satu ini! Entah senang atau apa, saya belum pernah punya pengalaman ini. Mungkin pernah sih dulu ketika saya pacaran dengan seorang bule dan saya adalah pacarnya yang orang Asia pertama kali. Rasanya jadi beken gimanaaa gitu.
Tidak hanya saya yang spesial. Ternyata dia juga spesial buat saya. Diluar dari sifatnya yang beda sekali dengan perempuan-perempuan yang adalah mantan saya, dia adalah orang yang tepat janji. Sebagai orang yang, ya bisa dibilang lumayan, sering menepati janji dan bertemu dengan seorang yang juga tepat janji terus, jadi saya sangat senang. Apalagi, kalau janjinya menguntungkan, saya makin senang.
Intinya adalah, kami berdua saling beruntung. Saya beruntung memiliki dia dan dia beruntung memiliki saya. Saya tidak mau sesumbar untuk tidak akan putus dengan dia. Tapi saya juga bukan orang bodoh yang hanya bisa bilang Let it flow and let us follow. Saya bilangnya, yang penting berjuang apapun yang terjadi jangan sampai hal bodoh memutuskan kami berdua. Jangan coba-coba tanya saya hal yang bodoh itu yang macam apa. Saya juga ga tau. Soalnya semua alasan  putus itu biasanya emang bodoh.
                

March 19, 2012

Ketika tahun-tahun bertambah satu tahun

                Belakangan ini banyak kejadian penting dalam hidup saya. Bulan ini adalah satu bulan yang begitu melimpah untuk diri seorang saya. Karena itu banyak post saya akhir-akhir ini labelnya personal life.
                Bulan ini saya berulang tahun. Bertambah lagi umur menjadi satu tahun, semakin bertumbuh dewasa, baik pikiran maupun tubuh. Saya lihat lagi foto-foto lama yang terpajang di cermin, di atas rak, dan yang di gantung di dinding kamar. Semua foto saya dari saya bayi, TK, sekolah SD, lalu ke SMP, sampai akhirnya kemarin saya harus meletakkan foto baru bersama teman-teman SMA.
                Dulu saya belum kepikir punya teman-teman yang semacam mereka ini. Teman-teman yang sudah sama-sama besar, keren, pintar, hebat, licik, pelit, jorok, dan bisa ditambahkan sendiri kata-kata sifat yang lainnya. Hidup terasa cepat sekali ketika saya melihat foto-foto itu kembali.
                Apa mau dikata? Lihat kebelakang jejak sudah banyak dibuat, lihat kedepan jalan masih panjang terbentang. Hidup terasa lama ketika kita tidak tahu mau berbuat apa. Waktu itu memang lama kalau ditunggu, hanya orang bodoh yang nungguin waktu sambil ngeliatin jam. Tiap detik habis sudah, dan saya yakin mata orang bodoh itu makin lama makin pedih, apalagi kalau tidak kedip.
                Kemarin saya menghadiri pesta pernikahan teman. Begitu mewah, saya sendiri salut. Bagaimanapun juga, pesta pernikahan itu dibayar oleh kedua mempelai. Mereka pasti sudah bekerja cukup keras, sebelum akhirnya uang mereka terkumpul dan menentukan untuk menikah.
                 Saya sih masih remaja. Masih bocah. Hidup masih jauh untuk memikirkan pernikahan, tugas untuk besok saja masih malas saya kerjakan. Tapi, setidaknya saya harusnya sudah berpikir sedikit mengenai hal itu. Setidaknya saya harus berpikir, uang untuk menikah akan saya hasilkan dari mana? Saya akan bekerja apa sebelum saya memutuskan untuk mengumpulkan uang dan menikah?
                Ya, intinya begitulah. Walaupun sudah bikin rencana dari jauh-jauh hari, masih ada kemungkinan gagal. “We live in a world where luck is never on our side” Jangan pernah mengharapkan keberuntungan menimpa. Mendapatkan keberuntungan hanya membuatmu terlihat lemah, tetapi usaha dan perencanaan hidup membuatmu hebat.
                Setidaknya selama satu minggu ini, saya belajar itu. Ciao!