It has
been a while since I wrote my first short story, my first word. I remember the
time I say, dad I made a story you should read this. I also regret that time
when I start to write poem. I feel so dumb, so low. I broke my heart, I broke
others, I play nice and then I dump things I shouldn’t have. That is what I did
with being a young small self poet. The time when I write my first novel, it
was not finished. So did the next two novels I tried to write. Three times, not
finished. I start blogging, when I thought it was so easy and no one is reading
my blog. I never really want to publish anything from here. I just have so many
thoughts that I thought it was brilliant. Well, the truth is, nothing brilliant
ever came from me. Then I was amazed by this UWRF event. It took a major hit at
me. I’m still so young and greatly have an amazing opportunity that not every
young man in my city go to an event like this. Now, I’m an intern with a chance
of a real job in a few weeks. Not even graduated from any university. I should’ve
been proud. I’m not. I think I’m not ready. I can’t deal with this now. All I
know, I’m really in a slow mood and I hope a new intern would come by and help
me. I’m afraid of being alone the most. That is a real thing.
I write what i see, i see what you don't see. So, i write what you don't see to make you SEE
Showing posts with label Personal life. Show all posts
Showing posts with label Personal life. Show all posts
January 4, 2014
December 17, 2013
About "The Dream" of My Fantasy World
Everyone
have their own fantasy world. Like when they become the superhero or where
there’s a perfect world without crime and Borneo is green still. Something that
they can hope for, something people dream about.
I, too,
have my own fantasy world. A world where everything is normal. Beckham still
the football king of England along with Cantona, Jakarta’s street still filled
with commuters coming from all over small town nearby, and Joan Rivers still
have an agenda for lips pumping appointment.
No need for a fucking unicorn or
spaghetti everywhere or naked chicks always there on my bed whenever I want to.
That’s not “the dream”. Those things are overrated and it will be a chaotic-ending
kind of fantasy.
The only thing that could ever be
a fantasy is when my plan works well.
It will
not ever be “just” that. I always have a plan. It’s just a daily routine. I
keep things simple, I know what I wanna do at which hour and I will do it. If
even I didn’t do it, I can always handle with a backup plan.
Me and
my plan always works well. Things are getting worse when people came in or I invited them (on purpose or not it doesn’t
matter, being social is irresistable). Some people just can’t cooperate. The
most annoying people is the one who wasn’t invited by me with purpose and however
think they have the rights to know.
Well..
Just a simple fantasy world where my plan works well, daily ones not like a
future what not, without any obstruction. I just want time and people that is
inside my plan (somehow) to be good to me. Now, that’s “the dream”.
Labels:
Dream,
Personal life
December 8, 2013
16 Tahun Hitamnya Mr. Black
Kalau
aku buka surat ini dengan menuliskan apa yang seharusnya aku ucapkan setiap
tanggal 8 Desember kepadamu, mungkin terasa mainstream.
Mari kita hindari bersama. Jangan berharap aku akan menulisnya di awal.
Kamu
tahu banyak hal yang aku tidak tahu, tentunya dalam batasan kita masing-masing.
Aku tidak tahu bagaimana kamu bisa mencapai 80% headshots atau menghasilkan uang dari akun game. Aku juga tidak
mengerti apa rasanya selama 15 tahun
(mungkin) jadi orang terhitam di lingkunganmu. Hmm, ini menarik.
Satu-satunya alasan kamu
dipanggil dengan nama panggilanmu hari ini hanya karena kulitmu. Tidak ada
alasan lain. Bukan karena latar belakang yang gelap atau membawa ke-gelap-an
setiap kali kamu berjalan. Hanya kulit.
Aku tidak pernah merasa jadi
rasis kalau memanggil kamu, sepupuku sendiri, dengan nama panggilan itu. Keren,
tidak masalah. Namun, aku tidak tahu isi dirimu sepenuhnya, perasaan mendalam
apapun dari dirimu. Aku tahu kamu pasti merasa nama panggilan ini keren. Ah,
pasti. Tapi kamu tidak pernah bilang. Hanya bersikap seperti nama itu keren.
Sudah lebih 5 tahun sepertinya
kita memakai nama panggilan yang kita buat waktu ingin membuat podcast “Snapshot”. Kamu tentunya masih
ingat dengan jelas adegan saat aku memanggil nama panggilanmu sampai
menjulurkan lidah, masih lucu.
Selamat ulang tahun. Tentu aku
tidak akan menuliskannya di akhir, karena kamu pasti sudah menduga seperti itu
saat aku dengan jelas-jelas memberitahu kalau aku tidak ingin menuliskannya di
awal. Ini masih di tengah-tengah.
Kalau di kenang-kenang, terakhir
kali kita bicara dengan memanggil nama panggilan masing-masing kapan ya? Lama
tidak bermain game bersama, tapi aku culun punya. Tidak bisa main. Lama juga
sejak Snapshot terakhir kita.
Tahunmu terulang rutin setiap
tanggal 8 Desember. Aku hanya bisa bersyukur kalau kamu masih hidup setiap
tahunnya dan di tanggal 8 Desember. Satu-satunya sepupuku yang jago main game
dan jenius dalam tahun yang sama.
Selamat ulang tahun. Aku
menuliskannya dua kali. Aku tahu kamu sama sekali tidak menebak aku akan
menuliskannya dua kali. Berharap setelah menulis ini, di tanggal 8 Desember aku
bisa mengucapkannya. Di depan wajahmu, kepada si kulit hitam, dan hati yang
putih.
Sepupu tak berkado,
DeadMaster
Labels:
Bandung,
Personal life,
Saudara,
Surat
September 29, 2013
Dua Bulan
Sudah
dua bulan. Mendengar “Susah banget sih contact
lu? Gimana caranya?”; “Trus gue nanti contact
lu gimana?”; “Ha? Hilang lagi? Wah, kacau banget lu.”. Sudah dua bulan.
Menghilang dari dunia sosial yang begitu mudah. Sudah dua bulan. Jadi hantu dan
bayang-bayang keramaian dunia maya.
“Engga
sih, ga nyesel sama sekali.” “Yakin? Bukannya pasti akan banyak momen menulis
yang gemilang di tengah jalan, begitu?” “Engga juga, jarang. Dalam waktu dua
bulan yang sudah lewat, paling cuma ada berapa ide. Itu juga ga yakin jadi
semua.”
Tidak
hanya jadi bayangan dunia maya saja, bayangan dari hobi dan kebutuhan sendiri
itu lebih parah lagi. Tidak terlalu sulit melewati ini semua. Laptop HP mini,
yang sudah melayani kebutuhan gue lebih lama, dengan setia mendukung dalam
segala hal. Hanya saja, tidak dalam segi portable.
Sudah
dua bulan. Kalau kamu tau game “Plants
vs Zombies” ada satu level di bagian puzzles
yang namanya “Invisighost”. Rasanya seperti itu kira-kira. Selama dua bulan.
Selama
dua bulan. Paling sering bilang “Abang pinjem HPnya ya” ke sepupu gue yang
masih 9 tahun dan udah punya Blackberry Onyx. Beberapa kali kasih nomor HP itu
ke orang, padahal bukan milik sendiri. Padahal, apalah pula salahnya memberi
alamat e-mail? Udah zaman modern ‘kan ini? Itu yang terpikir dalam benak.
Akhirnya,
memang karena tuntutan zaman, gue berencana beli HP baru. Membuat janji pada
diri sendiri, pokoknya harus ada HP sebelum bulan Oktober. Bukan karena rasa
malu, tapi karena kebutuhan. Bukan karena anak zaman dan mengikuti kebutuhan
zaman, karena di dalam diri ada ego dan ego mengatakan, “Saya butuh HP!”.
Dua
hari sebelum Oktober. Gue membuat keputusan. Ini HP baru. Setelah dua bulan.
Sekarang itu dua hari sebelum Oktober, hari setelah dua bulan. Menyenangkan
sekali rasanya. Kembali berhubungan dengan alam maya.
*Ditulis masih sambil
dulanan HP baru.
Labels:
Keren,
Personal life,
Teknologi
July 20, 2013
Bersama Dua Sepupu
Seminggu
sudah tinggal di Bekasi, sebuah tempat sub-urban yang banyak pabriknya. Tidak beda jauh dengan
lingkungan rumah, hanya lubang-lubang di jalannya aja yang lebih banyak. Di
sini tinggal bersama dua anak kecil, ibu mereka, dan bibi yang sudah tua dan
buta huruf. Lumayan, tidak buruk sama sekali. Makan, main playstation, tidur, dan mengurus dua anak kecil itu adalah kegiatan
yang terjadi selama satu minggu ini. Rasanya seperti terisolasi dari luar.
Kehidupan
yang benar-benar berbeda selama satu minggu ini, kehidupan seorang baby sitter. Kalau ada yang suka nonton
serial Amerika dan kebetulan mengetahui serial Melissa and Joey, pasti mengerti kalau saya kira-kira ada di posisi
Joey. Hanya saja, anak-anak yang diurus Joey lebih besar.
Liburan yang cukup menyenangkan. Anehnya,
makan-tidur seperti ini pun tidak membuat saya makin gemuk. Selama dua minggu
sama sekali tidak berolahraga. Mungkin esok hari akan bermain tenis. Impian gue
untuk jadi gemuk dan kekar tertunda jadwalnya selama dua minggu. Tidak berasa,
kehilangan HP saja membuat rencana hidup bergeser begitu besar. Ditambah lagi
dengan tidak bersekolah.
Untuk
sementara saya pikir hidup akan agak kacau. Meninggalkan banyak kegiatan,
komunitas dan hal-hal penting seperti keinginan untuk potong rambut selama dua
minggu sudah terlalu lama dan terlalu banyak yang terlewatkan untuk anak
jalanan macam gue. Walaupun, sekali lagi, harus tetap berterima kasih pada
teknologi sosial media yang membantu memonitor dari jauh.
Ya
hidup ini akan kacau terus kalau selalu mengeluh. Gue seneng bisa berada di
antara dua sepupu yang banyak makan dan sering bertengkar. Mereka memberi
kebahagiaan dengan cara yang berlainan, setidaknya berlainan dengan kombinasi
yang bagus. Yang lebih tua itu anak yang kurus, lebih coklat dari yang muda dan
agak seperti perempuan, misalnya bawel dan suka marah sambil teriak-teriak. Dia
memberikan peran besar dalam menemani gue nonton TV. Dia bisa mengikuti
serial-serial yang saya tonton dan tidak disangka-sangka dia juga mengikuti E!,
khususnya sejauh hari ini saya tau dia mengikuti Giuliana and Bill. Saat gue sedang tidak menonton, yang lebih muda,
dan lebih gendut, serta lebih putih dan jauh lebih pecicilan, menemani gue main
bola di playstation.
Saat
makan adalah saat yang paling tidak menyenangkan bagi yang tidak makan, namun
berada di sekitar mereka saat mereka makan. Waktu gue makan dan posisi duduknya
berada di antara mereka berdua, mereka akan makan dengan tenang seperti
biasanya. Di waktu yang lain, ketika saya sudah makan atau belum ingin makan,
mereka akan makan dengan sangat lama. Yang mereka lakukan adalah antara ngobrol
mengenai game dan film, atau
bertengkar. Si adik yang biasanya menggoda kakaknya sehingga si kakak marah.
Kegiatan
seperti ini yang gue hadapi selama satu minggu. Merepotkan? Hm, tidak juga.
Menyenangkan? Bisa dikatakan demikian. Andai saja ada satu lagi sepupu gue yang
selalu bersama dari kecil, maka kami berempat akan meledakan rumah ini hanya
dalam satu hari saja, maksudnya membuat porak poranda yang seru.
Hidup
bersama keluarga itu berkah. Kalau ngomongin berkah di bulan Ramadhan begini,
mungkin bisa dikatakan ini berkah yang besar.
July 19, 2013
SD Pengecualian
Setelah
bertambah besar dan bertumbuh lebih dewasa, tanggung jawab lebih besar, dan
lulus dari jenjang pendidikan menengah atas, Sekolah Dasar sepertinya tidak
lagi signifikan. Setidaknya, begitu bagi kebanyakan orang. Menurut beberapa
orang, teman-teman di SD tidak terlalu signifikan karena waktu SD masih polos,
masih belum banyak yang bisa diceritakan bersama, belum terbentuk
ikatan-ikatan yang kuat seperti ketika punya teman di SMA atau di kampus nanti.
Pertemanan enam tahun di SD sama sekali tidak sebanding dengan tiga tahun di
SMA.
Tidak
bisa dipungkiri, dalam kondisi apapun di seluruh dunia ini selalu ada
pengecualian. Di jenjang yang seharusnya masih begitu polos, jenjang yang masih
membingungkan soal perkalian pecahan dan cerita Si Pitung, ada anak-anak yang
sudah tidak memikirkan itu lagi. Mereka sudah memikirkan kata-kata yang lebih
sulit dan belum pernah diajarkan oleh guru mereka, seperti cinta atau pacar
atau bahkan kata-kata yang lebih vulgar. Hal-hal seperti ini lazimnya
dibicarakan saat anak-anak sudah menjadi remaja sekitar umur 14-17 tahun, bukan
anak bocah 10-13 tahun.
Selain
masalah topik pembicaraan, memori persahabatan juga berkait soal permainan.
Anak SD main tembak-tembakan dan kelereng, anak SMA main motor dan mobil. Waktu
SD mainan, waktu SMA beneran. Walaupun begitu, sebenarnya dua-duanya sama-sama
mainan. Yang lebih dari itu biasanya jadi anak
nongkrong, seperti kata MTV. Tempat nongkrong
bisa jadi satu tempat yang menjadi patokan ingatan-ingatan lainnya, karena
pasti akan ada banyak cerita. Anak SD, biasanya belum nongkrong karena belum punya uang, belum boleh pergi-pergi ke
tempat jauh. Namun, sekali lagi harus diingat, ada pengecualian.
Pengecualian-pengecualian
ini sebenarnya sedang tertuju pada SD gue sendiri dan pada angkatan gue juga.
Perlu diketahui, cerita ini bukanlah hal yang dibanggakan, namun ini juga yang
membuat kami (walau berpencar) tetap masih bisa berhubungan dengan (sangat,
bagi beberapa) baik. Jadi, beberapa dari anak-anak ini sempat saling suka dan
pernah sekian kali menyatakan cinta. Kita juga sering sekali pergi ke mall
Arion. Biasanya di sana beli atau sekedar baca komik di toko gunung agung,
makan di KFC, lalu yang paling aneh dari kegiatan anak SD adalah Photo Box.
Mengenai
Photo Box, tahun 2000-an awal Photo Box sedang booming. Hampir tiap kali waktu kita-kita ke mall, kita masuk ke
Photo Box. Narsisnya kita waktu SD dulu mungkin akan dibilang alay hari ini,
tapi sebagian besar normal. Biasanya hanya senyum lebar-lebar, melet ke
samping, pura-pura musuhan, atau tangan metal/peace. Pernah sekali waktu, gue,
Joshua, Joel sedang di Photo Box, lalu kami membuat pose-pose yang buruk dan
tidak layak cetak. Untungnya, ada kesempatan kedua dengan memencet tombol yang
sebelah kiri. Waktu itu, gue juga lupa ada apa, kita sepertinya sedang
terburu-buru. Sulit untuk menentukan sebaiknya cetak atau meluangkan waktu
lebih lama untuk foto ulang. Karena waktu untuk menentukan dihitung mundur,
maka Joshua sebagai yang ingin memencet tombol panik. Akhirnya, ia memencet
tombol untuk dicetak. Maka jadilah foto itu. Gue sendiri udah ga punya lagi
fotonya. Setelah SMP, gue dan Joel juga pernah sekali Photo Box. Lupa di mana,
tapi gue foto pake baju pramuka. Jadi itu pasti udah SMP.
Jadi
ini adalah cerita keanehan singkat yang terjadi waktu gue SD. Angkatan yang
dibawah kita aja sepertinya ga melakukan hal-hal macam itu. Ini juga yang
membuat teman SD masih signifikan. Jangan cap gue karena gue anak sosial dan
akhirnya jatuh pada ekstrim SKSD, tapi sepertinya memang masih deket. Besides, sosial media membantu cukup
banyak. Tetep aja, signifikan atau engga kan berdasarkan memori sama hati.
Kalau sudah di umur yang sekarang, ngomongin soal hati jauh lebih pas.
November 15, 2012
Apalah Arti Sebuah Nama?
Hal yang akan saya ceritakan
ini, mungkin saja, common untuk
remaja Indonesia yang sedang berpacaran. Saya masih ragu apakah ini hal yang
biasa untuk dibicarakan di kalangan pasangan remaja di Indonesia atau bahkan
seluruh dunia. Maaf ya, belum sempat riset dulu.
Biasanya, hal ini dibicarakan oleh pasangan-pasangan yang
merasa hubungannya adalah hubungan yang panjang dan bertahan lama hingga
menikah. Saking mereka percaya bahwa mereka akan lama, maka sekali waktu akan
terjadi pembicaraan macam ini.
Bicara soal pembicaraan yang akan saya bicarakan, kalau di
bayangan pembaca sekalian ada hal yang aneh-aneh, buang saja. Ini hal yang
konyol dan sama sekali tidak berbau intim atau seksual dan hal-hal yang
memiliki kecenderungan pornografi dalam otak. Hanya saja, hal ini lucu ketika
dibicarakan begitu dini.
Apa yang lucu? Selain karena waktu untuk membicarakan hal
ini begitu dini, pasangan yang membicarakan hal ini benar-benar bersikap
seperti orang yang sudah menikah dan sedang menunggu keajaiban itu datang.
Padahal, (nah, ini juga salah satu lucunya) mereka sedang membicarakan ini
lewat SMS atau telepon, bukan muka dengan muka di atas satu tempat tidur yang
sama.
Pembicaraan ini, ketika sudah menikah, biasanya dibicarakan
muka dengan muka dan di atas satu tempat tidur yang sama atau di atas sofa
empuk yang sama sambil (mungkin) berpelukan atau saling menatap romantis satu
sama lain. Sejujurnya ya, itu juga hanya bayangan saya. Bayangan ideal saya
nanti. Saya kan belum menikah.
Intinya, harusnya ini adalah pembicaraan nanti saja dibicarakannya sewaktu
menikah dan bukan sewaktu pacaran.
Saya bukan ingin mencela pasangan yang membicarakan hal
ini, saya sendiri membicarakan hal ini dengan pacar saya. Saya sendiri
membicarakan itu karena sedang kehabisan ide untuk menghibur sang kekasih yang
sedang terkapar sakit. Jadinya, saya harus membicarakan hal-hal futuristik yang
menyenangkan, seperti pembicaraan yang akan saya bicarakan sekarang.
Sudah enam paragraf pembukaan, saya pikir cukup sudah
menggesek-gesek rasa ingin tahu pembaca megenai pembicaraan ini. Pembicaraan
itu adalah mengenai nama anak bayi nantinya. Pembicaraan yang membawa sepasang
kekasih terbang ke dunia khayalan yang agak jauh. Khayalan indah yang melupakan
betapa susahnya sebuah perjalanan cinta sampai bisa menikah, melupakan betapa susah
mengurus seorang anak bayi sampai besar, melupakan segala macam hal buruk.
Sejujur-jujurnya, sebelum kekasih jiwa saya menanyakan saya
“Kalau punya anak perempuan akan diberi nama apa?”, saya sudah sangat tau
jawabannya apa. Entah apakah saya ini terlalu gay atau apalah kata orang, tapi memang saya sudah pernah pikirkan
entah juga dari sejak kapan. Jadi, ketika ditanya hal itu, saya bisa menjawab
dengan lancar beserta arti-artinya dan alasan-alasan saya memilih nama itu.
Begitu ganti giliran bertanya, pacar saya masih pikir-pikir
(saya pikir, ini memang yang seharusnya, saya memang agak aneh). Karena sedang
sakit dan pusing, maka saya yang memikirkan ide-idenya dan dia hanya “iya” atau
“engga”. Beberapa kali, ia bertanya “Memangnya itu artinya apa?”. Ada yang saya
bisa jelaskan ada juga yang tidak. Penjelasannya beberapa hasil googling. Ya, ini adalah hal-hal yang
harus dilakukan pacar saat pacarnya butuh hiburan dan sedang sakit.
Sebenarnya, bisa saja saya mengatakan apa yang dikatakan
sang penulis drama terkenal, Shakespear, “Apalah arti sebuah nama?”. Memang
sangat bukan saya, bagi saya hampir semua yang ada di dunia ini harusnya ada
artinya. Hal-hal lainnya yang tidak ada artinya, bahkan bukan sesuatu hal.
Kita memang benar-benar harus menanyakan kepada diri kita
sendiri, apalah arti nama diri sendiri. Bagi beberapa orang tua, nama berarti
harapan orang tua terhadap anak itu, beberapa hanya ingin supaya anak itu
memiliki nama yang keren. Setelah tau arti nama diri sendiri, apakah kita
benar-benar harus menghidupi arti nama kita?
Pernah dengar cita-cita anak mulia yang berkata “Saya ingin
begini karena dengan begitu saya akan membahagiakan orang tua saya” atau
kata-kata prioritas mulia dari seorang anak “Yang penting orang tua saya
bahagia”. Nah, begitu juga dengan menghidupi arti nama sendiri. Karena yang
memberikan nama adalah orang tua dan nama adalah harapan orang tua, maka
hidupilah arti nama untuk membahagiakan orang tua.
Bagi anak-anak yang tidak pernah diberitahukan arti namanya
atau orang tuanya memang tidak bermaksud memberikan namamu dengan arti dan
harapan khusus, maka carilah arti namamu sendiri. Setelah itu, hidupilah
sendiri.
Sebenarnya, nama kita itu diberikan Tuhan. Hanya saja,
lewat orang tua. Ada maksud Tuhan lewat nama yang diberikan kepada kita.
Walaupun kadang, artinya aneh atau tidak berguna. Semacam orang Batak Karo yang
namanya bisa merupakan benda pertama yang ayahnya lihat sewaktu mendengar
anaknya sudah lahir. Tetap saja, semua hal tidak mungkin di luar kehendak
Tuhan.
Karena alasan-alasan semacam ini, saya merasa pembicaraan
mengenai nama adalah pembicaraan yang serius sekaligus menyenangkan.
Menyenangkan membayangkan bayi lucu dengan nama yang sudah kita tentukan dan
pikirkan matang-matang dan tentu saja harus dibesarkan dengan serius agar
hidupnya sesuai dengan apa yang diharapkan lewat nama yang diberikan.
Itu alasan dari bayangan ideal saya saat sepasang kekasih
yang sudah menikah membicarakan hal ini dan itu juga alasannya mengapa begitu
lucu dan polosnya ketika sepasang kekasih remaja yang masih naif membicarakan
hal ini.
November 7, 2012
Semangat Menulis dari Hati ke Hati
Belakangan ini, jarang sekali
saya punya kesempatan untuk menulis. Setiap hari, saya selalu disibukkan oleh
pekerjaan sekolah, ada pacar yang serius, ada tim futsal yang latihan terus, ada
juga murid yang sangat-sangat butuh dibantu, lalu ada rumah yang harus dirapikan.
Wah, repot! Saya setiap hari sampai di rumah, minimal jam setengah tujuh. Tentu
saya sangat bersyukur kalau bisa pulang lebih awal.
Rasanya, seperti sudah kerja
kantoran saja, bahkan mungkin lebih parah. Saya masuk sekolah jam tujuh pagi
dan selesai sekolah jam setengah tiga. Setelah itu, ada tambahan pelajaran,
tentu saja karena saya sudah kelas 12. Hari Selasa, latihan futsal. Hari Rabu,
saya mengajar ekskul. Di kondisi yang seperti ini, saya baru menyadari betapa
waktu itu uang. Lebih lama pulang, lebih mahal ongkos hidupnya.
Selama beberapa minggu yang
sibuk ini, saya juga belajar satu hal sebagai seorang penulis muda. Rasa rindu
akan berkata-kata lewat tulisan. Saya ini bawel, seringkali kepuasan berkata-kata
oral terpuaskan dengan baik, tetapi saya juga suka menulis. Kerinduan saya
selalu terbendung oleh banyaknya hal yang harus dikerjakan dan juga kondisi
hati yang makin jarang bahagia. Walaupun begitu, saya juga masih suka menulis puisi
di kertas coretan sewaktu ujian matematika, atau menulis artikel protes kepada
sekolah di selembar kertas (dan parahnya, saya suka sengaja berusaha terlihat sedang
menulis dan tidak memperhatikan, supaya guru saya baca keresahan hati saya, dan
mungkin, teman-teman juga), dan beberapa kali saya juga menulis cerita-cerita
pendek.
Menulis esai untuk tugas masih
hal yang menyenangkan bagi saya, tidak terasa seperti tuntutan, kecuali pelajaran
sejarah. Saya masih menikmati proses itu. Penjabaran sebuah masalah, lalu
memecahkannya seperti sebuah ahli yang datang dan sedang menyelamatkan dunia
intelektual.
Dalam masa-masa kerinduan yang
amat sangat, pikiran jernih saya lahir kembali dengan sebuah prinsip baru.
Sebuah sentuhan penuh arti dalam jiwa dan sebuah ketukan ilahi dalam pikiran. Saya
terselimuti oleh kata-kata ini sepanjang beberapa minggu, sampai saya menjadi
panas, ingin cepat-cepat keluar lagi.
Jadi begini, ini adalah mengenai
jawaban dari pertanyaan “Mengapa manusia harus menulis?” Manusia tercipta dari
kata-kata. Manusia hidup dengan nama, sebuah bagian dari kata. Manusia
bersosialisasi dengan manusia lain, dengan binatang, dengan tumbuhan lewat
kata-kata. Simbol dan sandi pun melambangkan sebuah kata. Manusia tak dapat
terpisah dengan kata. Bahkan, penyebutan “manusia” membutuhkan sebuah kata.
Selama di kendaraan umum, di
kelas selama belajar, di kelas selama mengajar, terkadang di gereja sewaktu
mencatat khotbah, selama termenung menatapi hujan, dalam berbagai macam
kondisi, selama itulah saya memikirkan kata-kata saya yang itu. Ketika
terungkap, bahwa manusia tak terpisahkan dari kata, di situlah semangat membara
keluar dari hati.
Hati itu memang kompleks. Butuh
lebih dari jutaan hadiah materi untuk memuaskannya, tetapi hanya dengan satu
janji manis, maka sang pemilik hati akan tersenyum. Ini mengapa cinta itu topik
yang laku, karena cinta menawarkan janji termanis yang pernah ada. Dan cinta,
tak dapat lagi diungkapkan dengan kata.
Karena itulah. Karena itulah
saya masih terus. Terus menulis. Terus memiliki hati yang berkobar. Karena,
saya cinta menulis. Menulis itu refleksi
hati, refleksi hidup, refleksi cinta dengan manusia. Saya cinta merefleksikan
cinta saya.
Ah, kata-kata itu mudah dipermainkan,
tetapi susah dipegang. Kalau tidak dipaksa berhenti menulis, saya tidak bisa
berhenti, maka tulisan manusia berhenti. Biar iluminasi dan afeksi yang diberikan
mengalir sendirinya dalam pikiranmu, ya.
Rokok+Polusi
Sekarang, saya bukannya sedang
ingin bicara bahwa rokok menyebabkan polusi udara, lalu maka itu saya menentang
orang untuk merokok agar udara bersih. Bukan itu poinnya.
Memang, rokok itu menyebabkan polusi udara, tetapi tidak
secara makro. Polusi udara yang disebabkan asap rokok tidak lebih besar
dampaknya dari asap kendaraan atau asap pabrik. Kita yang tinggal di Jakarta,
pasti mengerti.
Kita, yang adalah orang-orang aktif, orang-orang yang
selalu bepergian dan melewati jalanan Jakarta Raya yang dipenuhi kendaraan
bermotor hingga macet tak karuan, setidak-tidaknya memiliki paru-paru yang
sudah tidak lagi sehat. Kandungan zat-zat beracun di paru-paru kita, setidaknya
sudah cukup untuk merusak banyak bagian lainnya di tubuh kita, seperti aliran
darah, jantung atau apalah yang berhubungan dengan paru-paru. Saya sih percaya seluruh organ di tubuh kita
berhubungan. Maaf ya kalau saya kurang mengerti peta biologis, saya anak
sosial.
Hanya dengan hidup seperti biasa di kota ini, sudah bisa
menyebabkan penyakit. Apalagi, ditambah dengan merokok. Mungkin suatu saat
nanti atau mungkin sudah ada orang yang tidak merokok, tetapi terkena kanker
paru-paru.
Ini yang ada dipikiran saya ketika saya menyadari hal yang
saya tulis di atas: Ekstrimnya, semua orang di kota ini pasti akan mati karena
polusi udara. Secara rata, mati karena kanker paru-paru. Lalu, apa yang
sebenarnya perokok lakukan? Hanya mempercepat kematian itu. Penyebabnya akan
sama, kanker paru-paru juga.
Seorang teman baik saya pernah berkata, orang yang merokok
itu, dalam setiap rokok yang dia hisap, menghabiskan 2 menit waktunya untuk
menghisap rokok dan 2 menit waktu hidupnya di masa depan. Saya pikir, iya
memang. Walaupun tidak setepat itu, tapi iya benar. Merokok itu mempersingkat
hidup.
Tahu tidak, betapa hidup itu indah? Betapa kesusahan
membawa kita untuk bertumbuh menjadi orang yang lebih kuat dan kegirangan
meringankan segala pekerjaan. Jangan merokok untuk kedua alasan itu. Susah,
tidak perlu dibius dengan merokok. Senang, juga tidak perlu dirayakan dengan
merokok.
September 1, 2012
Jadi Guru Ekskul
Jadi guru itu enak juga, ya.
Agak merasa lumayan berkuasa. Apalagi kalo jadi guru ekskul. Jadi guru ekskul
lebih enak daripada jadi guru pelajaran, karena murid-murid yang masuk ekskul
adalah murid-murid yang benar-benar minat. Kalau kondisi sudah begini, setiap
kali bicara tentu didengarkan.
Konyolnya, atau juga bisa
dibilang uniknya, saya jadi murid dan jadi guru di satu sekolah yang sama.
Kalau kamu hebat, kamu pasti bisa tebak saya jadi guru ekskul apa. Ya, itu.
Ekskul yang ada hubungannya sama tulis-menulis. Ekskul Penulisan Kreatif, lebih
tepatnya. Bukan hanya mengenai menulis cerita dan artikel, tapi saya juga
ajarkan mereka tulis puisi, naskah, dsb.
Kemarin ini, baru minggu kedua
saya mengajar. Satu minggu satu kali, namanya juga ekskul. Seru memang,
walaupun hanya baru dua kali. Saya tidak sabar menunggu minggu-minggu
berikutnya.
Ngomong-ngomong, saya sudah bisa
susun silabus kecil-kecilan, lho.
Asik, ya! Pengalaman baru. Nanti, seiring berjalannya waktu, pengalaman saya
mengajar bisa jadi pengalaman yang berpengaruh dalam hidup saya ke depan.
Semoga begitu.
Sebenarnya, ada cerita dibalik
saya bisa jadi guru ekskul. Jadi, guru ekskul sebenarnya, yang adalah juga guru
besar sastra sekolah saya dan juga wakil kepala sekolah, tidak bisa mengajar
karena jadwalnya sudah padat. Karena di sekolah saya, saya terkenal akan
kemahiran menulis, jadilah saya yang dipilih untuk menjadi guru.
Dan jangan salah sangka, saya tidak jadi guru bayaran.
Kadang, ingin juga minta gaji, tapi saya juga belum yakin saya sudah sehebat
itu untuk dapat gaji. Lama-kelamaan, saya jadi ingin jadi guru ketika nanti
besar. Kata orang, guru adalah pekerjaan yang mulia, itu kenapa Yesus memilih
menjadi guru.
Ah, dunia ini tidak bisa diprediksi. Tuhan membentuk saya
dan kamu secara perlahan dan misterius. Ketika kita setia, kita akan tahu dan
melihat sendiri nanti. Cita-cita itu seperti ilusi jadinya.
Labels:
Menulis,
Personal life
July 15, 2012
Pacaran dengan Stevani Widjaja 3
Sudah 3 bulan. Perjalanannya
makin dibuat susah dengan liburan panjang sekolah. Awalnya sih menyenangkan. Kami berdua (dan dengan segenap angkatan kami) pergi
ke Lombok. Di sana kami lumayan banyak menikmati waktu-waktu berdua.
Minggu kemudian, datanglah
penyiksaan batin kepada si cewe. Saya (dengan senang) pergi meninggalkan dia ke
Kupang. Pergi ke Kupang, yang jauh, tentu tidak akan secepat itu. Saya menetap
di sana selama 7 hari. Berjalan-jalan ke sana kemari tanpa khawatir akan
keberadaan yang di Jakarta, saya tetap yakin Tuhan menyertai dirinya dari
godaan. Lebih kacau lagi adalah ketika 3 hari terakhir saya pindah tempat
menginap dan sama sekali tidak ada sinyal. HP saya memang butut.
Maka terdengarlah isak tangis
dari Jakarta Raya sampai ke telinga saya. Tapi, namanya juga sudah malam, maka
saya meneruskan tidur saya dengan lelap. Maklum, saya tidurnya sama orang yang
suka ngorok, jadi suara tangisannya
kecil sekali.
Setelah pulang dari Kupang, saya
langsung dipaksa pulang ke Jakarta. Padahal, tadinya saya mau ikut sepupu saya ke
Bandung dan menginap selama 2 hari. Tapi, apa daya. Jadilah saya pulang ke
rumah dan esok harinya bertemu si cewe.
Tidak lama setelah hari itu,
dibalasnya pula saya. Dia pergi ke puncak selama 5 hari dengan keluarganya. Tinggallah
saya di Jakarta bersama dengan isinya. Sekarang saya hampir tidak ingat sama
sekali dengan apa yang terjadi selama hari-hari itu.
Setelah 5 hari dari puncak, kami
harus menikmati kebersamaan kami dengan menjadi panitia MOS untuk anak murid
baru. Acara pertamanya itu adalah camping
di Bogor. Ya, lumayanlah. Di sana kami bekerja sama sebagai teman sekerja yang
setara. Selama kami mempersiapkan bermacam-macam hal, tidak jarang kami
mendengar beberapa guru (termasuk Ibu Kepala Sekolah) dan teman-teman yang lain
menggoda kami dan mengelu-elukan (maaf, ga tau lagi kata yang lebih tepat).
Persis setelah acara camping, si cewe dengan santainya
meninggalkan saya ke Singapore selama 3 hari. Giliran dia yang susah
berkomunikasi. Harus pinjam BB tantenya dulu untuk bisa online Twitter
sebentar. Selebihnya tidak bisa apa-apa lagi. Kemudian, waktu si cewe ini
pulang, saya menuliskan sebuah tulisan selamat datang dan saya kirim ke
emailnya. Kata si cewe, dia langsung ga bisa tidur setelah baca.
Oh iya, ada tambahan wacana. Hari
sabtu kemarin (14 Juli 2012), ada dialog kecil antara saya dan papa saya B-)
Papa:
Jadi gimana kamu sama Vani rencananya?
Aldo:
*Dengan santai dan cool abisss* Ya, jangka panjang pa.
Papa:
*Clingak-clinguk cari Mama*
Aldo:
Kenapa? Papa baru sadar dia Cina? *masih santai*
Papa:
Ya, kalo bisa orang Batak bang...
Dialognya selesai sampai di situ
saja. Mungkin Papa sama sekali tidak ada maksud rasisme. Papa sepertinya sedang
sadar kalau saya tinggal anak satu-satunya dan laki-laki pula. Kakak saya yang
perempuan sudah diambil orang Inggris, lalu saya? Tidak salah kalau Papa ingin
saya sama orang Batak. Tapi, saya lebih tidak salah kalau jatuh cinta sama orang
Cina.
Labels:
Jakarta,
pacaran,
Personal life,
Traveling
July 7, 2012
Soal Feminitas dan Jiwa Saya
Semua orang di dunia ini, baik
laki-laki maupun perempuan, punya sisi maskulin dan feminin masing-masing.
Kadar kedua sisi itu berbeda-beda tiap orang. Ada perempuan yang
maskulinitasnya lebih besar daripada perempuan-perempuan lainnya, begitu juga sebaliknya
dengan laki-laki.
Saya, yang sepertinya memiliki
takdir hidup untuk selalu berada di sekeliling perempuan banyak (dan bukan
mainan perempuan maksudnya), agaknya menjadikan saya jadi banyak tau soal
perempuan, tapi itu tidak membuat saya jadi seperti perempuan. Hal ini saya tidak
hiperbola sama sekali. Saya berkali-kali berada di acara yang isinya banyak
perempuan semua. Dulu waktu kakak saya kuliah dan saya masih kecil (masih SD), saya
sering diajak berkumpul bersama teman-teman kakak saya yang perempuan semua.
Jadi, ya kira-kira bergitulah gambarannya.
Karena sejak kecil saja sudah
begitu, akhirnya saya menemukan ketertarikan-ketertarikan di dunia
perempuan-perempuan itu. Karena kebetulan waktu itu kakak saya dan
teman-temannya anak FISIP, jadilah saya hari ini ingin masuk di jurusan yang
sama dengan mereka. Ada banyak hal lagi yang menjelaskan kenapa saya begini
hari ini, macam kebawelan saya, ketertarikan saya dengan dunia tulis menulis,
kehebatan saya dalam merangkul wanita dengan muka unik begini, dan berbagai
macam hal lainnya.
Sisi feminin yang berkembang
bersamaan dengan sisi maskulin saya membuat saya bisa mengerti perempuan lebih
dari laki-laki biasanya tanpa kehilangan kelaki-lakian saya. Saya masih bisa
pakai celana jeans yang untuk perempuan, lalu membawa tas yang ada warna pink
di pinggirnya tanpa terlihat sebagai perempuan. This is what’s great from me!
Saya mungkin pernah manicure, tetapi saya juga pernah
berkelahi sampai berdarah-darah. Gaya bicara saya terkadang bisa dibilang
seperti perempuan, tetapi isi bicaraan saya laki-laki banget. Ya, pokoknya
hal-hal macam itu deh yang membuktikan
keseimbangan kedua sisi, feminitas dan maskulinitas, di dalam jiwa saya. Kamu
gimana? Sudah seimbang?
July 1, 2012
As Tall As My Shadow
Kamu pernah lihat bayangan akan
dirimu sendiri? Tentu saja, ini pertanyaan yang agak bodoh. Lalu, apakah kamu
pernah menyadari kalau bayanganmu lebih tinggi dari dirimu? Saya sering.
Saya ini selalu punya masalah
dengan tinggi badan. Saya ini laki-laki, dan katanya laki-laki harus lebih
tinggi daripada perempuan, sedangkan saya lebih pendek dari pacar saya sendiri
(dan saya tidak malu, hanya saja ingin lebih tinggi).
Ingin sekali rasanya saya
setinggi bayangan saya. Terlihat lebih macho
untuk seorang laki-laki. Tapi, ketika saya setinggi bayangan saya ketika saya
pendek, bayangan saya juga akan ikut makin tinggi. Dan terus saya akan ingin
setinggi bayangan saya itu. Sampai nanti tidak ada ruang lagi untuk bayangan
saya bisa bertumbuh.
Ah, saya ini. Cuman mimpi yang
ditinggin. Bukan badan!
June 14, 2012
Hilang Laptop Satu Hari
Satu malam saja bisa tak tenang
kalau tak bersama. Barang inilah belahan jiwaku yang satu lagi (setelah Stevani
Widjaja, tentu saja). Laptop ini bukan hanya alat untuk nonton film, atau denger
musik, atau kerja, atau internetan, tapi laptop ini juga satu-satunya alat yang
nyaman digunakan untuk berkomunikasi dengan segenap makhluk di jagat raya (dan
sekali lagi, terutama pacar).
Selalu saja karena ulah saya
yang bodoh, laptop saya bisa tertinggal di dalam mobil teman saya. Jadi
intinya, kejadian-kejadian itu di luar perencanaan saya untuk hari itu.
Akhirnya mau tidak mau saya harus merelaka sisa hari saya tanpa sang laptop.
Ini mungkin cerita yang tidak
penting, tetapi saya belajar satu hal dari kejadian ini. Saya belajar bagaimana
saya tidak boleh terikat kepada satu hal, apalagi sebuah barang. Tadinya, saya
hampir tidak mood lagi untuk ngobrol
sama pacar saya. Tapi, saya pikir bodoh juga meresikokan relasi hanya karena
sedih tak ada laptop.
Mungkin yang kalian bayangkan
akan saya kehilangan laptop sehari biasa saja, tapi seperti yang saya katakan,
saya agak lebay untuk satu hal ini.
Bisa kehilangan semangat. Setengah dari hidup ada di sini, rasanya.
Sekali lagi, atas kejadian ini
saya belajar untuk tidak menjadikan laptop sebagai berhala saya. Berhala yang
mengganggu relasi dengan Tuhan, orangtua, teman, pacar, dan makhluk lainnya
yang sering menghinggapi saya. Cheers!
Lombok, we're in love
Ini bukan sebuah cerita yang
isinya cinta lokasi atau cinta-cintaan anak remaja. Ini soal kami, manusia
ciptaan Tuhan yang direncanakan satu angkatan bersama dan bersama-sama juga
jalan-jalan ke Lombok. Bukan di pulau Lombok kami baru menemukan kasih akan
satu sama lain. Hanya saja, di pulau ini kami lebih menemukan kebersamaan dan
kasih lebih dari biasanya di kota Jakarta.
Mungkin candaan kami tidak
berbeda dari yang biasa, mungkin kebiasaan kami semua masih sama seperti waktu
di Jakarta, tetapi yang kami bawa pulang banyak sekali. Ini juga bukan soal
oleh-oleh barang, tapi bekal baru dipikiran kami semua. Kedekatan kami semakin
dekat, candaan kami berubah dan makin lucu, serta banyak hal lainnya yang mungkin
kecil tapi sudah berubah.
Ini hanya beda lokasi. Dengan
orang yang sama, dengan perilaku yang sama. Ah, saya sendiri tidak pernah pikir
kenapa pulau Lombok yang akhirnya terpilih untuk jalan-jalan kali ini. Tapi,
anugerah Tuhan tak usah lagi ditanya. Kita tugasnya hanya menikmati.
Labels:
cinta,
Personal life
June 9, 2012
Pacaran dengan Stevani Widjaja 2
| Lombok, we're in love |
Sekarang saya sama Vani sudah di
tengah-tengah tri-semester pertama. Yah, baru sebentar saja kami melihat satu
sama lain. Kesebentaran yang kami jalani ini rasa-rasanya akan menjadi lama nantinya.
Peduli amat kalau orang bilang kami
masih SMA dan masih kecil, yang penting kami sekarang sedang berjuang.
Terlalu cepat memang, harus saya
akui, untuk berkomitmen dengan satu orang. Tapi mau bagaimana lagi, ini sudah
pilihan hidup yang saya jalani. Kalau saya ingkari, mungkin saya akan terkutuk.
Dalam dua bulan ini kami sudah
saling memberitahu begitu banyak hal. Kebanyakan adalah hal-hal yang sepele.
Kata kepala sekolah saya, hal-hal sepele itu bukan hal-hal yang tidak perlu.
Itu justru adalah hal-hal kecil yang perlu diperhatikan, karena hal-hal kecil
itu nantinya akan membangun satu hal besar. Kesepelean yang seringkali kami
bicarakan sedang membangun sebuah hal yang besar bernama relasi.
Selama ini kami sudah mulai sedikit-sedikit
bertengkar kecil soal hal yang sepele. Biasanya saya yang mulai. Saya bukannya
perfeksionis juga, hanya saja agak banyak maunya. Sebenarnya beberapa kali bisa
dikatakan terlalu banyak.
Harus saya akui juga, dalam
waktu dua bulan lebih ini sudah banyak sekali kemajuan yang kami alami. Dulu
pertama sekali kami tidak bisa duduk diam bicara dan bertatap wajah, sekarang
lama-lama bisa. Ada beberapa hal lagi yang saya simpan sendiri dan bukan untuk
konsumsi publik.
Kira-kira beginilah setelah dua
bulan. Belum terlalu banyak cerita. Kami akan membuatnya terus tiap hari, saya
yang akan menulisnya. :)
Labels:
cinta,
Personal life
June 2, 2012
SMP - SMA
Waktu SMP ga pengen cepet2 lulus. Waktu SMA
selalu kira tiap UAS langsung lulus. Begini kalo SMP di P3 dan SMA di Calvin. Begitu
tweet saya beberapa jam yang lalu.
Hari ini adalah hari pengumuman UN anak SMP se-Indonesia. Saya
jadi mengingat-ingat kembali masa-masa SMP dulu. Ingat pertama kali MOS dan
memenangkan juara satu outbond dan
saya ketua kelompoknya. Ingat pernah satu kelompok sama Boan. Ingat saya pernah
nembak Renny dan Aline dalam satu hari yang sama gara-gara Ocep, dan dua-duanya
menolak saya mentah-mentah. Ingat juga saya selalu diolok-olok di kelas seni
rupa oleh Pak Setyo karena memang saya tidak bisa menggambar. Banyak deh yang diingat.
Sepertinya di SMP saya tidak
belajar apa-apa. Guru yang paling bisa dikatakan sukses untuk mengajar saya
adalah Pak Trilono, harus saya akui. Walaupun dia guru yang paling
menjengkelkan bagi banyak sekali murid seangkatan saya, tapi ajaran dia dan
hafalan-hafalan yang pernah diajarkan belum saya lupakan. Beliau pernah membuat
saya menangis di minggu-minggu pertama sekolah. Pernah juga saya ditendang bola
oleh beliau karena kesalahan bodoh saya. Ah, guru itu.
Sekarang di SMA saya merasa
seperti sedang belajar segala sesuatu. Segalanya menjadi penting rasanya. Baru
tau kalau tidak belajar itu namanya rugi. Dulu di SMP bilang yang penting dapet
ijazah, sekarang di SMA ijazah saja tak cukup untuk masuk universitas dambaan
segala provinsi di Indonesia.
Tapi, karena kehebatan Ocep
dalam mengajari saya urusan pacar-pacaran, belajar sambil pacaran pun bisa
jalan. Ajaran Ocep lebih hebat dari Pak Tri, mungkin.
Di SMP banyak hal yang baru
pertama kali saya lakukan. Seperti pacaran, merokok, naik motor, naik mobil,
berantem tonjok-tonjokkan, dan banyak lainnya. Di SMA tinggal melanjutkan saja
semua yang sudah saya pelajari di SMP, yang baik maupun yang buruk.
Hidup tidak semenyenangkan yang
orang bilang di SMA ini. Di SMA hidup lebih kompleks. Proteksi orangtua masih
tidak meregang, terkadang menguat. Di saat kegiatan meluas, kekang orangtua
yang masih lumayan kuat ini agaknya mengganggu. Yah, namanya juga anak muda,
mau secepat dan seliar kuda. Terlalu berbeda kehidupan di SMP dan SMA. Dulu
uang bisa berhamburan untuk apa saja dan kasih pinjam sana-sini, sekarang saya
harus jaga-jaga uang dan kadang pinjam sana-sini. Beda jauhlah.
Dulu-sekarang, intinya saya
masih akan terus jadi pelajar. Tapi, beda tempat, beda derajat, beda status,
beda kesulitan. Saya kangen SMP, muak SMA.
Labels:
pacaran,
Personal life,
School
April 11, 2012
Rumahku dan kondisinya
Rumah ini emang ga bisa diajak mikir. Ini satu-satunya tempat dimana saya hanya bisa asal-asalan untuk mengerjakan segala sesuatunya dimuka bumi ini. Satu-satunya tempat dimana kalau ada orang, saya tidak bisa mengerjakan hal yang berguna.
Tulisan saya jadi ngarang-ngarang. Pikiran ga konsentrasi. Ide ga pernah muncul. Bahkan sebenarnya bukannya ga pernah muncul, tapi ide yang udah disusun rapi diatas motor atau di dalam angkutan umum bisa hilang begitu saja di rumah ini. Rumah setan!
Mungkin saya juga sudah pernah cerita di cerita saya yang sebelumnya mengenai betapa saya bete sekali dengan rumah ini. Asli deh.
Liat aja sekarang saya ga tau mau tulis apa. Tulisan ini jadi kacau bahasanya. Udah kayak anak kampung baru belajar nulis.
Biar ngerti betapa bencinya saya sama rumah ini, mari saya ajak kalian semua berkeliling. Jadi, rumah saya itu kecil, ga gede. Begitu masuk, mata kalian akan tersaji dengan 1 meja tamu beserta set sofanya, 1 meja di depan TV 21 inch dan juga sofanya yang warna kuning-kuning emas gitu, 1 pintu kamar mandi, dan 2 pintu kamar yang adalah kamar saya dan kamar bapak-emak saya.
Di depan pintu kamar emak-bapak ada satu meja kerja dan 2 rak buku yang setinggi perut. Di situ banyak kabel-kabel charger bertebaran sana-sini, kadang rapi kadang kacau balau. Di situ adalah tempat saya mengerjakan PR mandarin dan baca buku Sejarah Indonesia Modern, karena kalau engga kerjain di meja bisa-bisa saya ketiduran. Cuman 2 kerjaan itu yang saya kerjakan di meja kerja, sisanya bisa kerjain di kasur sambil chatting dan pacaran.
Di depan meja kerja itu ada satu papan tulis yang tergambar sebuah kotak-kotak untuk kalender yang terisikan jadwal selama sebulan. Keluarga saya cukup ketat urusan waktu dan jadwal kepergian atau kepulangan. Saya tidak boleh pergi ke suatu tempat kalau tidak pernah ditulis di kalender itu. Keluarga yang sungguh terencana. Jadi, tidak heran kalau hidup saya sudah sangat sering saya rancang dan rancang ulang, namanya juga budaya keluarga.
Kalau masuk ke dalam kamar saya, yang kira-kira luasnya 4x4 meter ini, kalian akan langsung melihat lemari excel di depan kalian, sebuah kasur besar, kemudian sebuah rak yang sama dengan yang disamping meja kerja di samping kanan kalian dan sebuah gitar dan tas sekolah saya tepat disamping kanan kaki kalian. Di balik pintu ada gantungan untuk bathrobe, ikat pinggang, jeans dan juga topi atau celana yang masih akan saya pake besoknya. Di atas kasur ada 2 guling, 2 bantal, dan 2 selimut. Padahal yang tidur cuman 1 orang. Begitulah saya, maruk. Di samping lemari excel yang tadi itu, ada rak lagi tapi ada pintunya. Isinya barang-barang penting. Sampingnya lagi ada lemari baju yang (beneran deh) teratur sangat rapih berdasarkan fungsinya. Kasur saya mepet dengan tembok, dan di sebelah kanan atas kasur, ada jendela yang langsung ngadep ke taman yang ada pohon pisang gede. Satu kelebihan dari kamar ini adalah sinyal operator apapun akan selalu penuh, ga pandang iklan deh pokoknya.
Ya, kira-kira itulah lingkungan saya bekerja dan memproduksi tulisan-tulisan yang bermutu maupun yang engga(seperti yang ini, misalnya). Rumah yang sebenarnya ga terlalu sumpek, tapi ya begitulah. Entah kenapa saya tidak bisa mengerjakan hal hebat di rumah ini. Itu sebabnya sering saya nginep di rumah temen saya untuk ngerjain tugas. Karena, di rumah pasti ga kerjain apa-apa. Heh, saya bete dengan rumah ini. Tapi mau gimana, saya belum bisa beli sendiri.
April 6, 2012
Pacaran dengan Stevani Widjaja
Baiklah, aku mengaku salah.
Kalau ada yang ingat dan ada yang pernah membaca post saya mengenai ulang tahun Stevani Widjaja yang ke-17, ada pernyataan yang saya akui saya salah. Di paragraf ketiga, saya tulis begini: Nah, Vani ini cukup cantik. Karena kalau cantik sekali, pasti cerita di sini akan jauh berbeda. Ternyata ceritanya tidak beda-beda amat.
Akhirnya di bulan Maret kami memutuskan untuk saling mendampingi. Maksudnya belum menikah, kalian juga pasti tahu maksudnya apa. Walaupun memang pacaran, harusnya, ujung-ujungnya menikah. Tapi, mari tidak bicarakan itu, masih lama juga kok.
Waktu hal ini terjadi, saya, teman sebangku saya, teman sekelas, teman-teman dekat saya, semuanya heran. Saya ini bisa dibilang cukup kacau dulu hidupnya waktu SMP, saya sudah berpacaran kira-kira 4 kali. Dan yang membuat mereka heran adalah betapa bertolak belakangnya sifat pacar saya dibandingkan dengan yang dulu-dulu. “Bertolak belakangnya itu ekstrem”, kata salah satu teman saya yang perempuan. Semenjak pacaran saya sering bilang begini ke Vani, kamu itu kucing, pacar-pacarku yang dulu itu singa semua. Setelah mengatakan itu biasanya saya tertawa dan dia hanya bilang apa sih?!
Perubahan yang ekstrem ini diterima secara wajar oleh teman-teman saya. Mungkin justru karena yang satu ini berbeda. Dia lembut, lambat, tapi tetap bertenaga. Ya kira-kira memang seperti kucing. Bukan yang liar, tetapi kucing rumahan macam kucing anggora dan yang mirip-mirip itu juga. Lebih kerennya lagi adalah kucing yang ini tidak mempunyai cakar. Kalau ada yang pernah nonton film Puss In Boots, dia adalah tokoh kucing perempuan yang tidak punya cakar melainkan tangan dengan jari-jari yang amat lembut. Saya mengatakan Vani mirip seperti itu karena katanya Vani, dia tidak bisa marah dan lagi dengan amat lembut dia mencuri hati saya sampai saya sendiri tidak sadar sudah tercuri (Ya, saya tahu ini gombal, but this is my universe and my rules applies here).
Nah, mari saya ajak lari ke tempat lain yang jauh hubungannya dengan kucing-kucingan. Ada satu hal yang membuat saya merasa, atau memang, sangat spesial. Saya, yang sudah pernah pacaran 4 kali, adalah pacar pertama dari perempuan satu ini! Entah senang atau apa, saya belum pernah punya pengalaman ini. Mungkin pernah sih dulu ketika saya pacaran dengan seorang bule dan saya adalah pacarnya yang orang Asia pertama kali. Rasanya jadi beken gimanaaa gitu.
Tidak hanya saya yang spesial. Ternyata dia juga spesial buat saya. Diluar dari sifatnya yang beda sekali dengan perempuan-perempuan yang adalah mantan saya, dia adalah orang yang tepat janji. Sebagai orang yang, ya bisa dibilang lumayan, sering menepati janji dan bertemu dengan seorang yang juga tepat janji terus, jadi saya sangat senang. Apalagi, kalau janjinya menguntungkan, saya makin senang.
Intinya adalah, kami berdua saling beruntung. Saya beruntung memiliki dia dan dia beruntung memiliki saya. Saya tidak mau sesumbar untuk tidak akan putus dengan dia. Tapi saya juga bukan orang bodoh yang hanya bisa bilang Let it flow and let us follow. Saya bilangnya, yang penting berjuang apapun yang terjadi jangan sampai hal bodoh memutuskan kami berdua. Jangan coba-coba tanya saya hal yang bodoh itu yang macam apa. Saya juga ga tau. Soalnya semua alasan putus itu biasanya emang bodoh.
Labels:
cinta,
Personal life
March 19, 2012
Ketika tahun-tahun bertambah satu tahun
Belakangan ini banyak kejadian penting dalam hidup saya. Bulan ini adalah satu bulan yang begitu melimpah untuk diri seorang saya. Karena itu banyak post saya akhir-akhir ini labelnya personal life.
Bulan ini saya berulang tahun. Bertambah lagi umur menjadi satu tahun, semakin bertumbuh dewasa, baik pikiran maupun tubuh. Saya lihat lagi foto-foto lama yang terpajang di cermin, di atas rak, dan yang di gantung di dinding kamar. Semua foto saya dari saya bayi, TK, sekolah SD, lalu ke SMP, sampai akhirnya kemarin saya harus meletakkan foto baru bersama teman-teman SMA.
Dulu saya belum kepikir punya teman-teman yang semacam mereka ini. Teman-teman yang sudah sama-sama besar, keren, pintar, hebat, licik, pelit, jorok, dan bisa ditambahkan sendiri kata-kata sifat yang lainnya. Hidup terasa cepat sekali ketika saya melihat foto-foto itu kembali.
Apa mau dikata? Lihat kebelakang jejak sudah banyak dibuat, lihat kedepan jalan masih panjang terbentang. Hidup terasa lama ketika kita tidak tahu mau berbuat apa. Waktu itu memang lama kalau ditunggu, hanya orang bodoh yang nungguin waktu sambil ngeliatin jam. Tiap detik habis sudah, dan saya yakin mata orang bodoh itu makin lama makin pedih, apalagi kalau tidak kedip.
Kemarin saya menghadiri pesta pernikahan teman. Begitu mewah, saya sendiri salut. Bagaimanapun juga, pesta pernikahan itu dibayar oleh kedua mempelai. Mereka pasti sudah bekerja cukup keras, sebelum akhirnya uang mereka terkumpul dan menentukan untuk menikah.
Saya sih masih remaja. Masih bocah. Hidup masih jauh untuk memikirkan pernikahan, tugas untuk besok saja masih malas saya kerjakan. Tapi, setidaknya saya harusnya sudah berpikir sedikit mengenai hal itu. Setidaknya saya harus berpikir, uang untuk menikah akan saya hasilkan dari mana? Saya akan bekerja apa sebelum saya memutuskan untuk mengumpulkan uang dan menikah?
Ya, intinya begitulah. Walaupun sudah bikin rencana dari jauh-jauh hari, masih ada kemungkinan gagal. “We live in a world where luck is never on our side” Jangan pernah mengharapkan keberuntungan menimpa. Mendapatkan keberuntungan hanya membuatmu terlihat lemah, tetapi usaha dan perencanaan hidup membuatmu hebat.
Setidaknya selama satu minggu ini, saya belajar itu. Ciao!
Subscribe to:
Posts (Atom)




