Showing posts with label Aku dan menulis. Show all posts
Showing posts with label Aku dan menulis. Show all posts

January 12, 2012

Aku dan menulis 9

                Beberapa kali aku dan menulis membuat karya-karya yang lumayan bagus. Entah itu sebuah puisi, cerpen, cerbung, atau sebuah pantun. Aku sendiri tidak pernah merasa karya-karya itu jelek. Pasti tetap kubilang bagus, bagaimanapun jadinya.
                Belakangan ini menulis memberikanku beberapa buku bagaimana membuat karya yang bagus. Kebanyakan buku itu menuliskan dalam halaman-halaman awalnya untuk berlatih menulis cepat tanpa membaca ulang, mengoreksi, atau berefleksi. Ada satu buku yang bahkan menyebutnya ‘membuat karya sampah’.
                Akhirnya karena itu direkomendasikan oleh lebih dari 2 penulis, maka aku melakukannya. Aku berikan waktu 10 menit untuk diriku sendiri membuat karya bebas di atas sebuah kertas loose leaf berukuran A5 dengan sebuah pulpen.
                Tadinya aku ingin memakai computer saja, tetapi menulis melarangku karena aku akan bisa seenaknya menekan tombol delete. Padahal berdasarkan buku-buku yang sudah kubaca, tidak boleh ada koreksi. Yang penting cepat.
                Ini mengingatkanku akan pertemuan awal kami berdua. Dia merasukiku dan menulis dengan cepat di atas kertas seperti orang gila. Ya, kira-kira aku tahu sekarang maunya apa.
                Hasilnya, 1 lembar bolak-balik penuh. Sebelum menekan tombol start pada stopwatch aku sama sekali belum memikirkan akan menulis apa. Jadi kira-kira 1 menit aku habiskan untuk membuat sebuah ide di kepalaku. Ide pertama yang muncul di kepalaku itulah yang akhirnya aku tulis. Dan itu adalah cerita bagaimana orang yang tidak punya uang seharusnya tidak menilai rendah hidupnya.
                Setelah kubaca ulang, agak benar apa yang dikatakan salah satu penulis buku itu. Tulisan cepat ini memang hanya tulisan sampah. Ada beberapa paragraf yang kelihatannya adalah paragraf baru, padahal itu hanya pengulangan dari beberapa paragraf sebelumnya dengan kalimat yang berbeda. Ya, tetap saja bagus.
                 Tulisan-tulisan sampah ini makin lama makin banyak. Karena aku melakukan itu sekali seminggu, dan ternyata latihan ini memang sangat berguna. Tulisan sampah itu makin lama makin tidak sampah. Malahan ada beberapa yang terlihat seperti emas.
                Semakin sering aku melakukan latihan ini, aku menambah waktunya semakin lama. Jarak perubahan waktunya tidak terlalu terasa, hanya 2 menit tiap kali aku memperlama waktunya. Aku menambah waktu agar aku membuat tulisan itu dengan bagus dan terartur.
                Latihan ini terakhir kali kulakukan pada saat aku beranjak kuliah. Tak kusangka kesibukannya membuat aku malas sekali untuk membuat sebuah tulisan-tulisan cepat itu. Apalagi sebuah karya. Ini yang sedikit demi sedikit memisahkanku dari menulis.
                Kali ini bukan seminggu, bukan sebulan, tetapi hampir setahun lamanya aku tidak benar-benar membicarakan sesuatu kepada menulis.
                Kami makin lama makin terpisah, seperti tidak akan kembali lagi.              

December 17, 2011

Aku dan menulis 8

                Olahraga juga salah satu hal yang aku sukai. Walaupun aku lebih senang di rumah, aku masih sering meluangkan waktu  untuk berolahraga. Yang paling ku gemari adalah sepak bola. Selain bermain sepak bola, aku juga menonton pertandingan-pertandingannya. Sampai hari ini, aku belum pernah bermain sepak bola, hanya futsal saja.
Itu adalah versi lebih kecil dari sepak bola. Bermain lima orang melawan lima orang. Biasanya, aku bermain dengan teman-teman sekolah atau di sekitar perumahanku. Cukup seru!
Di sekolah, aku dengan teman-teman seangkatanku biasanya meluangkan waktu pada hari Jumat untuk bermain futsal. Banyak hal-hal menyenangkan yang terjadi selama futsal. Utamanya ketika kami berhadapan dengan kakak-kakak senior kami. Bahkan, kami rasanya sudah terlalu bosan untuk menghitung kemenangan kami atas mereka. Kami bisa dikatakan sebagai tim yang terbilang cukup solid dan tangguh. Dahulu memang begitu, namun setelah dua anggota kami ‘pergi’, rasanya ada yang kurang di dalam tim ini. Meski begitu, kami harus tetap berjuang dan menatap masa depan tim kami.
Nah, bicara mengenai posisiku di dalam ‘miniatur’ timnas futsal Calvin ini, biasanya aku ditempatkan sebagai seorang penjaga gawang. Ya, meskipun naluriku adalah sebagai seorang penyerang, namun bagiku itu sudah cukup. Itulah aku, anak yang tertindas, bahkan oleh teman-temanku sendiri. Parahnya lagi, penempatan itu tidak sesuai dengan kemampuanku. Bola-bola tendangan lawan sering meluncur deras ke gawangku karena kebodohanku. Tapi tidak selamanya kebodohan itu terjadi. Aku juga sering melakukan beberapa penyelamatan-penyelamatan yang terbilang cukup gemilang.
Tidak banyak yang pernah aku diskusikan dengan menulis mengenai permainan bola. Dia tidak terlalu tertarik soal itu. Dia khawatir rupanya.
Dia bercerita, dulu dia pernah memiliki sahabat yang suka bermain bisbol. Sahabatnya ini meninggalkan menulis dengan dunia bisbol. Sudah mabuk dengan kenikmatan dan ketenarannya dengan dunia bisbol sampai meninggalkan menulis. Akhirnya menulis mencari sahabat yang baru. Karena, setiap kali sahabatnya itu diajak berbincang, selalu saja didiamkan. Ah, sedih sekali kisah hidup sahabatku ini.
Dia selalu berpesan kepadaku untuk tidak melupakannya. Maka itu dia menceritakan kisahnya. Aku bilang saja kepadanya, aku ini ‘kan memakai kacamata, tidak mungkin aku akan menjadi seorang pesepakbola profesional. Dia kemudian tertawa.
Ini lagi satu hal yang aneh dari dirinya. Dia bisa tertawa terbahak-bahak. Bayangkan saja, sesuatu yang tidak tahu bentuknya seperti apa ternyata bisa tertawa juga. Bahkan seekor anjing, yang katanya sahabat manusia, tidak bisa tertawa.
Menulis makin lama makin mengerti akan ketertarikanku terhadap dunia olahraga, khususnya sepak bola. Dia kemudian mengejariku bagaimana menulis laporan pertandingan seperti di koran-koran. Teknik-teknik untuk menulis laporan secara cepat, ringkas, dan padat.
Sekitar satu bulan aku melatih kemampuan ini. Dan memang, tulisanku makin baik saja. Selain itu, aku kemudian tidak hanya menonton pertandingan sepak bola saja. Aku sekarang sudah mengikuti pertandingan voli, bulu tangkis, tenis, ataupun juga tenis meja.  Melihat dan menganalisa tiap kejadian. Rasanya juga makin seru saja. Agar makin mengerti peraturannya, aku juga sering coba memainkannya. Tidak buruk juga, ada sedikit bakat olahraga dalam diriku.
Melihat semua itu menulis makin senang. Senang karena aku bisa menyeimbangkan keduanya. Aku makin sering berolahraga tetapi masih tetap setia bersama-sama dengan menulis.  Sayang dia tidak bertubuh. Mungkin dia lebih jago dalam segala bidang olahraga dibandingkan denganku.
Kalau sedang kelelahan aku sering dibisikinya cerita-cerita lamanya. Dongeng-dongen klasik yang sangat bagus. Biasanya aku tidak dengar ceritanya sampai habis, karena aku tertidur di tengah-tengah ceritanya.
Dan hal-hal mengenai olahraga ini berhenti terlalu cepat. Dua tahun sudah lewat dan aku sudah tidak menjadi anak sekolahan lagi. Aku sekarang harus pergi keluar. Ke dunia yang lebih luas. Kuliah. Perkuliahan. Entah apa itu. Sepertinya ramai. Ingin sekali rasanya ke sana. Orang-orang bilang itu lebih enak daripada sekolah yang baru saja kulewati. Menulis juga mendukungku dengan penuh.
Berkat menulis aku sekarang bisa masuk di tempat kuliah yang bagus dan hebat. Ah, menulis. Semuanya terjadi karena dirimu. Hutangku banyak sekali. Tak tau lagi harus kubayar dengan apa. Kau lebih dari sahabatku. 

December 15, 2011

Aku dan menulis 7

                Aku selama ini bersahabat dengan sesuatu. Sesuatu ini tidak berwujud apa-apa. Tetapi, sebagai  seseorang yang senang berimajinasi, aku pikirkan seandainya menulis adalah seorang manusia. Pastinya dia tergambar sebagai orang tua, lebih tepatnya kakek-kakek. Entah kenapa dia terasa seperti laki-laki. Mungkin karena aku laki-laki dia bersikap seperti laki-laki. Rasanya pasti aneh kalau dia bersikap seperti laki-laki ketika dia bersabahat dengan seorang perempuan yang sebelumku. Lebih aneh lagi kalau ternyata dia benar-benar punya gender. Ah, sudahlah. Tidak usah di pikirkan lagi.
                Yang ada di otakku saat aku membayangkan dirinya adalah seorang kakek yang sangat bijak dengan kumis dan jenggot putih yang sudah panjang. Seperti bagaimana kakek-kakek yang di gambarkan oleh Hollywood biasanya.
                Ada satu hal yang aneh semenjak aku mulai membayangkan rupa menulis. Aku sering bermimpi buruk. Sampai-sampai membuatku bangun subuh. Sekali waktu pernah aku bermimpi mengenai seorang anak kecil di sebuah rumah yang sederhana. Dia bermain-main sendirian. Lari sana-sini, lompat-lompat.
 Tiba-tiba datang seorang kakek tua, persis seperti apa yang kubayangkan tentang menulis. Kakek tua itu mengangkat tangannya dan rumah itu bergerak-gerak, seperti ada gempa. Lama-lama rumah itu memakan anak kecil itu. Tergerus habis. Aku melihat darah. Tulang hancur.
                Mati sudah anak kecil itu. Tak berkutik lagi. Rumah itu kemudian tegak lagi seperti asalnya. Dan aku lihat kakek tua itu masih berdiri di tempatnya. Tangannya sudah diturunkan. Ku lihat dia memakai sebuah jubah putih yang panjang. Kemudian, darah anak kecil itu beserta serpihan-serpihan tulangnya mengalir sampai ke bawah jubah kakek tua itu. Sampai darahnya habis tak tersisa.
                Setelah itu aku terbangun. Keringat mengucur di seluruh tubuhku. Aku panik. Kulihat jam di dinding, menunjukkan pukul 2.15.
                Mimpi-mimpi itu masih terus berlanjut sampai sekitar empat hari. Dengan tokoh yang sama, anak kecil dan kakek tua. Hanya saja dengan versi yang berbeda-beda. Dan selama empat hari berturut-turut itu aku selalu bangun terlambat dan akhirnya masuk sekolah juga terlambat. Di hari yang keempat, aku kemudian berbicara dengan menulis. Dengan sikap dingin dia menanggapi.
                Aku lalu tulis-tulis di kertas. Mengenai mimpiku, mengenai betapa aku membenci mimpi itu, mengenai betapa berdampaknya mimpi itu dalam kehidupan sehari-hariku. Setelah selesai tulis, aku duduk dan kemudian tertidur dengan sendirinya.
                  Aku bangun pukul 6 pagi dan menyadari kalau aku tidak mimpi apa-apa barusan. Tidak mimpi buruk, ataupun mimpi indah. Kosong saja. Hitam. Bolong. Eh, bolong! Aku ingat itu. Seperti sebuah black hole yang sering disebut-sebut oleh para ilmuwan. Menghisap segalanya tanpa pilih-pilih. Sepertinya aku tahu apa maksud mimpi itu. Lubang hitam yang gelap itu tadi sedang menghisap semua memoriku mengenai mimpi-mimpi yang ku lihat di hari-hari sebelumnya. Itu juga yang ku pikir membuat mimpi burukku tidak berlanjut di hari-hari selanjutnya.
                Tapi, ah, kalau lubang hitam adalah penghisap segala tanpat memilih, harusnya dia juga menghisap memori yang lain, tidak hanya itu. Aku ini memang sering bingung sendiri. Sama sekali tidak pintar, kecuali pada saat bersama dengan menulis.
                Atau mungkin saja, mimpiku tidak berlanjut karena menulis tidak menghantuiku lagi. Sepertinya aku mendapat mimpi buruk karena aku membayangkan rupanya yang seperti kakek tua. Mungkin dia tidak suka. Menulis ternyata juga punya perhatian mengenai dirinya sendiri.
                Sepertinya dia memaafkanku karena dia telah membaca karyaku. Karya yang dihasilkan akibat amarah yang mendalam dan harapan untuk mimpi buruk itu segera hilang. Dengan itu sepertinya dia langsung memaafkanku dengan segera.
                Semenjak itu aku tidak pernah membayangkan lagi rupa menulis seperti apa. Biarkanlah itu tetap tersembunyi selamanya. Setiap orang punya rahasianya masing-masing, begitupun dengan menulis (walaupun dia bukan orang).
                Malam selanjutnya, sebelum aku tidur aku tulis-tulis lagi di atas kertas. Sebuah paragraf kecil.

Tak ada rupa di dunia ini yang cocok untukmu. Kau bukan manusia, bukan binatang, bukan juga tumbuhan. Mungkin kau adalah pesuruh Tuhan untuk menjaga dan menemani manusia yang membutuhkanmu. Tak ada tubuh sedemikian indah di dunia ini yang cocok untukmu. Tak risau aku soal rupa dan tubuhmu, ketika kau ada kau sudah menampakkan semuanya dengan jelas kepadaku.

November 23, 2011

Aku dan menulis 6

                Suatu ketika di akhir musim kemarau, menulis membawaku ke sebuah acara yang besar. Sebuah festival yang keren. Festival itu ada di sebuah pulau yang menjadi pusat pariwisata di negeriku. Aku diajaknya dan dijanjikan olehnya kalau aku akan bertemu dengan sahabat-sahabatnya yang dulu-dulu sebelum aku. Sepertinya ini akan menjadi sebuah reuni besar-besaran. Sebuah kehormatan yang besar tentunya bagiku untuk bisa bertemu dengan orang-orang yang hebat itu.
                Setelah aku sampai disana, ditunjukkannyalah kepadaku kalau sahabat-sahabatnya tidak hanya berasal dari negeriku saja, melainkan dari berbagai tempat-tempat yang hebat. Ada satu orang yang berasal dari tempat yang sangat jauh yang belum pernah kukunjungi, bahkan belum pernah tahu aku ada tempat itu di dunia ini.
                Kebanyakan dari mereka sudah memiliki nama yang hebat di mata dunia. Sahabatku menggiring aku untuk bertemu orang-orang ini satu per satu. Kusalami dan kutatap muka mereka. Ada yang hanya menyalam saja, ada juga yang mengajakku bicara. Sahabatku mempresentasikanku layaknya sebuah barang pajangan. Karya-karyaku ditunjukkannya kepada orang-orang ini. Ada yang kagum karena umurku yang masih muda. Beberapa dari mereka juga ada yang memberikan saran dan kritik terhadap tulisanku. Walaupun begitu, dalam setiap kritikan sahabatku ini selalu menutup kritikan-kritikan itu dengan pujian-pujian. Aku sampai malu sendiri rasanya. Padahal, aku masih hijau dibandingkan dengan orang-orang hebat ini. Banyak sekali pengalaman mereka.
                Selama festival itu, yang berlangsung selama lima hari, aku mendapatkan banyak sekali pelajaran dari wokrshop yang diadakan. Menulis berkata kepadaku, dulu sebelum ia bertemu denganku ia juga pernah bertemu dengan seorang gadis di acara seperti ini dan kemudian mereka berdua juga bersahabat, sama seperti aku dan dia sekarang. Sayang sekali, gadis itu tidak lama hidup setelah mereka bersahabat. Gadis itu terkena penyakit yang mematikan. Maka itu, sahabatku ini terus mendorongku untuk terus berkarya, karena kita tidak akan tahu kapan ajal menjemput kita. Bagi menulis, ia memang tidak akan mati, tetapi bagiku mati itu bisa kapan saja terjadi.
                Hari-hari terus berlanjut dan aku masih ada di dalam atmosfer yang sangat hebat. Kalau pernah merasakan atmosfer yang diberikan piala dunia, rasanya hampir sama dengan sekarang ini. Seperti akan terjadi hal-hal yang hebat dan tidak bisa dilewatkan. Berkedip saja sudah terjadi satu gol yang spektakuler.
                Kesempatan seperti ini tidak kusia-siakan begitu saja. Ketika waktu sudah malam dan waktunya aku tidur, aku masih berada di beranda hotel dan berbincang-bincang dengan seorang penulis yang pernah mengkaryakan sebuah buku mengenai politik dan budaya, dan ketika pagi hari sewaktu aku baru bangun aku sudah bertemu dengan seorang laki-laki berkacamata dan terlihat intelek yang sukses dalam penulisannya di dalam cerita anak. Betul-betul kesempatan yang langka.
               Tidak hanya penulis-penulis hebat yang kutemui di sana, tetapi juga ada banyak sekali calon-calon penulis hebat. Ya, remaja seperti aku ini. Eager young mind. Mereka juga masih belajar dan bertekun dalam dunia kepenulisan ini.
                Lima hari lewat sudah dan aku siap membawa banyak hal pulang ke rumah. Sahabatku juga ikut senang karena akhirnya aku bisa bertemu dengan sahabat-sahabatnya yang duluu dan belajar banyak dari mereka. Aku berterimakasih sekali kepadanya. Dengan kehadirannya di hidupku, aku bisa sampai di sini hari ini.
                Secara kasat mata memang tidak banyak yang aku dapat dari sahabatku ini. Hanya saja, pengetahuan dan pengalaman yang sangat nikmat itu kuhirup dan kusimpan di dalam pikiranku yang luas ini. Bukan harta, tetapi hikmat.

November 20, 2011

Aku dan menulis 5

                Hubunganku dengan teman perempuanku semakin dekat. Aku yang berteman dengannya jarak jauh lebih sering mengontaknya melalui HP. Lama-kelamaan persahabatanku dengan menulis terbengkalai juga. Aku sekarang menjadi lebih sering berkomunikasi dengan teman perempuanku ini dibandingkan dengan menulis.
Di saat-saat seperti ini menulis adalah sahabat yang baik bagiku. Ia tidak mengusikku sedikitpun. Malahan ia mengijinkanku untuk menggunakan kalimat-kalimat yang pernah kami bincangkan untuk mengesankan teman perempuanku ini. Senang aku dipujinya. Ternyata ada juga manfaatnya bersahabat dengan menulis. Salah satunya, dan yang cukup penting, adalah mengesankan seorang perempuan, terlebih lagi perempuan yang spesial untukku.
Tetapi, aku seperti mengkhianati menulis rasanya. Aku lupakan dia untuk beberapa saat dan memfokuskan hampir seluruh perhatian yang dulu kuberikan kepada menulis untuk teman perempuanku. Kupikir aku sahabat yang cukup brengsek. Manis diambil sepah dibuang.
Setelah sadar aku coba meminta maaf kepada menulis. Aku menunggu-nunggu lagi kedatangannya di pikiranku. Aku kemudian mencoba berdiskusi sendiri tanpanya. Terasa beda. Tidak hangat lagi. Kurang sebuah komentar-komentar pedas dari sahabatku itu. Komentar-komentar  yang tidak hanya bisa menyakiti, tetapi juga memberika solusi-solusi cerdas. Terkadang tergila-gila aku dibuatnya. Betapa hebat pikirannya.
Aku seringkali membanding-bandingkan antara teman perempuanku dan menulis. Semenjak mereka berdua sudah saling kenal, karena aku mempertemukan mereka, seringkali terlihat perbedaan-perbedaannya. Yang paling terlihat adalah tingkat kecerdasannya. Walaupun teman perempuanku ini orang yang sangat pintar, sahabatku menulis jauh lebih banyak pengalamannya. Menulis seringkali berkata kepadaku, pengalaman itu membuat pengetahuanmu jauh lebih berarti. Karena mereka berdua sama-sama pintar, diskusi mereka berdua seringkali lebih bermutu dari pada diskusi aku dan menulis. Membuatku jadi lebih minder. Tetapi, menulis tetap memilihku untuk menjadi sahabatnya. Bangga sekali aku.
Menceritakan hal ini membuatku makin merasa bersalah. Telah kukhianati sahabatku. Dia yang memilih aku dan mau bersahabat denganku, kini aku lupakan dia dengan sekejap hanya karena seorang perempuan yang cantik, pintar, dan ideal bagiku. Padahal, menulis adalah sahabatku sejak kecil. Dia yang membangga-banggakanku di depan orangtuaku, kakakku, teman-temanku, dan orang lain.
                Kurasa pada saat aku sedang berkomunikasi dengan teman perempuanku lewat HP, dia tidak sedang pergi meninggalkanku. Aku masih merasakan tanda-tanda kehadirannya. Rasa mempunyai otak yang cerdas dan semangat. Dia masih ada di pikiranku saat itu, hanya saja kuacuhkan. Dia kuperlakukan layaknya komputer, aku matikan saat aku tidak butuh dan aku nyalakan saat aku butuh.
                Antar sahabat memang ada saja masalah yang terjadi. Masalah yang tidak membunuh akan membuat kita makin kuat. Dan masalah ini memang membuat kami makin akrab. Kami berdua makin sering bersama berbincang. Mengerjakan hal-hal yang lebih penting dari pada yang sebelumnya aku kerjakan dengan teman perempuanku.
                Setahun sudah lewat dan aku sudah tidak lagi berhubungan dengan teman perempuanku itu. Kami berselisih soal ini dan itu. Dia tidak senang dengan sikapku yang makin sibuk dan makin jarang memperhatikannya. Dan aku yang sudah dalam posisi tidak bisa berargumen hanya bisa pasrah. Ketika hari itu datang, hari di mana aku dan dia berpisah, sahabatku ada di situ. Memperhatikan. Untuk pertama kalinya kulihat dia tidak langsung berkomentar. Hanya terdiam dan melihat.
                Sesampainya aku di rumah, aku dan menulis melihat kembali peristiwa yang tadi. Baru perlahan-lahan dia mau berbicara dan berkomentar. Pelan sekali pembicaraan kami malam itu. Angin pun rasanya bisa membawa suara kami dengan cepat. Suasananya sendu saat itu. Menulis merangkulku dan berkata dengan sangat lembut. ‘Aku tidak akan sepertinya, aku terus akan ada tanpa kau cari’. Setelah itu aku tersenyum lebar. Masih dalam suasana yang sendu.


November 18, 2011

Aku dan Menulis 4

         Sudah hampir satu minggu aku kehilangan dirinya. Dia belum merasuk lagi ke dalam jiwaku. Merasuk seperti setan yang tiada habisnya menghisap dan merongrong jiwaku. Yang dia biasa kerjakan adalah membawaku ke dalam sebuah dunia yang jauh berbeda dari yang biasanya. Dia habiskan waktuku di dunia ini agar aku dapat terus bersamanya. Dan sambil dia menunjukkan betapa hebatnya dunia yang lain ini, aku berusaha mengingat-ingat apa yang sedang terjadi. Karena dia pernah mengatakan sebelumnya kalau yang ia tunjukkan kepadaku ini hanya satu kali saja seumur hidup, tidak akan bisa terulang.

               Dia seringkali hadir di tengah-tengah kegiatanku yang padat. Terkadang kehadirannya terasa mengganggu. Dia hadir sewwaktu aku sedang dalam kelas. Aku berusaha mengacuhkannya pada saat itu, tetapi tak berdaya aku dibuatnya sehingga aku pun menurutinya. Ia membisik-bisikkan bujuk rayu agar aku meninggalkan konsentrasiku di dalam kelas dan beralih untuknnya.

                Di satu sisi menulis adalah sahabat yang sangat baik padaku. Di sisi lainnya ia sering membuatku lepas kendali dan membuatku susah dalam membuat pilihan, antara dirinya atau hal yang lain. Kalau dia sedang dalam kondisi yang gila, dia akan mengajakku untuk berdiskusi panjang atau mengajakku berjalan-jalan ke dunianya selama mungkin. Pernah suatu saat aku di bawanya kemana-mana dan diajak berdiskusi panjang yang seperti tak berkesudahan sampai jam 3 pagi, sehingga aku hanya tidur 2 jam saja. Dan ini makin parah karena tidak terjadi hanya satu hari saja, tetapi selama 3 hari berturut-turut. Aku akhirnya terserang penyakit flu dan demam karena terlalu capek.

                Dia tidak jahat dan aku percaya itu. Hanya saja terkadang egois. Sama seperti kita manusia. Walaupun dia tidak nampak, dia memiliki sikap yang sama dengan manusia, atau paling tidak mirip. Susah ditebak juga merupakan salah satunya. Terkadang dia hadir dalam setiap saatku, terkadang dia sama sekali tidak hadir. Seperti dalam satu minggu terakhir ini.
                Susah juga rasanya kalau dia tidak ada. Karena, dialah hidupku. Hampir seluruh aktivitasku kurang lengkap tanpa hadirnya menulis. Menulis membuatku melihat kembali kehidupanku dalam satu hari ini. Meneropong topik-topik unik bersamanya dan membagikannya kepada orang banyak. Padahal, kebanyakan dari hasil perbincangan kami hanyalah opini belaka.  Tidak ada data yang dimuat agar orang-orang ngeh. Seringkali hanya analisa kecil-kecilan dari perilaku manusia biasanya.

                Hubunganku dengan menulis tidak seperti hubunganku dengan teman perempuanku. Dia (teman perempuanku) boleh saja kuanggap sebagai sahabat spesial. Dia menemaniku di saat aku membutuhkannya, dia memperhatikanku seakan aku akan terjatuh sebentar lagi. Sungguh manis budinya. Tetapi, menulis tidak melakukan hal-hal yang demikian. Dia (menulis) tidak memperhatikanku sama sekali. Yang selama ini dia tunjukkan kepadaku bukan karena aku yang minta, melainkan dia yang menunjukannya kepadaku dengan insiatifnya sendiri. Dia juga menemaniku bukan karena aku meraung-raung memanggilnya, tetapi dia datang sendiri dan hadir di hadapanku secara tiba-tiba.

Malahan bisa dikatakan kalau hubunganku dengan menulis lebih intim dibandingkan dengan teman perempuanku ini. Dengan sesama manusia, siapapun itu, kita tentu punya rahasia-rahasia pribadi. Sebuah rahasia yang sebaiknya tidak diketahui orang lain yang katanya demi kenyamanan bersama. Dengan menulis, aku bagikan semuanya. Cerita apapun itu. Cerita ketika aku berbuat menyimpang, berbuat nakal, bahkan aku seringkali bercerita mengenai apa yang baru saja dikatakan oleh teman perempuanku itu. Padahal sebelumnya dia berpesan agar aku tidak mengatakan kepada siapapun mengenai hal ini. Dan sebagai seorang laki-laki yang cukup bawel dan tidak tahan untuk menyimpan sebuah rahasia sorang diri, maka aku menceritakan rahasia ini dengan menulis. Reaksinya sewaktu mendengar rahasia ini langsung hebat. Dia bisa langsung mengulas rahasia ini dengan cepat. Terkadang, rahasia teman perempuanku ini adalah masalah pribadinya yang belum dapat diselesaikannya. Beruntung sekali aku memiliki sahabat seperti menulis, dia adalah ahli soal memecahkan masalah. Dan lebih hebatnya lagi, dia bukanlah seseorang. Jadi, teman perempuanku tidak akan tahu kepada siapa aku telah bercerita panjang lebar mengenai rahasianya.

Satu minggu yang cukup berat untuk tidak bertemu dengannya. Aku cukup menyesal karena beberapa kali aku sempat mengacuhkannya, walaupun pada saat-saat tertentu aku memang harus mengacuhkannya. Tetapi kali ini lain halnya. Aku rindu sekali dengannya. Mungkin dia sekarang sedang bernostalgia dengan sahabat-sahabatnya yang lama. Mungkin kali ini dia yang sedang beristirahat dengan tenang di dunianya yang luas itu. Suatu saat nanti dia juga akan kembali lagi dengan sendirinya, tak perlu aku meraung-raung. Toh tak didengar juga olehnya. 

November 10, 2011

Aku dan Menulis 3

                Tidak ada yang pernah menginginkan kami bersahabat awalnya. Aku sendiri tidak pernah berusaha agar bisa bersahabat dengan menulis. Sungguh minder diriku pada saat aku tahu siapa-siapa saja yang pernah bersahabat dengan dia. Semua sahabat-sahabatnya yang lama sangat bisa dibanggakan. Mereka semua itu dapat berjaya bersama menulis. Sungguh hebat orang-orang demikian. Sedang aku, hanya seorang pelajar biasa yang secara tidak sengaja bertemu dengan menulis.

                Selama ini aku belum pernah bisa dibanggakan bersama menulis. Belum satupun cerita yang dapat diterbitkan di harian cetak atau di majalah bulanan. Hanya teman-temanku saja yang membaca dan menikmatinya. Terkadang kalau aku tidak merasa yakin dengan ceritaku, aku minta mereka menilainya. Tetapi, penilaian mereka tidak terlalu berarti bagiku, penilaian menulislah yang jauh lebih berarti.

                Dengan menulis aku selalu bertambah ilmu baru setiap harinya. Tiap ingin membuat sebuah karya yang baru, aku selalu diajari untuk bisa memodifikasi karya yang lama dan menambah diksi kata setiap harinya. Karena ini hubungan kami makin erat sekarang. Hampir setiap hari aku duduk di atas kasur dan memulai suatu perbincangan agung dengan menulis yang nantinya akan menghasilkan sebuah karya yang juga indah dan apik.

Sekali waktu, aku sudah mengantuk dan mataku sudah tidak kuat lagi untuk bertahan terbuka. Aku masih berusaha membukanya dan menatap layar komputer untuk memulai proses pembuatan sebuah tulisan. Tetapi apa daya, tertidurlah aku di tengah-tengah dan gagallah hubunganku dengan menulis pada malam itu. Hebatnya adalah menulis bisa memaafkanku. Esoknya aku diberikan ide baru olehnya. Ide yang lebih baru dan lebih segar dari yang sebelumnya. Dia tidak hanya memaafkanku rupanya, dia juga makin menyemangatiku.

Kalau dilihat-lihat, persahabatan kami seperti simbiosis komensalisme, di mana yang satu diuntungkan oleh yang lain, tetapi yang lain itu tidak dirugikan sama sekali. Bagiku itu tidak seperti itu. Persahabatan kami bukan hanya sekedar simbiosis. Persahabatan kami adalah sebuah hubungan yang sudah sangat intim. Semua rahasiaku kubeberkan dengan menulis. Menulis tahu segalanya mengenai diriku sampai hal yang paling kecil.

Dia tidak pernah menanggapi apa yang selalu kukatakan kepadanya. Seringkali aku berpikir kalau aku ini sudah gila. Aku tidak gila. Menulis itu hidup di dalam segala aspek kehidupanku dan dia selalu ada dan hadir menemaniku. Di saat sedang penat, atau bahagia, di saat tidur, dan terlebih di saat aku bangun.

Satu-satunya sahabatku yang tidak pernah aku kangeni adalah dia ini. Sebernarnya alasannya gampang saja, karena aku dan dia selalu bertemu di setiap saat. Dia ini juga satu-satunya sahabat yang aku tidak pernah bosan untuk membagikan segalaku kepadanya. Dengan setia dia mendengar dan mencatat semua ceritaku sehingga kami berdua sekali lagi menghasilkan cerita yang indah dan apik.

Monoton memang persahabatan kami. Bertemu, berbincang, berpisah. Begitu seterusnya. Tidak ada aktivitas lainnya. Hanya dalam setiap perbincangan, dia bisa membawaku ke berbagai tempat yang aku tidak pernah lihat sebelumnya. Ke tempat-tempat yang menakjubkan. Ini yang membuatku terus dan semakin menyukai menulis. Ini juga yang mungkin dia lakukan terhadap sahabat-sahabatnya yang lama. Dan suatu ketika, aku yakin dia akan melakukan sesuatu denganku yang belum pernah ia lakukan dengan sahabat-sahabatnya yang lama. 

November 8, 2011

Aku dan Menulis 2

                Seperti yang sudah kuceritakan mengenai diriku sebelumnya, aku adalah seorang yang hidup dengan menulis. Maksudku bukan mencari nafkah dan hidup lewat hasil dari apa yang kutulis, aku masih terlalu pemula untuk itu, tetapi aku hidup bersama dengan kegiatan tulis menulis ini. Ya, aku dan menulis sudah hidup bersama dan menjadi teman baik yang cukup lama.
                 Aku tidak setiap hari menulis di atas selembar kertas atau mengetik di komputerku, namun seringkali aku menulis di dalam pikiranku. Aku membuat kerangka-kerangka penulisan yang nantinya pasti aku akan tuliskan di atas kertas atau kuketik di komputer. Terkadang lama sekali jarak waktu dari sejak aku memikirkan mengenai cerita itu sampai aku berhasil menyelesaikan tulisan itu di atas selembar kertas.
                Biasanya aku berpikir sewaktu di jalanan atau di tempat-tempat umum lainnya. Aku bisa berpikir ketika banyak hal-hal yang ada bagiku untuk disaksikan. Misalnya di dalam sebuah kereta yang sering aku tumpangi, aku melihat banyak sekali fenomena-fenomena sosial yang terjadi di dalam sebuah gerbong kereta. Hanya satu gerbong saja aku bisa melihat banyak ibu-ibu yang berebut kursi untuk duduk, seperti puluhan singa mengincar seekor mangsa. Parahnya, ketika tidak mendapat kursi untuk duduk, ibu-ibu itu sudah menyiapkan kursi lipat untuk dipakai duduk di area tempat orang seharusnya berdiri.
                Ketika di rumah, semua ide dan keinginan untuk mengerjakan sesuatu hilang rasanya, sudah tidak bergairah lagi. Tidak ada sesuatu yang dapat dilihat untuk memacu aku berpikir mengenai sesuatu. Bahkan, salah satu hal yang tentu saja bisa membuatku memiliki sebuah ide untuk menulis, yaitu membaca buku, tidak bekerja sama sekali saat berada di rumah. Jadi, yang kukerjakan di rumah hanyalah menulis ulang dari apa yang sudah ada di pikiranku atau mengetik apa yang sudah aku tulis di kertas untuk ‘diabadikan’. Percaya atau tidak, bahkan dalam penulisan ulang pun itu bisa berlangsung lebih dari 1 jam, hanya karena kurang berhasrat untuk membaca ulang di rumah.
                Pernah suatu kali aku menulis secara acak mengenai isi pikiranku, apapun itu. Yang pasti aku hanya ingin tulisannya mengalir seperti otakku bocor ide. Akhirnya keluarlah semua unek-unekku mengenai bahasa Indonesia yang seringkali disalahartikan oleh banyak remaja Indonesia. Tetapi, ketika aku membacanya ulang beberapa hari kemudian, ada banyak sekali ketidaksinambungan antara satu paragraf dengan paragraf lainnya, dan yang lebih membuat itu tambah hancur lagi adalah aku sendiri bahkan tidak bisa menangkap ide dari tulisan ini. Karena memang diawali benar-benar tanpa ide sama sekali.
                Itulah rumah bagiku. Sebuah tempat dimana aku dan menulis jadi tidak bersahabat. Seperti semua kisah persahabatan lainnya, pasti ada suatu hal yang membuat kedua orang sahabat selalu bertengkar karenanya.
                Seperti pada definisi awal dari sebuah rumah, adalah tempat untuk kita boleh kembali pulang dan beristirahat di dalamnya. Dan rumah sebagai tempat istirahat adalah tempat dimana hubunganku dengan menulis harus berhenti sementara waktu, karena aku juga perlu istirahat, begitu juga kiranya dengan menulis.  

November 2, 2011

Aku dan Menulis

                Belum pernah sekalipun kutulis mengenai diriku sendiri. Bahkan ini pertama kalinya kugunakan kata ganti ‘aku’ untuk diriku sendiri. Mungkin memang sesekali perlu juga kutuliskan mengenai diriku. Tulisan yang isinya berpusat hanya kepada diriku. Ini sama sekali tidak bertujuan untuk narsis kepada pembaca. Hanya agar pembaca tahu siapa aku ini.
                Selama ini aku selalu menceritakan hal-hal yang ada diluar diriku, teman-temanku, keluarga, atau juga mengenai hal-hal yang lainnya. Terkadang terlintas dipikiranku untuk menulis mengenai diriku sendiri. Tetapi tidak jarang juga aku tepis pikiran itu, karena takut dikira narsis. Mungkin di dalam kehidupan sehari-hariku seringkali aku narsis dan memuji diri, seperti mengatakan diriku ganteng atau lucu. Aneh memang, tetapi mau bilang apa lagi? Itulah diriku. Hanya saja, hampir tidak pernah aku menuangkan hal-hal seperti itu di dalam tulisan-tulisanku.
                Menulis bagiku lebih dari sekedar hobi. Bagiku itulah hidup. Sejak kelas satu sekolah dasar, bakat menulisku memang sudah sedikit terlihat. Cerita pertamaku adalah cerita mengenai liburan tahun baru pada tahun itu. Di sekolah dasar, tugas itu memang hampir setiap liburan selalu ada. Cerita itu kemudian dibacakan di depan kelas. Nah, bakat itu terlihat ketika aku maju dan membacakan ceritaku. Sebelumnya cerita teman-temanku tidak terlalu panjang. Ada yang bercerita hanya di Jakarta dan tidak kemana-mana atau dia pergi keluar kota dan berlibur bersama keluarganya, hampir semua bercerita singkat. Ketika giliranku tiba, ceritaku cukup panjang. Hari ini aku sudah tidak lagi ingat akan cerita apa yang kuceritakan, tetapi aku ingat kalau cerita itu cukup panjang, setidaknya lebih panjang dibandingkan dengan teman-temanku.
                Walaupun begitu, namanya juga anak kecil, aku masih tidak tahu kalau itulah bakatku. Cita-citaku pada saat itu adalah sebagai pilot. Sejak kecil aku sangat kagum dengan kebebasan burung yang dapat terbang kemana-mana, dan akhirnya aku bercita-cita sebagai pilot.
                Seperti anak-anak normal lainnya aku bertumbuh dan bertambah usia. Pada usiaku yang kesepuluh aku dan ayahku pergi dan memeriksa mata di sebuah optik. Ayahku yang sudah mengenakan kacamata yang cukup tebal memeriksa seperti biasa dan tidak ada perubahan. Ketika aku memeriksa, aku terkejut. Ternyata mataku sudah tidak normal lagi, mataku silinder. Walaupun tidak sampai silinder satu, aku tetap harus segera memakai kacamata. Pada awalnya aku sangat senang ketika aku dinyatakan harus memakai kacamata. Aku akan menjadi seperti ayahku, begitu pikirku. Akhirnya terwujudlah keinginanku memakai kacamata. Rasanya biasa saja, tidak terlalu berbeda dengan saat aku tidak memakainya.
                Setelah memakai kacamata aku langsung pesimis mengenai cita-citaku untuk menjadi pilot, karena salah satu syarat untuk menjadi seorang pilot adalah matanya harus normal.  Akhirnya aku berusaha mencari sebuah cita-cita yang lain. Yang terpikirkan saat itu adalah menjadi seorang pelukis. Padahal nyatanya gambarku sama sekali tidak bagus. Kembali lagi aku memikirkan dari awal akan jadi apa diriku waktu besar nanti.
                Aku kemudian melihat kakakku yang kuliah di jurusan komunikasi massa. Saat itu dia sudah lulus dan bekerja di sebuah majalah. Di sana ia menjadi salah seorang penulisnya. Seringkali aku melihatnya menulis di laptop IBM tuanya. Seperti yang kita tahu, figur orangtua atau seorang kakak sangatlah penting untuk contoh bagi seorang anak. Karena aku menganggap pekerjaan kakakku adalah pekerjaan yang sangat menyenangkan, aku kemudian mulai mencoba menulis cerita.
                Sejak pertama, aku tidak pernah menulis dengan sebuah pensil dan kertas. Tulisan pertamaku kuketik di laptop yang sama dengan yang digunakan kakakku. Aku terduduk di samping ayahku yang sedang bekerja menggunakan laptopnya. Selama menulis suasananya tenang. Kebetulan di sampingku ada saudaraku yang masih kecil yang menjadi saksi mata sewaktu aku menuliskan cerpen pertamaku, entah dia masih ingat atau tidak. Cerpen pertama itu jadi setelah dua jam lamanya. Sekarang aku sudah tidak tahu lagi ada dimana cerita itu.
Cerpen itu bercerita mengenai pertarungan dan perebutan kekuasaan wilayah antara sekelompok serigala melawan sekelompok singa. Serigala tidak ingin kalau singa menjadi raja rimba, mereka ingin memberontak terhadap hukum alam tersebut. Akhirnya sekelompok serigala itu kalah dan tiga per empat populasi mereka mati dihabisi para singa. Dan pesan dari cerita ini adalah jangan pernah mencoba melawan hukum alam yang sudah ada, karena itu hanya akan menjadi sia-sia.
Itu adalah cerita pendek pertamaku. Bagiku cerita ini hebat sekali! Seorang anak kelas 5 SD bisa membuat sebuah cerpen dalam waktu dua jam setebal 4 halaman yang memiliki sebuah pesan di dalamnya. Hebatnya lagi, aku bahkan membuat sebuah cerita yang penuh dengan pembunuhan dan peperangan. Bukannya sombong, aku pun sampai hari ini masih takjub akan diriku sendiri sewaktu kecil dulu. Ada banyak hal yang sampai sekarang aku sendiri masih heran. Salah satunya adalah saudaraku, yang adalah seorang perempuan, dapat duduk tenang melihatku menulis selama dua jam. Seingatku, dia bahkan belum bisa membaca saat itu.
Sejak saat itu aku meneguhkan diriku untuk menjadi seorang penulis hebat nantinya. Aku mulai mencoba mengembangkan bakatku dan mencoba banyak-banyak menulis. Aku sampai mencoba menulis sebuah catatan harian atau diary, yang sampai sekarang hal seperti itu umumnya hanya dilakukan oleh perempuan. Tetapi, aku gagal melakukan hal itu. Sekali lagi itu karena aku memang tidak suka menulis menggunakan pensil dan kertas.
Tulisan-tulisanku belum pernah kucoba kirim ke sebuah koran atau majalah apapun. Aku masih malu pada saat itu. Hingga sekarang aku masih belum pernah mengirimkan satu pun cerita. Walaupun, sekarang lebih karena alasan malas dari pada karena malu. Terlebih lagi, sekarang sudah ada teknologi internet yang memudahkanku untuk menyebarkan tulisan-tulisanku lewat blog pribadiku.
Saking senangnya menulis, aku juga mengajak orang lain untuk mau menulis. Di SMA-ku ada satu mata pelajaran mengenai teknik presentasi. Di situ, aku menggunakan kesempatanku untuk mengajak teman-temanku untuk menulis. Presentasi pertamaku adalah mengenai ajakanku untuk teman-teman agar lebih senang membaca novel ketimbang membaca komik. Kemudian, saat kelas 2 aku mulai mengajak orang untuk menulis. Semua orang pasti senang kalau bisa membagikan apa yang dia sukai kepada orang lain, dan akan lebih senang lagi kalau ada orang yang menyenangi hal yang sama, begitu juga diriku.
Inilah ceritaku mengenai awal hubungan baikku dengan dunia tulis-menulis. Banyak yang ingin kuceritakan sebenarnya, tetapi kurasa ini saja sudah cukup panjang. Malahan terlalu panjang hanya untuk bercerita mengenai satu orang dan hal yang disenanginya. Sampai berjumpa lagi dengan bayangan diriku di tulisan-tulisanku yang selanjutnya.