Showing posts with label Menulis. Show all posts
Showing posts with label Menulis. Show all posts

October 25, 2013

Festival Ajib

Dengan Dua botol Nutrisari
Dan Sebungkus kacang Mayasi
Sebelum tiba cahaya matahari
Sudah terduduk di atas bus Damri

Menanti tujuan selanjutnya
Menuju sesuatu yang ditunggu-tunggu

                Sebulan menunggu festival besar ini. Menghayal akan hal-hal yang tidak akan terjadi (dan tidak perlu ditanya lebih jauh), menunggu akan kemeriahannya. Segala bayangan itu melompat-lompat di dalam kepala gue yang kecil ini.

                Sebulan setelah gue pesen tiket kereta, booking hotel, dan tentunya tiket acara ini, akhirnya subuh itu datang juga. Tiket untuk pesawat pukul 5.20 WIB, dari Cengkareng ke Denpasar sudah rapi terlipat di dalam tas selempang. Dengan susunan uang yang juga sudah rapi untuk bayar bus Damri dan airport tax.

                Gue memang merencanakan untuk sampai di Ubud sehari sebelum acaranya mulai. Akhirnya menghabiskan waktu satu harian untuk foto-foto sendiri dan jalan-jalan.




                Besoknya, tidak seperti pembukaan festival meriah lainnya, opening di adakan di salah satu venue, yang adalah Museum Neka. Hanya ada satu tari-tarian Bali yang indah dan lumayan memukau, lalu ada opening speech dari founder UWRF dan juga ada keynote speech dari Goenawan Mohamad. Abis itu, gue mendengarkan panelnya Sebastian Faulks. Dia yang nulis buku Devil May Cry, yang tokoh utamanya adalah James Bond.

Goenawan Mohamad lagi Keynote Speech

                 Setelah panelnya selesai, gue sempet ketemu Pangeran Siahaan dan janjian mau nonton bareng (dan akhirnya ga jadi karena ga tau mau nonton di restoran apa yang ada TV, ga perlu dibahas cerita nyari-nyarinya gimana). Abis itu buru-buru ke motor dan melakukan perjalanan terpanjang gue selama naik motor.

                Jadi begini, gue berencana untuk ikut book launchnya Trinity (penulis The Naked Traveler series) yang mulai jam 3 WITA di mall paling besar di Bali yang pernah gue tau. Gue jalan dari Ubud jam 1 dengan perut agak terisi setelah makan pagi yang super banyak. Perkiraannya, satu jam sampai dan bisa makan dulu sebelum nonton si teteh.

                Ternyata, 34 km tidak bisa ditempuh secepat itu dengan kendaraan beroda dua dan bermotor. Walaupun begitu, memang akhirnya pas-pasan. Sampai di Gramedia sudah tinggal 2 menit lagi sebelum acaranya mulai. Jadi, ya sudah.

                Satu hal yang terjadi (di luar perkiraan) juga dan sangat tidak menyenangkan adalah kondisi bokong yang sudah mati rasa akibat duduk di jok motor standart selama dua jam. Akhirnya selama acara gue berdiri-berdiri aja walaupun sewaktu dateng ada 1-2 kursi yang masih kosong.

Di Gramedia Mall Galeria, Bali

                 Setelah acara Book Launch sudah selesai, gue ngobrol-ngobrol sama Trinity dan kru dari penerbitnya sambil makan kue semacam muffin dan satu botol kecil air mineral. Gue dateng memang untuk ngobrol-ngobrol yang ini. Di-briefieng karena mau ngemsi buat book launch Trinity di Ubud nanti. Trus senengnya adalah waktu dapet buku terbarunya dia, yang mau di-launching, secara gratis. Cekikikan gitu dalam hati.

Ngobrol lumayan lama sambil ngopi sampai hari mulai gelap. Karena masih buta banget sama Bali, akhirnya gue memutuskan untuk buntutin mobilnya mereka sampai Ubud. Sekali lagi, perjalanan panjang di atas sepeda motor yang memakan korban dua bongkahan pantat yang berujung pada kematian (rasa).

Malamnya, karena tidak jadi nobar, gue ikut street party di jalanan tempat gue tinggal. Setelah selesai, gue baru sadar ternyata ada dua acara di street party ini. Gue cuma ikut nontonin band regae di depan sambil ngikut nanyi dan joget-joget. Acaranya ga selama yang gue pikirkan, ternyata cuma sampai jam 11. Pulang dengan kelelahan dan langsung tidur.

Besoknya, hal yang paling menarik adalah gue ketemu sama founder dari Lonely Planet, guide book untuk travelling yang paling terkenal. Dia adalah Tony Wheeler. Menyempatkan diri berfoto sama doi, yang legendaris itu. Rasanya sangat senang, tapi ini belum klimaks dari kesenenangan gue selama di Ubud. Hanya ini yang paling menarik sepanjang satu harian.



Hari Senin tanggal 14 Oktober 2013 pukul 1 lebih 30 menit. Acara yang paling di tunggu-tunggu dari seluruh acara menarik lainnya. Tidak perlu topik menarik atau tempat yang indah. Hanya perlu orang yang ditunggu-tunggu itu.

*jeng jenggg* muncullah Dewi Lestari di atas panggung sebagai panelis favorit gue sepanjang festival. Norak dan lega waktu lihat wajahnya untuk pertama kali. Entah apa yang gue harapkan dari melihat wajah penulis-penulis favorit gue, tapi Dewi Lestari di luar perkiraan. Perempuan yang cantik dan di luar stereotip penulis pada umumnya. Sekali lagi, gue pun juga sebenarnya belum tau apakah penulis zaman sekarang masih punya stereotip gondrong dan berantakan.

                Selesai panel, Dewi Lestari a.k.a. Dee langsung diserbu fans yang banyak banget. Berusaha tetap santai, walau hati dag-dig-dug, gue berdiri dan menunggu di belakang. Mau jadi yang terakhir aja.

Sambil berdiri-berdiri di belakang fans Dee yang banyak itu, gue sempat melihat fenomena yang membuat mata sedikit terpana. Ada seorang anak perempuan (yang diperkirakan dari lihat mukanya, seorang Bali asli) yang membawa seluruh koleksi buku karya Dee miliknya yang dipegang sendiri dan semua bukunya itu setebal dari dagu hingga pinggangnya. Bikin minder gitu karena gue hanya bawa satu buku. Satu-satunya yang bikin bangga adalah fakta bahwa buku yang gue bawa adalah edisi pertama.

Paling bangga nunjukin foto ini: Bareng Dewi Lestari

Sorenya baru deh gue ngemsiin Trinity. Satu jam yang menyenangkan, setelah akhirnya gue bisa masukkin satu experience lagi di resumè. Setelah itu, kita semua (gue, trinty, dan teman-teman asik lainnya) ngejer acara selanjutnya. Ada  yang ngejer acaranya Goenawan Mohamad, ada juga yang ngejer screening film. Gue salah satu yang ngejer screening film itu.

Doi Lagi bertemu fans, gue foto dari samping

Filmnya dokumenter, berjudul Jalanan. Bercerita soal 3 tokoh pengamen di jalanan Ibu Kota. Gue sempet perhatiin lokasi-lokasinya. Satu orang perempuan ngamen disekitar Blok M dan dua laki-laki (terpisah) ada di sekitaran Sudirman. Film ini ditonton oleh lebih lima ratusan orang (kira-kira). Seru dan lucu filmnya.

Di akhir film, ketiga tokoh itu maju ke atas panggung dan memainkan lagu original mereka. Ketiga orang itu mendapat tepuk tangan dan sorak-sorai yang meriah dari penonton, ternasuk di antaranya, gue sendiri.

Malam berakhir dan menutup dirinya sendiri. Tinggal bulan di atas sana yang menikmati segelintir manusia kalong yang tidak pernah tidur malam.

Pagi-pagi di hari terakhir festival ini di buka oleh panel di mana Dewi Lestari jadi salah satu panelisnya. Kali ini topiknya menarik, “Honouring Kartini”. Jadi ada 2 panelis perempuan dan satu moderator yang juga perempuan bicara soal gimana mereka berdua ini menjadi Kartini kontemporer gitu. Menariknya adalah salah satu panelis perempuan yang lain itu, Nila Tanzil, adalah juniornya Dewi Lestari waktu kuliah.

Di tengah-tengah mendengarkan sesi panel yang ini, gue sambil baca timeline Twitter. Ternyata ada berita mengejutkan dari panitia. Sapadi Djoko Damono tidak jadi hadir! Oh, tidak. Dia juga sebenarnya salah satu orang yang gue tunggu-tunggu kehadirannya dan juga tanda tangannya di buku terbarunya dia.

Setelah selesai panel yang ini, Dee lanjut lagi ke venue yang berbeda untuk panel terakhirnya. Soalnya setelah itu dia ngejer pesawat untuk kembali pulang ke Jakarta. Selesai di sesi panel yang satu ini, ternyata di kejer tanda tangan dan foto lagi. Gila juga, kata gue dalam hati. Emang ini perempuan hebat banget sih. Tadinya gue juga mau minta foto lagi, tapi karena lama dikerubungin fans-nya yang lain dan dia juga udah mau ngejer pesawat, gue jadi sungkan. Akhirnya hanya salaman aja terakhirnya dan senyum tersipu-sipu.

 Malam itu adalah malam penutupan, tapi gue tidak ikut. Alasannya karena motor udah dibalikin dan bingung nanti pulangnya gimana.

Hari setelah itu, gue mulai perjalanan cerita yang baru. Gara-gara UWRF 2013, tiba-tiba niat untuk ressurect tulisan lama yang sudah hilang. Kali ini, ditulis dengan perspektif yang berbeda. Entah lebih menarik yang mana. Berharap poinnya masih akan tetap sama.


*Ditulis tiga belas hari setelah festival selesai.




                

July 17, 2013

Jadi Kreatif

Beda sekali rasanya dengan seperti waktu sekolah. Liburan memang panjang, banyak sekali yang terjadi. Hanya saja, itu semua tidak banyak terjadi dengan teman-teman bermain yang sama. Hal ini membuat kehidupan menulis menjadi membosankan. Tidak hanya saya sepertinya, teman-teman saya yang lain, yang baru lulus SMA, juga sepertinya mengalami hal yang sama. Setelah UN, mereka tidak post tulisan apapun yang baru di blog masing-masing.

Punya sekolah dan tidak adalah sesuatu yang besar bagi hidup. Setelah lulus sekolah, punya kerjaan atau tidak menjadi sesuatu yang besar bagi hidup. Karena apalah gunanya hidup kalau hanya berada di kamar, menyendiri dan bermain game. Itu sangat menyedihkan. Setidaknya, itu yang saya lakukan selama dua hari yang lalu, maka itu saya tau betapa menyedihkannya hal itu.

Terisolasi akan keadaan membuat ide tidak bisa keluar dari kepala dan bisa berdampak kematian atau kegilaan yang panjang. Itu juga menyedihkan.

Manusia harus terus bekerja. Harus terus berjalan-jalan ke luar sana. Berada di rumah bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Tidak ada yang benar-benar menyukai hal ini. Dunia luar jauh lebih menyenangkan. Ada banyak hal yang bisa dipikirkan sampai otak mau meledak. Itu pun sebenarnya jauh lebih baik daripada tidak memikirkan apa-apa, walaupun dampak kematian dan kegilaan jangka panjangnya sama saja.

Kamar sempit. Dunia ini luas. Jakarta sempit (sekali). Sekali lagi, dunia ini luas. Sekolah tidak hanya ada di satu kota, begitu juga dengan pekerjaan, rumah, pasangan hidup dan banyak hal lainnya . Dunia sekarang ini butuh orang yang kreatif, dan untuk menjadi orang yang kreatif butuh ruang yang luas. Bukan hanya ruang secara fisik, tetapi juga secara pikiran. Sesekali bersikap egois untuk menemukan satu ide yang cemerlang, tidak memikirkan apapun atau siapapun, hanya diri dan juga ide yang brilian.

Jika itu semua membuat diri tidak memiliki banyak teman atau bahkan dimusuhi, maka berhentilah dan mulai berteman. Karena kekreatifan juga dimulai dari orang-orang di sekitar kita.



Sekedar Curhat Sebagai Penulis

                Setelah berusaha untuk menulis kembali, halangan langsung datang. Sangat berat untuk dilalui. Sudah ada 3 draft yang saya tulis untuk di-post dan masih tersimpan baik di my document. Luburan memang tantangan tersulit. Membuat malas merajalela dan main menjadi sangat mengayikkan.

                Blackberry yang hilang juga sempat membuat frustasi. Akhirnya terjebak di rumah dan tidak bisa keluar. Memang aneh sekali kejadian Blackberry yang hilang ini. Biar saya ceritakan. Saya tiba di rumah tante saya, sepulang dari Bandung. Lalu saya pergi ke atas untuk ke kamar mandi, sambil membawa Blackberry, lalu saya turun lagi kebawah (masih dengan memegang Blackberry) dan berdiri di dapur. Suasana sedang sibuk karena hujan turun deras dan ada banjir di depan rumah yang harus dihalangi. Setelah itu, saya lupa di mana Blackberry itu saya letakkan dan sampai hari ini masih dicari.

                Mengerikan sekali apa yang terjadi di sekitar saya. Apakah benar ini setan yang menggoda atau hal lain, tapi apapun itu, saya sepertinya tidak penuh persiapan menghadapinya.

                Mempunyai waktu sendiri untuk menulis juga adalah hal yang sulit. Bukan karena berada di tempat yang ramai, tetapi karena sudah ada dunia maya, Facebook dan Twitter membuat kepala menjadi ramai. Selalu terjatuh dan akhirnya terus menerus scroll ke bawah untuk melihat post atau tweet orang lain.

                Akhirnya, hanya curhat semacam ini yang keluar dari kepala. Saya pikir, ini semua bisa jadi pelajaran. Untuk menulis itu dibutuhkan tekad dan juga waktu untuk sendiri. Sebisa mungkin matikan internet, taruh jauh2 smartphone (sebisa mungkin dibuat agar LED tidak menyala, karena itu akan menarik mata sehingga tangan rasanya ingin mengambil), dan jangan nyalakan musik keras-keras. Otak harus bekerja dengan lancar dan jari-jari harus mengetik dengan cepat.

                Setelah ini, saya masih belum bisa janji kalau post yang keluar selanjutnya bukan hanya sekedar curhat. Ada 3 draft yang menanti, tapi belum tau kapan saya berniat untuk melanjutkan.  

                

July 10, 2013

Hai! Malas dan menulis kembali

                Sudah lama sekali sejak terakhir kali posting. Ada banyak sekali ide yang bersliweran keluar-masuk kepala, tapi sedikit sekali yang bisa ditulis. Kebanyakan ditulis di akun twitter. Seratus empat puluh kata yang singkat itu kadang-kadang harus diakali dengan berbagai macam cara untuk menyampaikan pikiran yang sedang terlintas tiba-tiba.

                Sulit sekali untuk saya menyimpan sendiri pikiran yang sudah terpikirkan. Rasanya sayang. Apalagi di memori manusia seperti saya yang prioritas daya ingatnya sempit (kebanyakan sudah diisi data film, artis, dan sepakbola).

                Saya sendiri akhirnya merasa bahwa kemampuan menulis saya menurun dan kemalasan saya bertambah. Sulit sekali untuk kembali disiplin setelah melepas kegiatan blogging karena ada UN, SBMPTN, SIMAK, dan yang terutama adalah karena ada liburan. Mulai bangun siang, mandi lebih siang lagi, makan pertama adalah makan siang, dsb.

                Pikiran yang kelelahan setelah dihajar tiga ujian ini pun akhirnya babak belur dan malas. Tentu saja saya tidak semudah itu menyerah. Berbagai usaha untuk kembali menulis terjadi, walaupun akhirnya gagal di tengah-tengah.

                Bukan hanya tiga ujian dan liburan saja yang membuat saya malas menulis. Terlalu sering berkomunikasi lewat messenger juga akhirnya membuat saya jadi malas. Rasanya, semua fokus pikiran sudah mengarah ke obrolan yang sedang terjadi. Pikiran-pikiran untuk ditulis hilanglah sudah. Yang ada hanya pikiran-pikiran untuk ditulis di kolom kecil beberapa messenger.

                Sebentar lagi saya (mungkin) akan masuk ke universitas. Kalaupun tidak masuk universitas, saya akan magang. Keduanya benar-benar membutuhkan keterampilan saya untuk menulis. Jadi intinya, saya akan mulai sibuk blogging lagi mulai sekarang. Karena dari sinilah disiplin menulis saya terkontrol, jumlah pembaca adalah motivasi untuk tetap menulis, dan tampilan blog yang gelap dan boring ini selalu menghibur saya.

                Semoga dengan begini, kerajinan untuk menulis (atau bahkan sebenarnya untuk bangun pagi) bertambah.

Hai!


-Ditulis di pagi hari pukul 08.58 ketika pikiran secerah matahari pagi dan mata masih segar memandang layar laptop mini ini-

November 7, 2012

Semangat Menulis dari Hati ke Hati


                Belakangan ini, jarang sekali saya punya kesempatan untuk menulis. Setiap hari, saya selalu disibukkan oleh pekerjaan sekolah, ada pacar yang serius, ada tim futsal yang latihan terus, ada juga murid yang sangat-sangat butuh dibantu, lalu ada rumah yang harus dirapikan. Wah, repot! Saya setiap hari sampai di rumah, minimal jam setengah tujuh. Tentu saya sangat bersyukur kalau bisa pulang lebih awal.
                Rasanya, seperti sudah kerja kantoran saja, bahkan mungkin lebih parah. Saya masuk sekolah jam tujuh pagi dan selesai sekolah jam setengah tiga. Setelah itu, ada tambahan pelajaran, tentu saja karena saya sudah kelas 12. Hari Selasa, latihan futsal. Hari Rabu, saya mengajar ekskul. Di kondisi yang seperti ini, saya baru menyadari betapa waktu itu uang. Lebih lama pulang, lebih mahal ongkos hidupnya.
                Selama beberapa minggu yang sibuk ini, saya juga belajar satu hal sebagai seorang penulis muda. Rasa rindu akan berkata-kata lewat tulisan. Saya ini bawel, seringkali kepuasan berkata-kata oral terpuaskan dengan baik, tetapi saya juga suka menulis. Kerinduan saya selalu terbendung oleh banyaknya hal yang harus dikerjakan dan juga kondisi hati yang makin jarang bahagia. Walaupun begitu, saya juga masih suka menulis puisi di kertas coretan sewaktu ujian matematika, atau menulis artikel protes kepada sekolah di selembar kertas (dan parahnya, saya suka sengaja berusaha terlihat sedang menulis dan tidak memperhatikan, supaya guru saya baca keresahan hati saya, dan mungkin, teman-teman juga), dan beberapa kali saya juga menulis cerita-cerita pendek.
                Menulis esai untuk tugas masih hal yang menyenangkan bagi saya, tidak terasa seperti tuntutan, kecuali pelajaran sejarah. Saya masih menikmati proses itu. Penjabaran sebuah masalah, lalu memecahkannya seperti sebuah ahli yang datang dan sedang menyelamatkan dunia intelektual.
                Dalam masa-masa kerinduan yang amat sangat, pikiran jernih saya lahir kembali dengan sebuah prinsip baru. Sebuah sentuhan penuh arti dalam jiwa dan sebuah ketukan ilahi dalam pikiran. Saya terselimuti oleh kata-kata ini sepanjang beberapa minggu, sampai saya menjadi panas, ingin cepat-cepat keluar lagi.
                Jadi begini, ini adalah mengenai jawaban dari pertanyaan “Mengapa manusia harus menulis?” Manusia tercipta dari kata-kata. Manusia hidup dengan nama, sebuah bagian dari kata. Manusia bersosialisasi dengan manusia lain, dengan binatang, dengan tumbuhan lewat kata-kata. Simbol dan sandi pun melambangkan sebuah kata. Manusia tak dapat terpisah dengan kata. Bahkan, penyebutan “manusia” membutuhkan sebuah kata.
                Selama di kendaraan umum, di kelas selama belajar, di kelas selama mengajar, terkadang di gereja sewaktu mencatat khotbah, selama termenung menatapi hujan, dalam berbagai macam kondisi, selama itulah saya memikirkan kata-kata saya yang itu. Ketika terungkap, bahwa manusia tak terpisahkan dari kata, di situlah semangat membara keluar dari hati.
                Hati itu memang kompleks. Butuh lebih dari jutaan hadiah materi untuk memuaskannya, tetapi hanya dengan satu janji manis, maka sang pemilik hati akan tersenyum. Ini mengapa cinta itu topik yang laku, karena cinta menawarkan janji termanis yang pernah ada. Dan cinta, tak dapat lagi diungkapkan dengan kata.
                Karena itulah. Karena itulah saya masih terus. Terus menulis. Terus memiliki hati yang berkobar. Karena, saya cinta menulis.  Menulis itu refleksi hati, refleksi hidup, refleksi cinta dengan manusia. Saya cinta merefleksikan cinta saya.
                Ah, kata-kata itu mudah dipermainkan, tetapi susah dipegang. Kalau tidak dipaksa berhenti menulis, saya tidak bisa berhenti, maka tulisan manusia berhenti.  Biar iluminasi dan afeksi yang diberikan mengalir sendirinya dalam pikiranmu, ya.

September 1, 2012

Jadi Guru Ekskul


                Jadi guru itu enak juga, ya. Agak merasa lumayan berkuasa. Apalagi kalo jadi guru ekskul. Jadi guru ekskul lebih enak daripada jadi guru pelajaran, karena murid-murid yang masuk ekskul adalah murid-murid yang benar-benar minat. Kalau kondisi sudah begini, setiap kali bicara tentu didengarkan.
                Konyolnya, atau juga bisa dibilang uniknya, saya jadi murid dan jadi guru di satu sekolah yang sama. Kalau kamu hebat, kamu pasti bisa tebak saya jadi guru ekskul apa. Ya, itu. Ekskul yang ada hubungannya sama tulis-menulis. Ekskul Penulisan Kreatif, lebih tepatnya. Bukan hanya mengenai menulis cerita dan artikel, tapi saya juga ajarkan mereka tulis puisi, naskah, dsb.
                Kemarin ini, baru minggu kedua saya mengajar. Satu minggu satu kali, namanya juga ekskul. Seru memang, walaupun hanya baru dua kali. Saya tidak sabar menunggu minggu-minggu berikutnya.
                Ngomong-ngomong, saya sudah bisa susun silabus kecil-kecilan, lho. Asik, ya! Pengalaman baru. Nanti, seiring berjalannya waktu, pengalaman saya mengajar bisa jadi pengalaman yang berpengaruh dalam hidup saya ke depan. Semoga begitu.
                Sebenarnya, ada cerita dibalik saya bisa jadi guru ekskul. Jadi, guru ekskul sebenarnya, yang adalah juga guru besar sastra sekolah saya dan juga wakil kepala sekolah, tidak bisa mengajar karena jadwalnya sudah padat. Karena di sekolah saya, saya terkenal akan kemahiran menulis, jadilah saya yang dipilih untuk menjadi guru.
Dan jangan salah sangka, saya tidak jadi guru bayaran. Kadang, ingin juga minta gaji, tapi saya juga belum yakin saya sudah sehebat itu untuk dapat gaji. Lama-kelamaan, saya jadi ingin jadi guru ketika nanti besar. Kata orang, guru adalah pekerjaan yang mulia, itu kenapa Yesus memilih menjadi guru.
Ah, dunia ini tidak bisa diprediksi. Tuhan membentuk saya dan kamu secara perlahan dan misterius. Ketika kita setia, kita akan tahu dan melihat sendiri nanti. Cita-cita itu seperti ilusi jadinya.

March 26, 2012

Disiplin Menulis

                Sebagai seorang penulis, saya ini bisa dikatakan penulis yang tidak disiplin. Kerjanya uring-uringan saja. Alasannya bukan karena tidak ada ide, tapi karena terkadang malas tuang ide ke dalam sebuah tulisan.  Kadang ide mampet begitu saya sudah sampai di depan komputer. Akhirnya saya menuliskan hal yang lain.
                Terkadang, saya juga tidak tahu apa inti dari yang saya tuliskan, apa yang ingin saya sentuh dari tulisan saya. Sering seperti itu. Hanya omongan-omongan tidak jelas dan diselesaikan dengan sebuah amanat yang entah dari mana saya ambil. Dan entah apa nyambungnya dengan tulisan saya.
                Jadi, disiplin itu sangat penting dalam menulis. Itu lebih penting dari pada seberapa hebat penguasaan bahasamu, atau seberapa hebat penalaran idemu. Kalau tidak disiplin, semua itu sia-sia. Kapan mau dipakai?
                Coba lihat di film Limitless. Tokoh utama dari film itu adalah seorang penulis. Tapi, karena hidupnya yang hancur dan selalu bimbang, akhirnya dia terhenti karena tidak ada ide untuk menulis. Ia tidak dapat uang, hidup miskin, penerbit selalu memarahi dan memaki dia, tidak ada orang yang menghargai dia.
                Saya sendiri, yang bercita-cita sebagai seorang sastrawan, paling menakuti hal sedemikian rupa. Kalau masalah itu datang menimpa saya, maka mungkin saya akan kehilangan banyak hal. Profesi seniman memang selalu hidup sulit. Misalnya, Beethoven. Dia pernah suatu kali mengirimkan surat kepada raja untuk mengingatkan memberi dia uang untuk hasil karyanya, karena dia kekurangan.
                Hidup disiplin itu memang susah. Tidak gampang mengatur diri sendiri yang banyak maunya ini. Kita memang harus belajar bertahan. Bertahan dalam kesusahan, kesengsaraan, dan keterbatasan untuk menikmati hasilnya nanti ketika sudah makin bertumbuh. Nantinya, lama-lama juga biasa.
                Janjilah pada dirimu sendiri. Saya setiap hari minimal harus tulis berapa ratus kata, misalnya. Berusaha untuk menepati janji itu setiap hari. Kelak kamu akan jadi seorang yang besar.  

February 10, 2012

Inspirator sejak tahun '45

                Semenjak Indonesia merdeka, perjuangan-perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan banyak dilakukan di mana-mana dengan berbagai cara. Ada cara-cara dengan diplomasi dan juga ada cara-cara pemberontakan yang melibatkan angkatan bersenjata.  Tetapi tidak semua rakyat Indonesia bisa berpartisipasi dalam kedua cara tersebut. Kedua cara tersebut hanya dilakukan oleh orang-orang terpilih yang juga sudah terlatih. Lalu, rakyat biasa yang lain apakah hanya diam saja dan menunggu hasil? Tentu tidak. Ada hal-hal yang mereka kerjakan di dalam keahliannya masing-masing.
                Salah satunya seperti para seniman yang sekarang kita sebut sebagai ‘angkatan 45’. Mereka tidak berdiplomasi ke luar negeri, apalagi berperang. Mereka hanya seorang seniman. Kerja mereka hanyalah membuat karya seni seperti sebuah puisi, novel, lukisan, atau ukiran. Tetapi hebatnya, dengan hal-hal demikian mereka bisa ikut serta dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan juga membantu melegitimasi kekuasan Indonesia atas wilayah nusantara.
                Cara mereka adalah dengan membuat sebuah pernyataan kehebatan bangsa Indonesia atau anti-belanda di dalam karya mereka masing-masing. Chairil Anwar  dan puisinya, Pramoedya Ananta Toer dengan novelnya, Mochtar Lubis dengan berita-berita yang ditulisnya di media cetak saat itu, para pelukis dengan lukisan atau posternya, dan para pengukir dengan pantung-patungnya yang megah. Dukungan-dukungan semacam inilah yang juga menyemangati para pejuang lainnya yang berjuang lewat cara-cara yang lain.
                Karena pada saat itu Indonesia adalah negara yang baru, maka karya-karya seperti ini sangat membantu rakyat Indonesia pada saat itu mengerti arti kemerdekaan dan mengerti identitas diri sebagai seorang Indonesia yang sudah merdeka. Lewat karya-karya mereka, mereka ingin menyadarkan rakyat Indonesia kalau mereka sudah dalam kondisi merdeka dan mengajak rakyat Indonesia keluar dan merayakan serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia bersama-sama.
                Semangat seperti itulah yang harusnya dipertahankan sampai pada hari ini. Sebagai seorang siswa jurusan IPS yang suka menulis, saya juga ingin seperti seniman-seniman angkatan ’45. Lewat tulisan saya, saya ingin menyadarkan rakyat Indonesia sekarang kalau kita sudah dalam kondisi merdeka. Kita sudah tidak seharusnya terpuruk dalam kondisi politik dan ekonomi yang kurang tertata rapi. Rakyat Indonesia sepertinya sudah menyepelekan hal mengenai kemerdekaan dan sejarah kemerdekaan Indonesia, sehingga banyak yang tidak menghargai identitasnya sebagai orang Indonesia.
                Para seniman angkatan ’45 berhasil menjalankan misinya pada saat itu. Rakyat Indonesia bangun dan saling bahu-membahu dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Kalau mereka bisa, saya juga tentunya harus bisa untuk membangunkan kembali rakyat Indonesia yang sedang dalam kondisi tidak sadar. Walaupun sumbangsihnya terlihat kecil, hanya sebuah buku, tetapi itu setidaknya sudah membuktikan saya peduli terhadap kondisi bangsa Indonesia sekarang.
                Semangat orang-orang itulah yang terus menginspirasi saya untuk terus maju dan terus menulis. Akhirnya menulis bukan hanya sebuah hobi. Tetapi itu juga menjadi sebuah cara untuk saya ikut berpartisipasi dalam mengisi kemerdekaan Indonesia, seperti yang sudah sering diucapkan dalam janji siswa setiap kali saya mengikuti upacara bendera.

November 8, 2011

Terang itu

                Tempat itu gelap. Walaupun hangat dan nyaman, Reno tetap merasa ada yang kurang. Dia meraba-raba tubuhnya sendiri, mencari apa yang kurang. Tidak didapati apapun di tubuhnya. Ia menengok ke kiri dan ke kanan. Tidak terlihat apapun. Ia bisa merasakan ruangan itu tidak kecil dan sempit, tetapi besar dan kosong melompong. Seketika ia sadar, tidak ada terang di ruangan besar ini.
                Reno sendiri tidak mengerti bagaimana caranya ia bisa ada di dalam ruangan ini. Mungkin ia dilahirkan di sini, atau mungkin ia diculik dan disekap di ruangan ini serta dicuci otak. Yang pasti, ia tidak ingat apapun mengenai dunia di luar sana. Ia tidak tahu apa rasanya berada di dalam terang. Reno sendiri sudah berada disini cukup lama rasanya.
                Menyanyi. Hanya itu kerjanya sepanjang hari. Suara nyanyiannya membuat ruangan itu terasa penuh. Besar dan indah suaranya, seperti layaknya penyanyi opera profesional. Yang Reno nyanyikan adalah lagu-lagu berbahasa latin yang indah-indah artinya. Sesaat ketika Reno berhenti bernyanyi, sunyi sepilah ruangan besar itu. Kesepian itu langsung menyergap dirinya tanpa permisi. Menyergap lebih cepat dari pada cahaya.
                Sudah berbulan-bulan rasanya sejak Reno berada di tempat gelap itu. Reno sendiri tidak tahu kalau hari terus berganti. Ia tidak bisa melihat keluar dari ruangan ini. Tetapi tampaknya Reno sudah makin terbiasa dengan kondisi ini. Ia bahkan sering berbicara sendiri, untuk mengusir rasa sepi itu. ‘Menurutmu seperti apa terang itu?’ Reno bertanya kepada dirinya sendiri ‘Terang itu pasti lebih baik daripada gelap, aku bisa melihat segalanya dengan terang.’ Reno menjawab pertanyaannya sendiri, dengan nada yang dibuatnya berbeda.
                 Semakin sering Reno berjalan dan berkeliling ruangan ini, semakin hapal dia akan betapa besarnya ruangan ini. Tidak hanya terasa seperti ruangan yang amat besar, tetapi terasa seperti sebuah istana kerajaan. Ia hanya bisa merasakannya, tidak bisa melihat.
                Suatu ketika, Reno menemukan sebuah jalan yang tidak biasa ia lewati. Terasa seperti sebuah lorong panjang. ‘Hoi..!!’ Teriakan Reno menggema sampai ke penghujung lorong itu. Jauh dan besar sekali rasanya lorong itu. Reno mencoba untuk masuk ke lorong itu dan mengikuti jalannya perlahan.
                Jalan itu hanya sebuah jalan lurus. Tidak ada persimpangan untuk belok. Cukup lama Reno berjalan. Ia tidak menemukan apapun sejauh ini. Langkahnya makin pasti dan makin besar. Ia yakin perjalanan ini masih jauh.
                Baru beberapa langkah ia berjalan dengan pasti, ia menabrak sebuah tembok. Reno sempat terhuyung ke belakang dan kembali menyeimbangkan dirinya lagi. Ia kemudian meraba-raba tembok itu dan menemukan sebuah kenop pintu. Kenop itu diputarnya dan terbukalah pintu itu.
                Tiba-tiba cahaya yang sangat terang menyinari seluruh badannya. Matanya tersambit cahaya terang itu dengan sangat keras. Karena tidak kuat lagi maka ia menutup matanya. Reno sempat meringis, tetapi kemudian ia berteriak dengan kencang ‘Oh.. Terang, sudah lama aku ingin bertemu denganmu, hampiriliah aku.’ Setelah itu dibukanya lagi matanya dan ia tidak menutupnya sampai terang itu mengisi matanya dengan penuh dan kemudian Reno menjadi buta. Gelap itu sekarang ada  di dalam Reno. 

September 22, 2011

Mau nulis aja susah

Kita sebagai orang Kristen pasti tahu kalau berdoa itu nafas hidup dari diri setiap kita yang mengaku sebagai orang Kristen. Begitu juga dengan menulis di dunia jurnalistik. Menulis bagaikan nafas hidup seorang jurnalis maupun calon jurnalis, seperti saya. Sekarang ini, sudah hampir satu bulan saya tidak menulis di atas kertas maupun mengetik di komputer. Rasanya sungguh tidak enak. Begitu banyak ide-ide yang saya sudah ingin tuliskan tetapi tidak kesampaian karena pada saat mendapat waktu kosong saya lebih memanfaatkan waktu itu untuk beristirahat. Akhirnya, sambil saya beristirahat dan memejamkan mata, saya menulis di dalam pikiran saya sendiri. Mungkin kalian bertanya-tanya apa maksud saya menulis di dalam pikiran. Begini, menulis itu ‘kan sebenarnya seperti berbicara di atas sebuah kertas, hanya saja bedanya ada bahasa yang digunakan dalam bahasa lisan yang tidak bisa digunakan untuk bahasa penulisan. Jadi, kalau dipikir-pikir menulis di dalam pikiran itu sama saja dengan berbicara dengan diri sendiri, tanpa suara, dan tanpa sebuah media.
Menulis di dalam pikiran memiliki satu kelemahan yang sangat besar, itu adalah lupa. Ketika kita sudah banyak memikirkan ide-ide tulisan dan bahkan sudah menyusun alur penulisan atau bahkan kita sudah seperti membuat artikel utuh, terkadang kita sering lupa. Saya juga sering mengalami hal ini dan rasanya sungguh-sungguh menjengkelkan! Ketika saya sudah bersemangat akan menuliskan apa yang sudah saya tuliskan dalam pikiran saya dan itu semua gagal karena saya lupa saya mau tulis apa, saya bisa nge-down (red=galau). Rasa itu sama seperti ketika kita mau diberikan sebuah trip jalan-jalan keliling Indonesia gratis, tetapi kita tidak bisa ikut karena tiba-tiba ada acara mendadak yang harus dihadiri.
Sekarang saya sedang memikirkan ulang karena semuanya serba salah. Tidak menulis secara real ada rasa tidak enak, tetapi kalau menulis di dalam pikiran sering lupa nantinya. Saya bingung selama beberapa hari belakangan ini. Akhirnya saya mendapatkan ide yang sebenarnya bukan ide baru hasil inovasi saya, tetapi saya baru sadar ada cara ini. Solusinya adalah sebuah buku catatan kecil dan sebuah pen murah yang siap pakai kapan pun saya mau dan harus pas dengan ukuran kantung baju atau celana saya. Jadi, dimana pun saya mau menulis, saya bisa menulisnya langsung tanpa kehilangan satu pun ide, karena ide itu sangat berharga!
Sampai disini cerita saya mengenai kehidupan tulis-menulis saya kali ini. Semoga lewat pengalaman yang saya bagikan teman-teman sekalian terbantu.