Showing posts with label Keren. Show all posts
Showing posts with label Keren. Show all posts

October 30, 2013

Malam Hari di Sudut

Ketika saya sedang berbaring di pinggir jalan
Menatap ke langit luas
Lalu berguling menuju sudut yang lebih gelap
Orang tak melihat
Sedang saya memerhatikan titik-titik putih itu
Mana pula saya mengerti apa itu bintang
Saya tahunya itu titik-titik putih yang indah
Anehnya, seperti kumpulan ketombe
Di baju yang lapuk ini

Sebelum bintang-bintang berdatangan
Panggung langit dibuka dengan acara awan
Gumpalan putih yang terlihat empuk
Seperti kapas beterbangan di ruang atas sana
Berbagai bentuk bisa terjadi
Tergantung angin yang meniup dan membentuknya
Saya di bawah kolong ini
Hanya menikmati yang di atas

Tak layaknya awan yang bergerak ditiup angin
Bintang cenderung diam
Setiap berganti malam, berganti tempat
Setiap saya lihat, tetap pada tempatnya

Saya bertanya selalu
Setiap siang mereka ke mana?
Berlatihkah untuk acara setiap malamnya?
Seperti manusia yang di bawah ini
Sewaktu siang bekerja layak budak uang
Maka bintang layak budak matahari

Saya hanya pemerhati
Penonton dari sudut jalanan yang kotor
Tempat orang meludah dan buang air
Sama sekali tidak lebih baik dari siapapun

Tapi sekali malam tetap malam
Dan itu semua saya punya
Pinggiran jalan yang hina
Dengan layar lebar di atas sana

Kita semua tahu malam itu gelap
Jarang kali ada yang bisa melihat dalam gelap
Saya bisa lihat tembus ke malam yang gelap
Ke hati manusia yang gelap
Menemukan titik-titik putih
Harap-harap jadi besar
Agar sedikit bisa berbisik

Saya ada di sudut kotor
Memerhatikanmu selama ini
Dan kita tidak berbeda
Biar malam yang gelap menudungi kelemahan kita semua

Sebelum sinar surya menghukum kita dengan kejam

October 29, 2013

Heart Rock Café

                Untuk anak remaja, kegiatan yang cukup memicu jantung dan otak sekaligus dan berulang-ulang, bukan roller coaster. Mainan itu sih sudah bisa dimainkan oleh anak kecil, yang penting tingginya memenuhi syarat. Bukan juga main bola (futsal, sepak bola, basket, voli, dan olahraga dengan bola lainnya). Memang benar, keduanya memicu jantung dan otak sekaligus. Hanya saja, belum tepat.

                Ini adalah satu-satunya kegiatan yang bisa memicu jantung dan otak sekaligus dengan berulang-ulang dan memiliki efek yang gila-gilaan sampai bisa mengakibatkan kematian secara fisik maupun spiritual. Bisa membuat anak remaja, siapapun korbannya, akan berubah total dari kebiasaan yang sebelumnya ia miliki.

                Kegiatan ini memang secara umum bisa terjadi pada orang di umur berapa saja. Efeknya memang berbeda. Paling menarik dan paling heboh, tentu saja terjadi pada anak remaja. Otaknya sedang penuh terpompa oleh hormon. Kegilaan adalah hal yang anak remaja biasa lakukan. Tidak tidur, tidak makan, tidak minum, tidak belajar, tidak berhenti berlari, adalah hal-hal yang sebenarnya cukup gila, namun dianggap biasa oleh anak remaja pada umumnya.

                Terjatuh akibat aksi kegilaan mereka memang sakit, kebanyakan dari remaja mengakui hal ini, dan beberapa dari mereka tidak tahan akan sakitnya. Ada yang memutuskan untuk mengakhiri hidup, ada juga yang memutuskan untuk balas dendam kepada orang yang telah menjatuhkannya hingga sakit. Beberapa di antara mereka survive. Mereka adalah orang-orang yang tidak membuat hiperbola mengenai kejatuhan dan rasa sakit ini. Anak remaja model begitu adalah yang orang-orang yang punya keberanian untuk jadi gila lebih besar atau rasa penasaran mereka belum terpuaskan, mereka jadi lebih sayang nyawa.

                Cinta itu faktor utama kegilaan. Sumber dari segala macam kegilaan remaja terletak pada satu kata yang tidak mudah diurai seperti atom-atom kimia. Kata ini sering dibahas, sering dibuat puisi, dibuat cerita. Kebanyakan di antaranya, berakhir bahagia. Orang sering bilang, kalau kita mendapatkan yang kita cintai, maka kita bisa bahagia selama-lamanya amin.

                Di antara berbagai kecelakan yang tragis, yang bisa saja mengubah orang dari pandangan hidupnya yang lama menjadi yang lebih baru, hampir semua anak remaja menghadapi yang namanya jatuh cinta. Jatuh cinta terhadap seorang manusia lain (lain jenis atau sesama jenis persoalan yang berbeda), benda, permainan, bahkan hal-hal yang spiritual (Tuhan atau roh dari idola yang sudah mati, semacam Michael Jackson).

                Jatuh itu kata kerja dan cinta itu kata sifat. Jatuh cinta itu frasa yang menunjukkan suatu pekerjaan. Jadi benar saja, ini sebuah kegiatan. Karena cinta adalah sumber dari kegilaan (yang bisa positif atau negatif), begitu anak remaja jatuh ke dalamnya, maka segala hal yang dilakukannya bisa jadi irasional dan ya itu, gila.

                Tetapi, mari kita lihat ke satu sisi menarik yang ada di dalam kegilaan ini, yakni nyantai. Bersantai yang berlebihan dan duduk dengan waktu yang lama, bisa dibilang juga sebagai nongkrong. Kalau jatuh cinta yang di-ekspresikan dengan kegiatan pacaran, maka kebanyakan pasangan di abad 21 ini suka nongkrongin antara HP mereka atau laptop mereka. Menunggu-nunggu balasan. Kalau orang-orang yang suka main game, ya dia akan nongkrongin console antara komputer atau playstation.

                 Nah, yang membuat jantung berdetak kencang dan otak berputar-putar adalah saat-saat nongkrong itu. Kadang, menunggu-nunggu balasan yang lama dari pacar bisa membuat orang menjadi parno dan takut ternyata salah SMS atau ada sesuatu yang terjadi dengan pacarnya, dan berbagai macam alasan parno lainnya.

Orang-orang yang main game dag-dig-dug saat dirinya sudah hampir kalah di satu event yang penting (final, misalnya) dan berusaha memutar otak untuk bagaimana cara counter-attack atau memperpanjang waktu dan menyerang di ronde yang lain dengan kekuatan baru dan menyusun strategi yang lebih fresh.

Lain lagi dengan jatuh cinta sama benda,  jantung mereka mungkin akan berdegup sewaktu baru membeli dan memutar otak untuk mengumpulkan duit membeli benda yang kepadanyalah ia jatuh cinta, sisanya mungkin hanya berdegup jantung sewaktu benda kesayangannya itu hampir jatuh atau lupa diletakkan di mana dan hampir hilang. Lalu orang-orang yang mencintai benda favoritnya ini membuat perlindungan khusus, semacam sarung atau apalah.

Hampir semua orang yang jatuh cinta berdiam diri. Menikmati hal itu. Nongkrong di tengah kegiatannya yang gila itu. Melakukan kegiatan pasif, semacam tidak tidur, tidak makan, tidak minum. Hanya menikmati hal yang ia cintai.


...
Jantung berdegup kencang dan otak berputar keras, berusaha mempertahankan sesuatu yang kepadanyalah ia jatuh cinta.
Gila itu. Jatuh cinta. Gila itu. Gila sekali.



October 25, 2013

Festival Ajib

Dengan Dua botol Nutrisari
Dan Sebungkus kacang Mayasi
Sebelum tiba cahaya matahari
Sudah terduduk di atas bus Damri

Menanti tujuan selanjutnya
Menuju sesuatu yang ditunggu-tunggu

                Sebulan menunggu festival besar ini. Menghayal akan hal-hal yang tidak akan terjadi (dan tidak perlu ditanya lebih jauh), menunggu akan kemeriahannya. Segala bayangan itu melompat-lompat di dalam kepala gue yang kecil ini.

                Sebulan setelah gue pesen tiket kereta, booking hotel, dan tentunya tiket acara ini, akhirnya subuh itu datang juga. Tiket untuk pesawat pukul 5.20 WIB, dari Cengkareng ke Denpasar sudah rapi terlipat di dalam tas selempang. Dengan susunan uang yang juga sudah rapi untuk bayar bus Damri dan airport tax.

                Gue memang merencanakan untuk sampai di Ubud sehari sebelum acaranya mulai. Akhirnya menghabiskan waktu satu harian untuk foto-foto sendiri dan jalan-jalan.




                Besoknya, tidak seperti pembukaan festival meriah lainnya, opening di adakan di salah satu venue, yang adalah Museum Neka. Hanya ada satu tari-tarian Bali yang indah dan lumayan memukau, lalu ada opening speech dari founder UWRF dan juga ada keynote speech dari Goenawan Mohamad. Abis itu, gue mendengarkan panelnya Sebastian Faulks. Dia yang nulis buku Devil May Cry, yang tokoh utamanya adalah James Bond.

Goenawan Mohamad lagi Keynote Speech

                 Setelah panelnya selesai, gue sempet ketemu Pangeran Siahaan dan janjian mau nonton bareng (dan akhirnya ga jadi karena ga tau mau nonton di restoran apa yang ada TV, ga perlu dibahas cerita nyari-nyarinya gimana). Abis itu buru-buru ke motor dan melakukan perjalanan terpanjang gue selama naik motor.

                Jadi begini, gue berencana untuk ikut book launchnya Trinity (penulis The Naked Traveler series) yang mulai jam 3 WITA di mall paling besar di Bali yang pernah gue tau. Gue jalan dari Ubud jam 1 dengan perut agak terisi setelah makan pagi yang super banyak. Perkiraannya, satu jam sampai dan bisa makan dulu sebelum nonton si teteh.

                Ternyata, 34 km tidak bisa ditempuh secepat itu dengan kendaraan beroda dua dan bermotor. Walaupun begitu, memang akhirnya pas-pasan. Sampai di Gramedia sudah tinggal 2 menit lagi sebelum acaranya mulai. Jadi, ya sudah.

                Satu hal yang terjadi (di luar perkiraan) juga dan sangat tidak menyenangkan adalah kondisi bokong yang sudah mati rasa akibat duduk di jok motor standart selama dua jam. Akhirnya selama acara gue berdiri-berdiri aja walaupun sewaktu dateng ada 1-2 kursi yang masih kosong.

Di Gramedia Mall Galeria, Bali

                 Setelah acara Book Launch sudah selesai, gue ngobrol-ngobrol sama Trinity dan kru dari penerbitnya sambil makan kue semacam muffin dan satu botol kecil air mineral. Gue dateng memang untuk ngobrol-ngobrol yang ini. Di-briefieng karena mau ngemsi buat book launch Trinity di Ubud nanti. Trus senengnya adalah waktu dapet buku terbarunya dia, yang mau di-launching, secara gratis. Cekikikan gitu dalam hati.

Ngobrol lumayan lama sambil ngopi sampai hari mulai gelap. Karena masih buta banget sama Bali, akhirnya gue memutuskan untuk buntutin mobilnya mereka sampai Ubud. Sekali lagi, perjalanan panjang di atas sepeda motor yang memakan korban dua bongkahan pantat yang berujung pada kematian (rasa).

Malamnya, karena tidak jadi nobar, gue ikut street party di jalanan tempat gue tinggal. Setelah selesai, gue baru sadar ternyata ada dua acara di street party ini. Gue cuma ikut nontonin band regae di depan sambil ngikut nanyi dan joget-joget. Acaranya ga selama yang gue pikirkan, ternyata cuma sampai jam 11. Pulang dengan kelelahan dan langsung tidur.

Besoknya, hal yang paling menarik adalah gue ketemu sama founder dari Lonely Planet, guide book untuk travelling yang paling terkenal. Dia adalah Tony Wheeler. Menyempatkan diri berfoto sama doi, yang legendaris itu. Rasanya sangat senang, tapi ini belum klimaks dari kesenenangan gue selama di Ubud. Hanya ini yang paling menarik sepanjang satu harian.



Hari Senin tanggal 14 Oktober 2013 pukul 1 lebih 30 menit. Acara yang paling di tunggu-tunggu dari seluruh acara menarik lainnya. Tidak perlu topik menarik atau tempat yang indah. Hanya perlu orang yang ditunggu-tunggu itu.

*jeng jenggg* muncullah Dewi Lestari di atas panggung sebagai panelis favorit gue sepanjang festival. Norak dan lega waktu lihat wajahnya untuk pertama kali. Entah apa yang gue harapkan dari melihat wajah penulis-penulis favorit gue, tapi Dewi Lestari di luar perkiraan. Perempuan yang cantik dan di luar stereotip penulis pada umumnya. Sekali lagi, gue pun juga sebenarnya belum tau apakah penulis zaman sekarang masih punya stereotip gondrong dan berantakan.

                Selesai panel, Dewi Lestari a.k.a. Dee langsung diserbu fans yang banyak banget. Berusaha tetap santai, walau hati dag-dig-dug, gue berdiri dan menunggu di belakang. Mau jadi yang terakhir aja.

Sambil berdiri-berdiri di belakang fans Dee yang banyak itu, gue sempat melihat fenomena yang membuat mata sedikit terpana. Ada seorang anak perempuan (yang diperkirakan dari lihat mukanya, seorang Bali asli) yang membawa seluruh koleksi buku karya Dee miliknya yang dipegang sendiri dan semua bukunya itu setebal dari dagu hingga pinggangnya. Bikin minder gitu karena gue hanya bawa satu buku. Satu-satunya yang bikin bangga adalah fakta bahwa buku yang gue bawa adalah edisi pertama.

Paling bangga nunjukin foto ini: Bareng Dewi Lestari

Sorenya baru deh gue ngemsiin Trinity. Satu jam yang menyenangkan, setelah akhirnya gue bisa masukkin satu experience lagi di resumè. Setelah itu, kita semua (gue, trinty, dan teman-teman asik lainnya) ngejer acara selanjutnya. Ada  yang ngejer acaranya Goenawan Mohamad, ada juga yang ngejer screening film. Gue salah satu yang ngejer screening film itu.

Doi Lagi bertemu fans, gue foto dari samping

Filmnya dokumenter, berjudul Jalanan. Bercerita soal 3 tokoh pengamen di jalanan Ibu Kota. Gue sempet perhatiin lokasi-lokasinya. Satu orang perempuan ngamen disekitar Blok M dan dua laki-laki (terpisah) ada di sekitaran Sudirman. Film ini ditonton oleh lebih lima ratusan orang (kira-kira). Seru dan lucu filmnya.

Di akhir film, ketiga tokoh itu maju ke atas panggung dan memainkan lagu original mereka. Ketiga orang itu mendapat tepuk tangan dan sorak-sorai yang meriah dari penonton, ternasuk di antaranya, gue sendiri.

Malam berakhir dan menutup dirinya sendiri. Tinggal bulan di atas sana yang menikmati segelintir manusia kalong yang tidak pernah tidur malam.

Pagi-pagi di hari terakhir festival ini di buka oleh panel di mana Dewi Lestari jadi salah satu panelisnya. Kali ini topiknya menarik, “Honouring Kartini”. Jadi ada 2 panelis perempuan dan satu moderator yang juga perempuan bicara soal gimana mereka berdua ini menjadi Kartini kontemporer gitu. Menariknya adalah salah satu panelis perempuan yang lain itu, Nila Tanzil, adalah juniornya Dewi Lestari waktu kuliah.

Di tengah-tengah mendengarkan sesi panel yang ini, gue sambil baca timeline Twitter. Ternyata ada berita mengejutkan dari panitia. Sapadi Djoko Damono tidak jadi hadir! Oh, tidak. Dia juga sebenarnya salah satu orang yang gue tunggu-tunggu kehadirannya dan juga tanda tangannya di buku terbarunya dia.

Setelah selesai panel yang ini, Dee lanjut lagi ke venue yang berbeda untuk panel terakhirnya. Soalnya setelah itu dia ngejer pesawat untuk kembali pulang ke Jakarta. Selesai di sesi panel yang satu ini, ternyata di kejer tanda tangan dan foto lagi. Gila juga, kata gue dalam hati. Emang ini perempuan hebat banget sih. Tadinya gue juga mau minta foto lagi, tapi karena lama dikerubungin fans-nya yang lain dan dia juga udah mau ngejer pesawat, gue jadi sungkan. Akhirnya hanya salaman aja terakhirnya dan senyum tersipu-sipu.

 Malam itu adalah malam penutupan, tapi gue tidak ikut. Alasannya karena motor udah dibalikin dan bingung nanti pulangnya gimana.

Hari setelah itu, gue mulai perjalanan cerita yang baru. Gara-gara UWRF 2013, tiba-tiba niat untuk ressurect tulisan lama yang sudah hilang. Kali ini, ditulis dengan perspektif yang berbeda. Entah lebih menarik yang mana. Berharap poinnya masih akan tetap sama.


*Ditulis tiga belas hari setelah festival selesai.




                

September 29, 2013

Dua Bulan

                Sudah dua bulan. Mendengar “Susah banget sih contact lu? Gimana caranya?”; “Trus gue nanti contact lu gimana?”; “Ha? Hilang lagi? Wah, kacau banget lu.”. Sudah dua bulan. Menghilang dari dunia sosial yang begitu mudah. Sudah dua bulan. Jadi hantu dan bayang-bayang keramaian dunia maya.
                “Engga sih, ga nyesel sama sekali.” “Yakin? Bukannya pasti akan banyak momen menulis yang gemilang di tengah jalan, begitu?” “Engga juga, jarang. Dalam waktu dua bulan yang sudah lewat, paling cuma ada berapa ide. Itu juga ga yakin jadi semua.”

                Tidak hanya jadi bayangan dunia maya saja, bayangan dari hobi dan kebutuhan sendiri itu lebih parah lagi. Tidak terlalu sulit melewati ini semua. Laptop HP mini, yang sudah melayani kebutuhan gue lebih lama, dengan setia mendukung dalam segala hal. Hanya saja, tidak dalam segi portable.

                Sudah dua bulan. Kalau kamu tau game “Plants vs Zombies” ada satu level di bagian puzzles yang namanya “Invisighost”. Rasanya seperti itu kira-kira. Selama dua bulan.

                Selama dua bulan. Paling sering bilang “Abang pinjem HPnya ya” ke sepupu gue yang masih 9 tahun dan udah punya Blackberry Onyx. Beberapa kali kasih nomor HP itu ke orang, padahal bukan milik sendiri. Padahal, apalah pula salahnya memberi alamat e-mail? Udah zaman modern ‘kan ini? Itu yang terpikir dalam benak.

                Akhirnya, memang karena tuntutan zaman, gue berencana beli HP baru. Membuat janji pada diri sendiri, pokoknya harus ada HP sebelum bulan Oktober. Bukan karena rasa malu, tapi karena kebutuhan. Bukan karena anak zaman dan mengikuti kebutuhan zaman, karena di dalam diri ada ego dan ego mengatakan, “Saya butuh HP!”.

                Dua hari sebelum Oktober. Gue membuat keputusan. Ini HP baru. Setelah dua bulan. Sekarang itu dua hari sebelum Oktober, hari setelah dua bulan. Menyenangkan sekali rasanya. Kembali berhubungan dengan alam maya.



 *Ditulis masih sambil dulanan HP baru.

September 3, 2013

Iklan-iklan

Setiap duduk seringkali sedang berusaha menutup

Banyak orang berkata hal ini mengganggu
Membuat yang seharusnya dilihat menjadi tertutup
Pemandangan menjadi tidak karuan
Kapitalisme! Pendorong konsumerisme!

Sebagian orang lain berkata inilah sumber pendapatan
Klien bahagia, uang saya banyak
Tidak ada yang tersakiti juga
Menurutmu baju kita beli dari uang apa?

Pro-kontra sudah biasa memang
Dan yang ini memang tak bisa dihalangi

Sebentar lagi, perederan jamur sudah kalah
Akan begitu banyak orang hidup bergantung dengan ini
Hal yang menjadi akselerasi roda pasar
Semakin menyenangkan, semakin sukses
Namun sedikit jamur yang menyenangkan

Menjadi bagian dari hal ini yang membuat orang maklum
Sisanya, hanya menjadi mangsa-mangsa empuk
Jangan lagi salah mengira
Atau berusaha menduga-duga
Karena tidak ada yang tidak menjadi mangsa


Mufasa saja tahu, kita semua akan saling makan

August 21, 2013

Logika Salah

Karena manusia punya pilihan
Mereka bertindak
Berdarah dalam balutan kasih
Tertawa di atas penderitaan
Salah-Salah, maka benar

Gatal melihat kerusakan
Digaruk menambah
Sakit yang lebih parah
Jangan lagi logika berkata
Min kali min sama dengan plus

Satu pengecualian
Menggentarkan
Satu teori
Dan orang bodoh
Menghajarmu dengan pengalaman

Panjang akal tidak mengajarimu satu hal
Kata-kata palsu
Hidup yang tak lagi ada
Berlapiskan emas dan uang
Gaun mewah dan selimut tebal

Tuan dan Puan
Hamba dan budak
Hitung-hitung pilihanmu
Jadi salah satunya
Tak membuat perbedaan

Akan menjadi besar
Lengkap dengan akal budi
Maka tetaplah polos
Kemurnian menjagamu
Untuk terus hidup


July 22, 2012

Kampung-kota


Aku sering ingin pergi dari sini
Sini, tempat Ibuku lahir
Mereka sudah membuat sini sama menjadi sana
Segala yang ada di sana, dibawanya ke sini
Di sana hidup lebih lancar
Di sini aku bahkan tidak bisa berjalan
Lama aku menunggu waktu
Tertahan di dalam kelaparan
Ingin pergi aku ingin pergi
Merangkak, bergesekan dengan kerikil
Sakit, sakit sekali
Di sana banyak mimpi terwujud
Di sini aku sering dipukuli karena melamun
Tak kuasa lagi Ayahku menahan
Ibu hanya bisa menangis
Mau aku ke sana, bukan di sini
Kampung-kota

July 7, 2012

Soal Feminitas dan Jiwa Saya


                Semua orang di dunia ini, baik laki-laki maupun perempuan, punya sisi maskulin dan feminin masing-masing. Kadar kedua sisi itu berbeda-beda tiap orang. Ada perempuan yang maskulinitasnya lebih besar daripada perempuan-perempuan lainnya, begitu juga sebaliknya dengan laki-laki.
                Saya, yang sepertinya memiliki takdir hidup untuk selalu berada di sekeliling perempuan banyak (dan bukan mainan perempuan maksudnya), agaknya menjadikan saya jadi banyak tau soal perempuan, tapi itu tidak membuat saya jadi seperti perempuan. Hal ini saya tidak hiperbola sama sekali. Saya berkali-kali berada di acara yang isinya banyak perempuan semua. Dulu waktu kakak saya kuliah dan saya masih kecil (masih SD), saya sering diajak berkumpul bersama teman-teman kakak saya yang perempuan semua. Jadi, ya kira-kira bergitulah gambarannya.
                Karena sejak kecil saja sudah begitu, akhirnya saya menemukan ketertarikan-ketertarikan di dunia perempuan-perempuan itu. Karena kebetulan waktu itu kakak saya dan teman-temannya anak FISIP, jadilah saya hari ini ingin masuk di jurusan yang sama dengan mereka. Ada banyak hal lagi yang menjelaskan kenapa saya begini hari ini, macam kebawelan saya, ketertarikan saya dengan dunia tulis menulis, kehebatan saya dalam merangkul wanita dengan muka unik begini, dan berbagai macam hal lainnya.
                Sisi feminin yang berkembang bersamaan dengan sisi maskulin saya membuat saya bisa mengerti perempuan lebih dari laki-laki biasanya tanpa kehilangan kelaki-lakian saya. Saya masih bisa pakai celana jeans yang untuk perempuan, lalu membawa tas yang ada warna pink di pinggirnya tanpa terlihat sebagai perempuan. This is what’s great from me!
                Saya mungkin pernah manicure, tetapi saya juga pernah berkelahi sampai berdarah-darah. Gaya bicara saya terkadang bisa dibilang seperti perempuan, tetapi isi bicaraan saya laki-laki banget. Ya, pokoknya hal-hal macam itu deh yang membuktikan keseimbangan kedua sisi, feminitas dan maskulinitas, di dalam jiwa saya. Kamu gimana? Sudah seimbang?  

May 12, 2012

Adu Mulut


                Seribu satu kali aku berkata-kata, tetapi tak satupun sampai terdengar manusia-manusia bebal itu. Mereka berkata-kata kepadaku seribu satu kali, tetapi tak satupun bisa kudengar apa maksudnya. Mulut beradu mulut, kata-kata saling bertabrakan, suasana rusuh, keramaian tak terkendali. Mereka bilang aku bebal, tetapi aku tau merekalah yang sebenarnya bebal. Setelah itu semua selesai. Tak ada satupun dari kami yang bergerak. Tak satupun berubah posisi. Kami ditengah-tengah kehampaan. Hanya ada aku dan mereka. Kesempatan berkata-kata sudah hilang. Sekarang kami tetap diam.

Cerah Di Negeri Sendiri


                Cerah itu kalau tidak sendu. Penuh dengan tawa riang. Cahaya matahari dengan cepat menyelimuti kulit yang sawo  matang ini. Tidak perlu takut jadi hitam, ini negeriku, tak ada orang yang perlu peduli, semua orang begini. Rumput-rumput hijau di taman aku injak-injak. Kakiku langsung penuh dengan tanah dan lumpur. Tidak lagi kupedulikan masalah ini, ini rumahku, tak ada orang yang melarang, semua orang juga pernah. Hari penuh dengan senyuman dan tubuh terus bergoyang sana-sini. Ini cerah. Aku ingin terus cerah, secerah matahari dari pagi sampai pagi.

April 21, 2012

Cinta di Kaki Wanita


                Menurutmu kenapa Ken Arok jatuh cinta pada Ken Dedes? Karena betis indah. Betis yang kuning langsat itu bercahaya di mata Ken Arok. Betis itu yang berisi dan menggiurkan bagi seorang Ke Arok. Kaki dan betis.
                Tokoh Pangeran di kisah Cinderella. Jatuh cinta dengan seorang perempuan yang muat kakinya dengan sepatu kaca yang ia temukan. Kaki yang muat dengan sepatu itu kaki yang kecil. Lebih kecil dari saudara-saudara tirinya dan ibunya. Kaki mungil yang biasanya lebih disukai. Pangeran itu jatuh cinta dengan kaki dan sepatunya terlebih dahulu. Bukan wanitanya.
                Legenda Danau Toba dan ikan di danau itu. Ketika ikan itu berubah menjadi manusia, si nelayan melihat ikan itu dari bawah ke atas sambil mengaggumi. Apa dulu yang dia lihat? Kaki, tumit, betis, paha. Itu yang lebih dulu dia lihat sebelum wajahnya. Dari kaki baru ke kepala. Seperti surga dia lihat kakinya.
                Kaki-kaki ini. Begitu menggairahkan hidup. Karena betis Ken Dedes, Ken Arok begitu mencintai Ken Dedes dan membunuh suaminya. Karena sepatu kaca yang sangat mungil, seorang Pangeran mengelilingi kotanya sepanjang malam sampai pagi untuk mencari Cinderella. Ia mengetuk pintu satu per satu seperti seorang salesman, sungguh malu.
                Benar saja orang bilang surga di telapak kaki ibu. Telapak kaki yang penuh cinta.                

March 14, 2012

Laper

                Laper itu tidak enak. Dalam bentuk dan rupa apapun, Laper itu tetap tidak enak. Mau Laper makanan atau Laper ilmu sama saja, tidak enak. Laper bahkan tidak lebih enak dari pada pusing. Justru karena Laper maka jadi pusing kepala.
                Laper itu sesuatu yang nyata dalam hidup kita. Menyentuh pikiran, kehendak, dan emosi kita. Sedikit saja Laper, kadang masih bisa ditahan. Kalau Lapernya sudah menjadi-jadi, bisa gila kita dibuatnya. Kita bisa pusing, bisa makan makanan orang lain, atau bahkan bisa makan yang bukan makanan, atau bisa juga kita menjadi marah-marah.
                Kata orang kalau Laper sudah tidak bisa mikir. Aneh ya, yang kosong perut, yang tidak bisa kerja malah pikiran. Padahal kalau di kelas filsafat selalu ada pertanyaan yang akhirnya bikin Laper kita semua “apa itu pikiran?”. Kita memikirkan pikiran itu apa dengan pikiran kita dan akhirnya yang kosong perut, lho?
                Makan kenyang, nanti ngantuk. Tidak makan Laper, nanti  tidak bisa kerja. Manusia memang kebanyakan alasan. Mau makan yang pas, tidak bisa ditahan, alasannya masih Laper. Memang manusia banyak akalnya dan tipu muslihat.
Laper dibuat pura-pura tidak Laper supaya tidak gemuk. Kenyang dibuat pura-pura Laper supaya bisa nambah. Memang manusia sendiri tidak tahu maunya diri apa.
Egois bisa muncul kapan saja ketika Laper. Tidak peduli belum waktunya makan di sekolah, tetap curi-curi makan atau berusaha negosiasi dengan guru. Tidak peduli sudah waktunya makan siang di kantor atau belum, kalau bisa sambil melahap makan sambil bekerja.
Memang, Laper itu bikin kita jadi semena-mena. Bahkan lebih jadi lebih semena-mena daripada kebelet ke toilet. Hanya karena Laper, revolusi Perancis muncul. Bunuh sana, korupsi sini, jajah kemana-mana, hanya karena Laper.
Tidak ada hari tidak Laper. Mau bagaimanapun, Laper ya tetap Laper, kasihan kalau ditahan-tahan.