Showing posts with label cinta. Show all posts
Showing posts with label cinta. Show all posts

October 29, 2013

Heart Rock Café

                Untuk anak remaja, kegiatan yang cukup memicu jantung dan otak sekaligus dan berulang-ulang, bukan roller coaster. Mainan itu sih sudah bisa dimainkan oleh anak kecil, yang penting tingginya memenuhi syarat. Bukan juga main bola (futsal, sepak bola, basket, voli, dan olahraga dengan bola lainnya). Memang benar, keduanya memicu jantung dan otak sekaligus. Hanya saja, belum tepat.

                Ini adalah satu-satunya kegiatan yang bisa memicu jantung dan otak sekaligus dengan berulang-ulang dan memiliki efek yang gila-gilaan sampai bisa mengakibatkan kematian secara fisik maupun spiritual. Bisa membuat anak remaja, siapapun korbannya, akan berubah total dari kebiasaan yang sebelumnya ia miliki.

                Kegiatan ini memang secara umum bisa terjadi pada orang di umur berapa saja. Efeknya memang berbeda. Paling menarik dan paling heboh, tentu saja terjadi pada anak remaja. Otaknya sedang penuh terpompa oleh hormon. Kegilaan adalah hal yang anak remaja biasa lakukan. Tidak tidur, tidak makan, tidak minum, tidak belajar, tidak berhenti berlari, adalah hal-hal yang sebenarnya cukup gila, namun dianggap biasa oleh anak remaja pada umumnya.

                Terjatuh akibat aksi kegilaan mereka memang sakit, kebanyakan dari remaja mengakui hal ini, dan beberapa dari mereka tidak tahan akan sakitnya. Ada yang memutuskan untuk mengakhiri hidup, ada juga yang memutuskan untuk balas dendam kepada orang yang telah menjatuhkannya hingga sakit. Beberapa di antara mereka survive. Mereka adalah orang-orang yang tidak membuat hiperbola mengenai kejatuhan dan rasa sakit ini. Anak remaja model begitu adalah yang orang-orang yang punya keberanian untuk jadi gila lebih besar atau rasa penasaran mereka belum terpuaskan, mereka jadi lebih sayang nyawa.

                Cinta itu faktor utama kegilaan. Sumber dari segala macam kegilaan remaja terletak pada satu kata yang tidak mudah diurai seperti atom-atom kimia. Kata ini sering dibahas, sering dibuat puisi, dibuat cerita. Kebanyakan di antaranya, berakhir bahagia. Orang sering bilang, kalau kita mendapatkan yang kita cintai, maka kita bisa bahagia selama-lamanya amin.

                Di antara berbagai kecelakan yang tragis, yang bisa saja mengubah orang dari pandangan hidupnya yang lama menjadi yang lebih baru, hampir semua anak remaja menghadapi yang namanya jatuh cinta. Jatuh cinta terhadap seorang manusia lain (lain jenis atau sesama jenis persoalan yang berbeda), benda, permainan, bahkan hal-hal yang spiritual (Tuhan atau roh dari idola yang sudah mati, semacam Michael Jackson).

                Jatuh itu kata kerja dan cinta itu kata sifat. Jatuh cinta itu frasa yang menunjukkan suatu pekerjaan. Jadi benar saja, ini sebuah kegiatan. Karena cinta adalah sumber dari kegilaan (yang bisa positif atau negatif), begitu anak remaja jatuh ke dalamnya, maka segala hal yang dilakukannya bisa jadi irasional dan ya itu, gila.

                Tetapi, mari kita lihat ke satu sisi menarik yang ada di dalam kegilaan ini, yakni nyantai. Bersantai yang berlebihan dan duduk dengan waktu yang lama, bisa dibilang juga sebagai nongkrong. Kalau jatuh cinta yang di-ekspresikan dengan kegiatan pacaran, maka kebanyakan pasangan di abad 21 ini suka nongkrongin antara HP mereka atau laptop mereka. Menunggu-nunggu balasan. Kalau orang-orang yang suka main game, ya dia akan nongkrongin console antara komputer atau playstation.

                 Nah, yang membuat jantung berdetak kencang dan otak berputar-putar adalah saat-saat nongkrong itu. Kadang, menunggu-nunggu balasan yang lama dari pacar bisa membuat orang menjadi parno dan takut ternyata salah SMS atau ada sesuatu yang terjadi dengan pacarnya, dan berbagai macam alasan parno lainnya.

Orang-orang yang main game dag-dig-dug saat dirinya sudah hampir kalah di satu event yang penting (final, misalnya) dan berusaha memutar otak untuk bagaimana cara counter-attack atau memperpanjang waktu dan menyerang di ronde yang lain dengan kekuatan baru dan menyusun strategi yang lebih fresh.

Lain lagi dengan jatuh cinta sama benda,  jantung mereka mungkin akan berdegup sewaktu baru membeli dan memutar otak untuk mengumpulkan duit membeli benda yang kepadanyalah ia jatuh cinta, sisanya mungkin hanya berdegup jantung sewaktu benda kesayangannya itu hampir jatuh atau lupa diletakkan di mana dan hampir hilang. Lalu orang-orang yang mencintai benda favoritnya ini membuat perlindungan khusus, semacam sarung atau apalah.

Hampir semua orang yang jatuh cinta berdiam diri. Menikmati hal itu. Nongkrong di tengah kegiatannya yang gila itu. Melakukan kegiatan pasif, semacam tidak tidur, tidak makan, tidak minum. Hanya menikmati hal yang ia cintai.


...
Jantung berdegup kencang dan otak berputar keras, berusaha mempertahankan sesuatu yang kepadanyalah ia jatuh cinta.
Gila itu. Jatuh cinta. Gila itu. Gila sekali.



March 18, 2013

Masih Remaja Sudah Pacaran



Orang tua sering bilang, “masih muda jangan pacaran dulu, sekolah dulu yang bener.” Seperti bagaimana telah disampaikan begitu banyak orang lain yang telah hidup jauh lebih dahulu dari kita, sebaiknya kita dengarkan kata orang tua.

                Seorang tokoh serial yang bernama Gregory House M. D. yang adalah seorang tokoh dokter yang brilian dan selalu merasa dirinya tak layak untuk bahagia juga pernah mengatakan sesuatu mengenai cinta dan pacaran. Suatu saat, ia berkata kepada pacarnya, “Being happy and being in love with you makes me a crappy doctor.” Hal ini dikatakannya setelah pasien ketiganya yang mati karena terlambat didiagnosa, dan ia mengatakan ini dalam keadaan mabuk. Kemudian ia melanjutkannya “If I had to choose between saving eveyone or loving you and being happy, I choose you. I choose being happy with you. I always choose you.”

                Memang mungkin seringkali pacaran membuat studi agak kurang baik, karena memang ketika sedang jatuh cinta fokus hidup berubah. Walaupun begitu, pacaran memberikan sebuah energi baru yang mendorong manusia untuk hidup. Lebih baik lagi kalau pacarannya serius, tapi mari kita sama-sama lihat fakta. Berapa persen sih anak remaja pacaran serius? Lagi pula, untuk apa juga serius. Memang belum umurnya.

                Yang penting, kalau sudah pacaran harus tetap jaga keseimbangan dengan hubungan diri dengan yang lain. Dengan Tuhan, dengan keluarga, dengan teman-teman yang lain, dengan sekolah, dengan kerjaan, dan hubungan lainnya.

                Setelah menulis dua paragraf di atas, saya menyadari betapa “timur”nya saya. Karena memang sebenarnya, pacaran itu seringkali hanya untuk bersenang-senang bagi orang barat dan orang manapun setelah era globalisasi ini. Ketika serius, maka semuanya akan menjadi terasa lebih berat. Anak kecil tidak pernah mau tanggung jawab yang berat. Jadi, ya, yang pacaran hanya untuk senang-senang itu anak kecil.

Jangan jadi excuse ya untuk yang ga laku, ga laku ya introspeksi diri ajalah.

June 14, 2012

Lombok, we're in love


                Ini bukan sebuah cerita yang isinya cinta lokasi atau cinta-cintaan anak remaja. Ini soal kami, manusia ciptaan Tuhan yang direncanakan satu angkatan bersama dan bersama-sama juga jalan-jalan ke Lombok. Bukan di pulau Lombok kami baru menemukan kasih akan satu sama lain. Hanya saja, di pulau ini kami lebih menemukan kebersamaan dan kasih lebih dari biasanya di kota Jakarta.
                Mungkin candaan kami tidak berbeda dari yang biasa, mungkin kebiasaan kami semua masih sama seperti waktu di Jakarta, tetapi yang kami bawa pulang banyak sekali. Ini juga bukan soal oleh-oleh barang, tapi bekal baru dipikiran kami semua. Kedekatan kami semakin dekat, candaan kami berubah dan makin lucu, serta banyak hal lainnya yang mungkin kecil tapi sudah berubah.
                Ini hanya beda lokasi. Dengan orang yang sama, dengan perilaku yang sama. Ah, saya sendiri tidak pernah pikir kenapa pulau Lombok yang akhirnya terpilih untuk jalan-jalan kali ini. Tapi, anugerah Tuhan tak usah lagi ditanya. Kita tugasnya hanya menikmati.

June 9, 2012

Tak Ada Rasa Sakit

Jadi begini, karena ini puisi yang sangat-sangat disukai dan dianggap bagus oleh pacar tercinta saya mau tempel di blog ini. 


Waktu aku sayang kamu.. aku tak mau lepas kamu.. waktu itu kita masih muda.. masih penuh dengan tawa canda.. senyuman polos tak bermakna.. tapi penuh dengan warna.. masa yang penuh cerita.. tak ada gundah gulana.. perih di hati hilang rasanya.. banyak teman-teman main.. apapun jadi tak usah pusing.. aku mencintai mereka.. tapi terlebih aku mengasihi kamu.. 

Pacaran dengan Stevani Widjaja 2




Lombok, we're in love
                Hidup ini lebih enak dijalani kalau terbagi-bagi per tri-semester, bukan semester. Hell, kalau pemerintah sekarang mengganti sistem sekolah dengan semester, padahal selalu ada mid-semester juga ditengah-tengahnya. Apa pula bedanya?
                Sekarang saya sama Vani sudah di tengah-tengah tri-semester pertama. Yah, baru sebentar saja kami melihat satu sama lain. Kesebentaran yang kami jalani ini rasa-rasanya akan menjadi lama nantinya. Peduli amat kalau orang bilang kami masih SMA dan masih kecil, yang penting kami sekarang sedang berjuang.
                Terlalu cepat memang, harus saya akui, untuk berkomitmen dengan satu orang. Tapi mau bagaimana lagi, ini sudah pilihan hidup yang saya jalani. Kalau saya ingkari, mungkin saya akan terkutuk.
                Dalam dua bulan ini kami sudah saling memberitahu begitu banyak hal. Kebanyakan adalah hal-hal yang sepele. Kata kepala sekolah saya, hal-hal sepele itu bukan hal-hal yang tidak perlu. Itu justru adalah hal-hal kecil yang perlu diperhatikan, karena hal-hal kecil itu nantinya akan membangun satu hal besar. Kesepelean yang seringkali kami bicarakan sedang membangun sebuah hal yang besar bernama relasi.
                Selama ini kami sudah mulai sedikit-sedikit bertengkar kecil soal hal yang sepele. Biasanya saya yang mulai. Saya bukannya perfeksionis juga, hanya saja agak banyak maunya. Sebenarnya beberapa kali bisa dikatakan terlalu banyak.
                Harus saya akui juga, dalam waktu dua bulan lebih ini sudah banyak sekali kemajuan yang kami alami. Dulu pertama sekali kami tidak bisa duduk diam bicara dan bertatap wajah, sekarang lama-lama bisa. Ada beberapa hal lagi yang saya simpan sendiri dan bukan untuk konsumsi publik.
                Kira-kira beginilah setelah dua bulan. Belum terlalu banyak cerita. Kami akan membuatnya terus tiap hari, saya yang akan menulisnya. :) 

April 21, 2012

Cinta di Kaki Wanita


                Menurutmu kenapa Ken Arok jatuh cinta pada Ken Dedes? Karena betis indah. Betis yang kuning langsat itu bercahaya di mata Ken Arok. Betis itu yang berisi dan menggiurkan bagi seorang Ke Arok. Kaki dan betis.
                Tokoh Pangeran di kisah Cinderella. Jatuh cinta dengan seorang perempuan yang muat kakinya dengan sepatu kaca yang ia temukan. Kaki yang muat dengan sepatu itu kaki yang kecil. Lebih kecil dari saudara-saudara tirinya dan ibunya. Kaki mungil yang biasanya lebih disukai. Pangeran itu jatuh cinta dengan kaki dan sepatunya terlebih dahulu. Bukan wanitanya.
                Legenda Danau Toba dan ikan di danau itu. Ketika ikan itu berubah menjadi manusia, si nelayan melihat ikan itu dari bawah ke atas sambil mengaggumi. Apa dulu yang dia lihat? Kaki, tumit, betis, paha. Itu yang lebih dulu dia lihat sebelum wajahnya. Dari kaki baru ke kepala. Seperti surga dia lihat kakinya.
                Kaki-kaki ini. Begitu menggairahkan hidup. Karena betis Ken Dedes, Ken Arok begitu mencintai Ken Dedes dan membunuh suaminya. Karena sepatu kaca yang sangat mungil, seorang Pangeran mengelilingi kotanya sepanjang malam sampai pagi untuk mencari Cinderella. Ia mengetuk pintu satu per satu seperti seorang salesman, sungguh malu.
                Benar saja orang bilang surga di telapak kaki ibu. Telapak kaki yang penuh cinta.                

April 6, 2012

Pacaran dengan Stevani Widjaja

                Baiklah, aku mengaku salah.
 Kalau ada yang ingat dan ada yang pernah membaca post saya mengenai ulang tahun Stevani Widjaja yang ke-17, ada pernyataan yang saya akui saya salah. Di paragraf ketiga, saya tulis begini:  Nah, Vani ini cukup cantik. Karena kalau cantik sekali, pasti cerita di sini akan jauh berbeda. Ternyata ceritanya tidak beda-beda amat.
                Akhirnya di bulan Maret kami memutuskan untuk saling mendampingi. Maksudnya belum menikah, kalian juga pasti tahu maksudnya apa. Walaupun memang pacaran, harusnya, ujung-ujungnya menikah. Tapi, mari tidak bicarakan itu, masih lama juga kok.
                Waktu hal ini terjadi, saya, teman sebangku saya, teman sekelas, teman-teman dekat saya, semuanya heran. Saya ini bisa dibilang cukup kacau dulu hidupnya waktu SMP, saya sudah berpacaran kira-kira 4 kali. Dan yang membuat mereka heran adalah betapa bertolak belakangnya sifat pacar saya dibandingkan dengan yang dulu-dulu. “Bertolak belakangnya itu ekstrem”, kata salah satu teman saya yang perempuan. Semenjak pacaran saya sering bilang begini ke Vani, kamu itu kucing, pacar-pacarku yang dulu itu singa semua. Setelah mengatakan itu biasanya saya tertawa dan dia hanya bilang apa sih?!
                Perubahan yang ekstrem ini diterima secara wajar oleh teman-teman saya. Mungkin justru karena yang satu ini berbeda. Dia lembut, lambat, tapi tetap bertenaga. Ya kira-kira memang seperti kucing. Bukan yang liar, tetapi kucing rumahan macam kucing anggora dan yang mirip-mirip itu juga. Lebih kerennya lagi adalah kucing yang ini tidak mempunyai cakar. Kalau ada yang pernah nonton film Puss In Boots, dia adalah tokoh kucing perempuan yang tidak punya cakar melainkan tangan dengan jari-jari yang amat lembut. Saya mengatakan Vani mirip seperti itu karena katanya Vani, dia tidak bisa marah dan lagi dengan amat lembut dia mencuri hati saya sampai saya sendiri tidak sadar sudah tercuri (Ya, saya tahu ini gombal, but this is my universe and my rules applies here).
Nah, mari saya ajak lari ke tempat lain yang jauh hubungannya dengan kucing-kucingan. Ada satu hal yang membuat saya merasa, atau memang, sangat spesial. Saya, yang sudah pernah pacaran 4 kali, adalah pacar pertama dari perempuan satu ini! Entah senang atau apa, saya belum pernah punya pengalaman ini. Mungkin pernah sih dulu ketika saya pacaran dengan seorang bule dan saya adalah pacarnya yang orang Asia pertama kali. Rasanya jadi beken gimanaaa gitu.
Tidak hanya saya yang spesial. Ternyata dia juga spesial buat saya. Diluar dari sifatnya yang beda sekali dengan perempuan-perempuan yang adalah mantan saya, dia adalah orang yang tepat janji. Sebagai orang yang, ya bisa dibilang lumayan, sering menepati janji dan bertemu dengan seorang yang juga tepat janji terus, jadi saya sangat senang. Apalagi, kalau janjinya menguntungkan, saya makin senang.
Intinya adalah, kami berdua saling beruntung. Saya beruntung memiliki dia dan dia beruntung memiliki saya. Saya tidak mau sesumbar untuk tidak akan putus dengan dia. Tapi saya juga bukan orang bodoh yang hanya bisa bilang Let it flow and let us follow. Saya bilangnya, yang penting berjuang apapun yang terjadi jangan sampai hal bodoh memutuskan kami berdua. Jangan coba-coba tanya saya hal yang bodoh itu yang macam apa. Saya juga ga tau. Soalnya semua alasan  putus itu biasanya emang bodoh.
                

April 2, 2012

Indonesiaku Kacau

                “Indonesia kacau” begitu kata banyak orang. Saya orang yang juga bilang itu. Saya ini orang Indonesia, saya belajar mengenai Indonesia, saya cinta negara ini. Dan saya masih bilang itu.
                Biasanya, kalau sudah cinta, apapun yang kacau pasti akan ditutup-tutupi dengan hal yang bagus agar masih terlihat, atau terdengar, atau terasa bagus. Tapi itu justru cinta yang tidak jujur. Kristus mati di atas kayu salib menunjukkan dua hal yang sangat jelas kepada manusia, yaitu manusia adalah makhluk yang sangat berdosa, tetapi juga makhluk yang paling dikasihi Allah di seluruh alam semesta ini.
                Kita semua, orang Indonesia, tahu betapa kacaunya Indonesia. Tidak bisa dipungkiri lagi. Seluruh dunia sudah tahu. Mulai dari hal yang sepele, macam sepakbola dan PSSI, sampai kepada Presidennya.
                Memang, Indonesia bukan satu-satunya negara yang kacau. Masih ada banyak negara yang kacau, kok. Bahkan Amerika Serikat sekalipun.
                Pernah suatu kali, saya dan ayah saya memperdebatkan mengenai sesuatu. Kami sedang dalam obrolan makan malam dan saya bertanya, “kalau bisa pilih, papa mau tinggal di negara apa?”. Pertanyaan ini ternyata menyulut percakapan yang panjang sekali. Kami membicarakan kondisi banyak sekali negara. Ayah saya selalu membela-belakan ingin tinggal di Swiss dengan alasan itu negara di mana Johanes Calvin berkarya dalam reformasi, dan di sana tempat menyimpan uang paling aman, sampai hari ini.
                Dari percakapan kami yang panjang itu saya menarik satu kesimpulan, yaitu tidak ada negara yang benar-benar ideal. Semua negara punya masalahnya masing-masing. Ada yang berat, ada yang ringan.
                Mungkin banyak dari kita yang juga pernah memikirkan hal yang seperti saya pikirkan. Tapi lebih baik kita tidak memikirkan itu. Kita lahir di negara ini, berarti ada maksudnya. Indonesia hari ini kacau juga ada maksudnya. Apa maksudnya? Silakan cari sendiri sesuai dengan bakat dan talenta yang sudah diberikan Tuhan padamu. Dengan itu, mari kita sama-sama mengerjakan bangsa dan negara Indonesia ini agar menjai tidak kacau, atau setidaknya tidak korupsi lah.
                Jadi, tiap kali kita bilang “Indonesia Kacau!” Kita harus sadar satu hal, berarti perkerjaan kita untuk Indonesia belum cukup keras dan belum selesai.

February 28, 2012

Take and give: Menunggu

                Selama proses take and give, ada satu proses yang paling tidak mengenakan kita semua, menunggu. Itu sangat sakit, repot, dan sedih ujungnya. Waktunya pun kita tidak tahu berapa lama. Semua itu tergantung bagaimana kita dan bagaimana perjalaan kita. Setiap kali mulai mendekati seseorang, sudah pasti proses ini terjadi. Dan tidak hanya sekali terjadi, bisa beberapa kali dalam kejadian yang berbeda-beda. Saya sendiri selalu tidak sabar dengan ini.
                Ya, satu-satunya kunci untuk melewati proses ini adalah kesabaran. Karena, butuh waktu yang cukup lama untuk meyakinkan orang yang kamu suka, dan sebenarnya kamu sendiri, kalau memang ini benar-benar cinta dan bukan main-main. Yang pasti, jangan coba main-main dengan cinta.
                 Karena harus serius dalam memikirkan ini, jadi kita harus benar-benar meyakinkan diri kita kalau ini sudah benar-benar murni cinta. Menunggu adalah salah satu pembuktian cinta paling kuat. Waktu adalah penguji terkuat dan terkejam di seluruh alam semesta ini. Masalahnya, waktu tetap ada dan terus berjalan, jadi kita tidak habis-habisnya terus diuji setiap harinya.
                Selama masih masa PDKT ini, banyak penelitian-penelitian yang kamu lakukan terhadap yang kamu suka. Kamu jadi ingin tahu banyak hal mengenai dirinya. Kamu akan bertanya-tanya “dia sudah pernah pacaran belum?” atau “dia suka warna apa?” dan hal-hal lainnya yang kelihatannya sepele. Sadar tidak sadar, setiap pembicaraan dengan orang yang kamu suka, kamu sedang mengumpulkan data-data penelitian itu.
                Tentu pengumpulan data-data itu tidak semudah yang dipikirkan. Pada saat inilah, biasanya mulai terguncang. Kamu mulai menemukan keanehan-keanehan dalam dirinya. Masa penungguanmu sudah mulai bergejolak.
                Di saat-saat terakhir ketika kamu akan menyatakan cintamu kepadanya, ternyata kamu baru tau dia tidak diperbolehkan pacaran dulu dengan orang tuanya. Dor! Habislah kamu saat itu juga. Penuh dengan dilema “apa yang harus saya lakukan setelah ini?” Saat itu juga masa penungguanmu sedang teruji.
                Maka itu, tips lain dari proses ini adalah jangan terlalu banyak berharap dan jangan yakin terlalu cepat. Tuhan sudah menyediakan waktu untuk berpikir, pakailah baik-baik. Kalau ternyata memang tidak cinta, ya sudah apa boleh buat?
                Kalau kamu sudah melewati tahap penungguan ini dengan berhasil dan sukses, maka kamu pasti akan bisa masuk ke tahap berikutnya yang lebih sulit lagi. Karena, take and give itu sebenarnya mulai waktu kamu sudah pacaran. Ini hanya bagian menuju ke sana.

February 12, 2012

Prinsip dasar: Take and Give

                Sudah lama tidak cerita-cerita mengenai cinta-cintaan. Saya sebenarnya jarang bingung karena tidak ada ide untuk menulis, yang terjadi adalah kebanyakan ide. Tiap kali saya sedang menulis  sesuatu dari ide A, ditengah-tengah menulis saya tercegat oleh ide-ide lain yang berkecamuk di pikiran saya. Maka itu, agak susah bikin artikel lama-lama.
                Langsung saja kita bahas topiknya kali ini. Jadi begini, saya ini orangnya akan langsung bawel ketika saya berbicara dengan seorang perempuan dan akan langsung cerita banyak. Perempuan yang akan saya ceritakan di sini adalah seorang perempuan lucu dan imut yang sangat mengaggumi saya. Dia sangat suka cara pandang saya yang di luar pengamatan kualitatif orang mengenai pacaran dan wanita. Dia bahkan menyebut-nyebut saya sebagai ‘Guru Cinta’ atau semacam itu. Saya sih biasa saja, soalnya saya dulu juga pernah menyebut seseorang dengan panggilan itu, mungkin saya kena karma sekarang.
                Saya dan perempuan centil itu sedang ngobrol  lewat BBM. Tiba-tiba kami sampai pada pembicaraan mengenai prinsip dasar pacaran. Setelah sekian lama membicarakan mengenai trik-trik ajaib saya untuk mendekati perempuan, kami baru membiacarakan prinsip dasarnya waktu itu. Konyolnya, saya seperti sedang memberikan ceramah singkat melalui BBM. Lebih lucu lagi, dia lebih tua dari saya persis satu tahun, ulang tahun kami jatuh pada bulan yang sama. Si muda sedang mengajari si tua. Dan beginilah isinya..
                Prinsip dasar saya waktu pacaran adalah ‘take and give’.  Maksudnya adalah saya mengambil hatimu dan setelah itu saya memberikanmu hatiku. Teorinya gampang memang, tetapi kalau kita coba agak susah. Prinsip ini yang akan menentukan apakah pasanganmu itu benar-benar yang selama ini kamu cari-cari. Kalau ‘take and give’ berhasil seimbang berarti suatu hubungan yang benar sudah terjadi, dan ini jarang. Jadi jangan main-main.
                Maksud saya dengan seimbang adalah ketika kamu mengambil hatinya, dia memberikannya dengan rela, dan ketika itu juga kamu sudah siap memberikan hatimu untuk dia ambil. Ini baru namanya seimbang. Untuk itu semua ada banyak persiapan. Kamu harus buat dia takjub dulu denganmu supaya dia rela memberikan hatinya untuk kamu ambil. Tidak perlu melakukan hal-hal keren. Ibu kepala sekolah saya selalu berkata ‘mulai dari yang sederhana’. Perempuan itu takjub kalau laki-lakinya rajin, pintar, pengetahuan luas, humoris, rapih, dan juga bersih. Kalau laki-laki akan takjub melihat perempuan yang nyambung diajak bicara, keibuan, tidak cerewet, dan asik. Hal-hal seperti itu seebenarnya tidak bisa dibuat umum, orang punya penilaian masing-masing, namun supaya pembaca ada gambaran saja.
                Nah, kalau satu sama lain sudah sama takjubnya, tinggal ditambah kasih sayang yang lebih dan sisanya adalah reaksi kimia.
                Ini adalah prinsip dasarnya, tips dan trik lebih advandced untuk berusaha mengambil hatinya dengan lebut dan melepas hatimu dengan rela, akan ada terus menerus di post-post berikutnya. Tunggu saja, cepet kok serial yang ini, ga makan waktu seumur hidup. J

October 29, 2011

Marriage. Hard to let go.


When I got home that night as my wife served dinner, I held her hand and said, I’ve got 



something to tell you. She sat down and ate quietly. Again I observed the hurt in her eyes..

Suddenly I didn’t know how to open my mouth. But I had to let her know what I was thinking. I 

want a divorce. I raised the topic calmly. She didn’t seem to be annoyed by my words, instead 

she asked me softly, why?

I avoided her question. This made her angry. She threw away the chopsticks and shouted at me, 

you are not a man! That night, we didn’t talk to each other. She was weeping. I knew she wanted 

to find out what had happened to our marriage. But I could hardly give her a satisfactory answer; 

she had lost my heart to Jane. I didn’t love her anymore. I just pitied her!

With a deep sense of guilt, I drafted a divorce agreement which stated that she could own our 

house, our car, and 30% stake of my company. She glanced at it and then tore it into pieces. 

The woman who had spent ten years of her life with me had become a stranger. I felt sorry for 

her wasted time, resources and energy but I could not take back what I had said for I loved Jane 

so dearly. Finally she cried loudly in front of me, which was what I had expected to see. To me 

her cry was actually a kind of release. The idea of divorce which had obsessed me for several 

weeks seemed to be firmer and clearer now.

The next day, I came back home very late and found her writing something at the table. I didn’t 

have supper but went straight to sleep and fell asleep very fast because I was tired after an 

eventful day with Jane. When I woke up, she was still there at the table writing. I just did not care 

so I turned over and was asleep again.

In the morning she presented her divorce conditions: she didn’t want anything from me, but 

needed a month’s notice before the divorce. She requested that in that one month we both 

struggle to live as normal a life as possible. Her reasons were simple: our son had his exams in 

a month’s time and she didn’t want to disrupt him with our broken marriage.

This was agreeable to me. But she had something more, she asked me to recall how I had 

carried her into out bridal room on our wedding day. She requested that every day for the 

month’s duration I carry her out of our bedroom to the front door ever morning. I thought she was 

going crazy. Just to make our last days together bearable I accepted her odd request.

I told Jane about my wife’s divorce conditions. . She laughed loudly and thought it was absurd. 

No matter what tricks she applies, she has to face the divorce, she said scornfully.

My wife and I hadn’t had any body contact since my divorce intention was explicitly expressed. 

So when I carried her out on the first day, we both appeared clumsy. Our son clapped behind us, 

daddy is holding mommy in his arms. His words brought me a sense of pain. From the bedroom 

to the sitting room, then to the door, I walked over ten meters with her in my arms. She closed 

her eyes and said softly; don’t tell our son about the divorce. I nodded, feeling somewhat upset. I 

put her down outside the door. She went to wait for the bus to work. I drove alone to the office.

On the second day, both of us acted much more easily. She leaned on my chest. I could smell 

the fragrance of her blouse. I realized that I hadn’t looked at this woman carefully for a long time. I 

realized she was not young any more. There were fine wrinkles on her face, her hair was 

graying! Our marriage had taken its toll on her. For a minute I wondered what I had done to her.

On the fourth day, when I lifted her up, I felt a sense of intimacy returning. This was the woman 

who had given ten years of her life to me. On the fifth and sixth day, I realized that our sense of 

intimacy was growing again. I didn’t tell Jane about this. It became easier to carry her as the 

month slipped by. Perhaps the everyday workout made me stronger.

She was choosing what to wear one morning. She tried on quite a few dresses but could not find 

a suitable one. Then she sighed, all my dresses have grown bigger. I suddenly realized that she 

had grown so thin, that was the reason why I could carry her more easily.

Suddenly it hit me… she had buried so much pain and bitterness in her heart. Subconsciously I 

reached out and touched her head.

Our son came in at the moment and said, Dad, it’s time to carry mom out. To him, seeing his 

father carrying his mother out had become an essential part of his life. My wife gestured to our 

son to come closer and hugged him tightly. I turned my face away because I was afraid I might 

change my mind at this last minute. I then held her in my arms, walking from the bedroom, 

through the sitting room, to the hallway. Her hand surrounded my neck softly and naturally. I held 

her body tightly; it was just like our wedding day.

But her much lighter weight made me sad. On the last day, when I held her in my arms I could 

hardly move a step. Our son had gone to school. I held her tightly and said, I hadn’t noticed that 

our life lacked intimacy. I drove to office…. jumped out of the car swiftly without locking the door. 

I was afraid any delay would make me change my mind…I walked upstairs. Jane opened the 

door and I said to her, Sorry, Jane, I do not want the divorce anymore.

She looked at me, astonished, and then touched my forehead. Do you have a fever? She said. I 

moved her hand off my head. Sorry, Jane, I said, I won’t divorce. My marriage life was boring 

probably because she and I didn’t value the details of our lives, not because we didn’t love each 

other anymore. Now I realize that since I carried her into my home on our wedding day I am 

supposed to hold her until death do us apart. Jane seemed to suddenly wake up. She gave me 

a loud slap and then slammed the door and burst into tears. I walked downstairs and drove 

away. At the floral shop on the way, I ordered a bouquet of flowers for my wife. The salesgirl 

asked me what to write on the card. I smiled and wrote, I’ll carry you out every morning until 

death do us apart.

That evening I arrived home, flowers in my hands, a smile on my face, I run up stairs, only to find 

my wife in the bed - dead. My wife had been fighting CANCER for months and I was so busy 

with Jane to even notice. She knew that she would die soon and she wanted to save me from 

the whatever negative reaction from our son, in case we push through with the divorce.
— At least, in the eyes of our son — I’m a loving husband...

The small details of your lives are what really matter in a relationship. It is not the mansion, the 

car, property, the money in the bank. These create an environment conducive for happiness but 

cannot give happiness in themselves.

So find time to be your spouse’s friend and do those little things for each other that build 

intimacy. Do have a real happy marriage!

If you don’t share this, nothing will happen to you.

If you do, you just might save a marriage. Many of life’s failures are people who did not realize 

how close they were to success when they gave up.. 

October 1, 2011

I am against abortion!

Hi, Mommy.

I'm your baby. You don't know me yet, I'm only a few weeks old. You're going to find out about me soon, though, I promise. Let me tell you some things about me. My name is John, and I've got beautiful brown eyes and black hair. Well, I don't have it yet, but I will when I'm born. I'm going to be your only child, and you'll call me your one and only. I'm going to grow up without a daddy mostly, but we have each other. We'll help each other, and love each other. I want to be a doctor when I grow up.

You found out about me today, Mommy! You were so excited, you couldn't wait to tell everyone. All you could do all day was smile, and life was perfect. You have a beautiful smile, Mommy. It will be the first face I will see in my life, and it will be the best thing I see in my life. I know it already. ... Today was the day you told Daddy. You were so excited to tell him about me! ...He wasn't happy, Mommy. He kind of got angry. I don't think that you noticed, but he did. He started to talk about something called wedlock, and money, and bills, and stuff I don't think I understand yet. You were still happy, though, so it was okay. Then he did something scary, Mommy. He hit you. I could feel you fall backward, and your hands flying up to protect me. I was okay... but I was very sad for you. You were crying then, Mommy. That's a sound I don't like. It doesn't make me feel good. It made me cry, too. He said sorry after, and he hugged you again. You forgave him, Mommy, but I'm not sure if I do. It wasn't right. You say he loves you... why would he hurt you? I don't like it, Mommy.
... ... ... ... ...
Finally, you can see me! Your stomach is a little bit bigger, and you're so proud of me! You went out with your mommy to buy new clothes, and you were so so so happy. You sing to me, too. You have the most beautiful voice in the whole wide world. When you sing is when I'm happiest. And you talk to me, and I feel safe. So safe. You just wait and see, Mommy. When I am born I will be perfect just for you. I will make you proud, and I will love you with all of my heart.

I can move my hands and feet now, Mommy. I do it because you put your hands on your belly to feel me, and I giggle. You giggle, too. I love you, Mommy.

Daddy came to see you today, Mommy. I got really scared. He was acting funny and he wasn't talking right. He said he didn't want you. I don't know why, but that's what he said. And he hit you again. I got angry, Mommy. When I grow up I promise I won't let you get hurt! I promise to protect you. Daddy is bad. I don't care if you think that he is a good person, I think he's bad. But he hit you, and he said he didn't want us. He doesn't like me. Why doesn't he like me, Mommy?

You didn't talk to me tonight, Mommy. Is everything okay?

It's been three days since you saw Daddy. You haven't talked to me or touched me or anything since that. Don't you still love me, Mommy? I still love you. I think you feel sad. The only time I feel you is when you sleep. You sleep funny, kind of curled up on your side. And you hug me with your arms, and I feel safe and warm again. Why don't you do that when you're awake, any more?

I'm 21 weeks old today, Mommy. Aren't you proud of me? We're going somewhere today, and it's somewhere new. I'm excited. It looks like a hospital, too. I want to be a doctor when I grow up, Mommy. Did I tell you that? I hope you're as excited as I am. I can't wait.

...Mommy, I'm getting scared. Your heart is still beating, but I don't know what you are thinking. The doctor is talking to you. I think something's going to happen soon. I'm really, really, really scared, Mommy. Please tell me you love me. Then I will feel safe again. I love you!

Mommy, what are they doing to me!? It hurts! Please make them stop! It feels bad! Please, Mommy, please please help me! Make them stop!

Don't worry Mommy, I'm safe. I'm in heaven with the angels now. They told me what you did, and they said it's called an abortion.

Why, Mommy? Why did you do it? Don't you love me any more? Why did you get rid of me? I'm really, really, really sorry if I did something wrong, Mommy. I love you, Mommy! I love you with all of my heart. Why don't you love me? What did I do to deserve what they did to me? I want to live, Mommy! Please! It really, really hurts to see you not care about me, and not talk to me. Didn't I love you enough? Please say you'll keep me, Mommy! I want to live smile and watch the clouds and see your face and grow up and be a doctor. I don't want to be here, I want you to love me again! I'm really really really sorry if I did something wrong. I love you!

I love you, Mommy.

Every abortion is just…

One more heart that was stopped.

Two more eyes that will never see.

Two more hands that will never touch.

Two more legs that will never run.

One more mouth that will never speak.

If you’re against abortion, repost

August 21, 2011

Mengerti sebelum mencinta

                Senang, bahagia, seolah seperti mendapatkan segala sesuatu yang kita butuhkan di dunia yang susah ini. Kita merasa sudah ada di awang-awang. Semangat hidup meningkat drastis dan makin rajin mengerjakan segala sesuatu. Makin rapih dalam berpakaian dan juga menata barang-barang milik pribadi. Suasan hati berubah menjadi makin baik terus-menerus secara bertahap. Dan lama-lama seperti orang gila yang bisa senyum dan tertawa sendiri kalau imajinasi sudah tidak bisa dikontrol. Sedang jatuh cinta, katanya.
                Selalu indah rasanya. Manis. Tidak pernah sekalipun pahit. Menyenangkan. Bagaimana tidak? Kita baru saja bertemu dengan seorang yang sangat perhatian kepada kita, sangat baik, dan penuh cinta kasih. ‘Dia mengerti saya dan saya mengerti dia, itu yang paling membuat saya makin cinta dia’ itu kata teman yang menempuh jenjang SMP bersama-sama dengan saya selama 3 tahun. Saya tentu saja setuju dengan pernyataan teman saya tersebut. Tidak banyak orang yang benar-benar bisa mengerti perasaan kita, bahkan terkadang orangtua kita pun bisa salah, bahkan lebih parahnya lagi kita sendiri terkadang tidak mengerti apa maunya kita sendiri. Dan alangkah senangnya ketika kita bertemu dengan seseorang yang bisa mengerti perasaan kita yang seringkali aneh. Lebih senang lagi kalau kita juga bisa mengerti perasaan orang itu. Jadi, ini bukan hanya kita yang menuntut untuk bisa dimengerti, tetapi kita juga menuntut diri kita sendiri untuk bisa mengerti orang yang kita sedang jatuh cinta kepadanya. Pertemuan seperti inilah yang akan membuat kedua orang yang bersangkutan bisa saling jatuh cinta. Proses timbal balik itulah yang akan menjaga keterikatan mereka. Keterbukaan diri dari masing-masing pihak memungkinkan ini semua untuk terjadi.
                Masalahnya, pertemuan seperti ini jarang-jarang terjadi. Karena, banyak orang jatuh cinta dengan alasan yang salah. Banyak dari mereka yang jatuh cinta karena uang, mereka bukan jatuh cinta kepada orang yang mempunyai uang itu, tetapi mereka jatuh cinta kepada uang yang dimiliki orang itu. Ada juga yang jatuh cinta karena popularitas, mereka jatuh cinta terhadap orang yang beken disekolah itu atau orang yang paling dikenal di suatu wilayah tertentu, kalau kita bisa pacaran dengan orang itu kita juga bisa ikut terkenal.  Sepertinya kasus-kasus yang tadi adalah kasus yang terlalu parah. Bagaimana dengan kasus yang ringan-ringan? Kenapa bisa ada kata ‘putus’ dalam berpacaran, padahal sewaktu bertemu pertama kali rasanya seperti bertemu surga, tetapi kenapa diakhiri dengan neraka yang begitu panas?
                Pertanyaan itu saya jawab begini, itu karena kamu menuntut tetapi kamu tidak mau dituntut balik. Kamu seringkali menuntut pacarmu untuk mengerti dirimu, tetapi kamu tidak pernah mau mengerti apa yang terjadi dengan perasaan pacarmu. Atau, kamu sudah berusaha untuk mengerti pasanganmu tetapi dia tidak mau membuka diri dan merahasiakan apa yang terjadi dengan dirinya, kalau sudah begini pasti kacau kebelakangnya.
                Saya tidak akan bercerita panjang-panjang layaknya seorang ahli percintaan. Tetapi, saya hanya ingin memberitahukan saja, kalau jatuh cinta itu butuh satu sikap saling mengerti. Sikap ini baru satu dari banyak hal lainnya. Tidak gampang untuk mengerti seseorang. Kamu harus punya segudang pengetahuan mengenai orang itu terlebih dahulu untuk mengerti dirinya. Dan pesan saya sekali lagi akan saya kumandangkan, pacaran itu tidak mudah, maka hati-hati pilih pacar, hati-hati berpacaran. Karena kalau cintanya terlalu tinggi, nanti jatuhnya sakit. Namanya juga jatuh cinta.

August 19, 2011

Hati-hati sakit hati..!!

                Sakit hati itu sangat sakit. Kita hampir tidak bisa mengerjakan apapun karenanya. Lebih sakit dari pada sakit gigi, lebih mematikan dari pada sakit kanker, lebih menusuk dari pada panah. Sakit hati bisa membawamu ke pengealaman yang lebih mengerikan dari pada vonis HIV, rasanya seperti mencicipi setengah rasanya neraka. Seolah-olah tidak ada lagi orang yang bisa kamu peluk saat itu. Kehadiran seorang teman tetap tidak akan membuatmu bahagia saat itu, kecuali si ‘dia’ kembali kepada hangat pelukmu. Napasmu akan terasa memberat, jantung berdegup kencang, dan kepala pusing. Matamu akan sembab karena tangisan. Suaramu akan serak. Badanmu akan kaku seluruhnya. Tidak bisa berpikir menggunakan akal sehat.
                Dugaan-dugaan tidak masuk akal mulai muncul. Pikiran-pikiran jahat mengalir didalam otakmu. Keinginan dan hasrat untuk mencabut nyawa membesar. Atau bahkan lebih kacau lagi, kamu ingin mencabut nyawa orang yang menyakiti hatimu. Kamu akan memporak-porandakan sekitarmu untuk menutupi kenyataan bahwa kamu sedang sakit hati. Melampiaskan semua kemarahan pada teman-temanmu atau seisi rumahmu. Sedih sendiri.
                Inilah sakit hati. Ini akibat dari berpacaran. Akibat mempercayai orang yang ternyata tidak bisa dipercaya. Saya tidak bilang jangan berpacaran, saya tidak menakut-nakuti kalian mengenai mempercayai orang. Saya hanya mempersiapkan kalian, supaya nanti ketika kalian sakit hati, kalian siap menghadapinya dan tidak melakukan hal-hal bodoh. Agar kalian sadar, bahwa masih banyak hal yang masih bisa dilakukan setelah itu. Masih banyak orang yang mau menjadi pacarmu. Pendeta saya sekali waktu berkata ‘Kalau patah hati jangan gila.. tetapi lagi’.
                Siapkah kamu menghadapi hal ini? Punya nyalikah kamu? Inilah dunia yang pahit. Dunia menawarkan cinta dan kepercayaan, tetapi seiring berjalannya waktu kamu akan bisa membedakan mana yang bisa dipercaya mana yang tidak, walaupun harus dengan cara sakit hati.
                Saran saya, sakit hati jangan disimpan. Teman baik saya pernah berkata ‘Mendingan lu tonjok muka itu orang trus lu minta maaf, daripada kesel disimpen di hati’. Tetapi, menurut saya lebih baik, hatik-hati percaya orang, hati-hati pilih pacar, jadi lebih tenang. Mencegah itu lebih baik dari pada mengobati, apalagi urusan sakit hati. Pahit! 

August 18, 2011

Berelasi Itu Sulit..!!


                     Pacaran itu susah lho! Asli, sumpah, beneran! Kalo kamu adalah orang yang belum pernah pacaran kamu harus tau dulu, pacaran itu susah. Memang sih, tidak bisa disangkal kalau pacaran memang indah, menyenangkan, dan manis. Tetapi, dibalik semua itu ada tuntutan dari kedua pihak untuk saling menuruti keinginan satu sama lain. Sebenarnya, bagi yang laki-laki berubah dari yang tadinya jorok, pakai baju berantakan, dan kliatan jelek pokoknya menjadi rapi-rapi, wangi parfum yang semerbak, rambut jadi dibuat seperti model yang sedang trend adalah respon dari tuntutan sang pacar agar tidak malu-maluin dan ada yang bisa dibanggakan. Setelah tiga bulan berpacaran, mulailah tuntutan-tuntutan itu dienyahkan dan yang laki-laki bisa sedikit kembali kepada habit-nya semula. Tetapi, begitu tuntutan itu tidak dipenuhi, tentu sang pacar akan marah. Lama kemudian setelah marah-marah yang besar, putuslah hubungan itu. Dan putus itu bisa menumpahkan air mata yang mungkin lebih banyak dibandingkan kalau melayat keluarga meninggal. Sakit hati, pikiran penuh, dada terasa sangat sesak karena diputusin pacar. Jadi, bersiaplah untuk menghadapi hal-hal seperti diatas sebelum nekat bermimpi pacaran yang indah, karena sakit hati itu sakit.
                Sebenarnya, bagi saya yang sudah mencicipi manis-pait dunia percintaan, lebih baik ditolak daripada dibuang (red=diputusin). Karena, begitu kamu dibuang kamu biasanya kamu menyesal dan mengatakan ‘lebih baik ditolak aja waktu itu kalau tau begini’. Kalau kamu pernah mengalaminya pasti kamu lebih mengerti perasaan ini.
                Yang saya mau katakan kali ini adalah jangan sembarangan mau pacaran. Jangan sampai kamu pacaran karena liat orang lain atau lihat di film-film kalau mereka pacaran itu terlihat sangat menyenangkan trus kamu mau ikut-ikutan. Atau lebih parahnya lagi kalau kamu pacaran hanya karena teman kamu yang menjodoh-jodohkan kamu. Jangan sampai seperti itu, kamu belum siap nangis nantinya. Bukannya saya mendoakan agar teman-teman sekalian putus dengan pacarnya masing-masing dan membuktikan apa yang saya katakan, tetapi jarang sekali percobaan pertama pacaran berhasil sampai menikah nanti, apalagi kalau kita masih SMP/SMA. Yang paling penting adalah kamu siapkan mental kamu dulu, baru bisa pacaran serius. Dan lagi, kita pacaran harus pacaran yang bener, kalau tidak serius dan model pacaran yang ngumpet-ngumpet dan enggak bener, biasanya nantinya kacau.
                Intinya dari yang kalian sudah baca, pacaran adalah hal yang serius dan berat!-padahal pacaran itu ngapain aja kita belum tau.... :p